Site icon Inspirasi Muslimah

Covid-19; yang Menempa untuk Berubah

covid-19

Sejak Maret 2020 pandemi covid-19 telah banyak merubah kondisi Bangsa Indonesia. Berita tentang kenaikan jumlah pasien positif covid-19, karyawan yang dirumahkan hingga ancaman resesi menghiasi kanal berita baik melalui media konvensional maupun media daring.

Segala aktifitas yang berpotensi menciptakan kerumunan seperti aktifitas belajar mengajar di sekolah pun dihentikan, dampaknya tentu tidak main-main. Para siswa dan mahasiswa belajar di rumah dengan tersambung internet, tempat wisata menjadi sepi, para seniman seperti musisi juga tidak diperbolehkan tampil di panggung seperti biasanya.

Perubahan ini tentu saja menghasilkan apa yang disebut krisis, mulai dari krisis di sektor kesehatan hingga merambat pada sektor ekonomi. Di sektor kesehatan kita sudah tahu bahwa angka penularan virus ini sangat cepat, tenaga medis yang menangani pasien covid-19 kewalahan, bahkan ada yang tertular hingga meninggal dunia. Sedangkan di sektor ekonomi, banyak perusahaan maupun industri yang terpaksa merumahkan karyawannya, sehingga daya beli masyarakat menurun.

Jika pandemi covid-19 telah memunculkan masalah berupa krisis di berbagai sektor, lantas apa pembelajaran positif yang bisa kita dapatkan? Untuk bisa mendapatkan hal positif dari pandemi, tentu kita perlu meluaskan khasanah pemikiran kita dan memandang pandemi covid-19 dari berbagai sudut pandang.

Covid-19: Mengajarkan Kita untuk Berpikir Rasional, Kritis dan Realistis

Virus Corona atau novel coronavirus-2019 telah mengajak siapapun untuk dapat berpikir secara rasional, kritis dan realistis. Secara tidak langsung kita-pun berpikir kenapa penyebaran virus ini bisa begitu cepat hingga beragam hipotesis-pun bertebaran di berbagai media.

Sadar atau tidak, selama pandemi covid-19 berlangsung, perang logika juga terus berjalan terutama di media sosial. Di satu sisi terdapat kelompok orang yang meyakini bahwa masjid adalah rumah Allah sehingga tidak mungkin tertular covid-19. Di sisi lain padahal pemerintah tengah mensosialisasikan agar masyarakat melaksanakan ibadah di rumah.

Dengan adanya hal ini, kita mendapatkan sebuah pembelajaran bahwa dalam berpendapat atau menyampaikan gagasan mutlak membutuhkan landasan pikir yang kuat, tidak hanya berdasarkan pada apa yang diyakini tanpa adanya informasi pembanding.

Dalam sebuah live streaming, Ketua Umum PP Muhammadiyah Prof.Haedar Nashir mengatakan bahwa kita jangan melihat sesuatu dengan pandangan yang hitam-putih saja. Sunatullah saja berwarna-warni, Artinya, kita perlu gunakan nalar, keimanan serta kejernihan hati dalam menyikapi suatu masalah.

Virus ini menyasar tidak memandang dimana manusia berada, tentu saja kita merindukan segala aktifitas ibadah di masjid dari sholat berjamaah hingga pengajian akbar, namun kita juga harus berikhtiar untuk tidak menambah jumlah penularan dengan mematuhi protokol kesehatan yang ada.

Oleh karena itu penerapan protokol kesehatan mulai dari penggunaan masker, jaga jarak dan rajin cuci tangan harus terus dibiasakan. Dengan adanya pandemi, kita ditempa untuk sadar bahwa menjaga kebersihan dan menerapkan protokol kesehatan adalah sesuatu yang sangat penting baik untuk diri sendiri dan orang lain.

Covid-19: Mengajarkan untuk Qanaah (Merasa Cukup) dan Tidak Serakah

Pada awal pandemi banyak orang menimbun masker untuk kemudian dijual dengan harga yang tidak masuk akal. Sebelum pandemi 1 box masker bedah bisa didapatkan seharga kurang dari Rp 40.000, namun saat pandemi ada saja oknum yang menimbun dan  menjualnya dengan harga diatas biasanya, mencapai harga Rp 200.000/box bahkan lebih.

Namun keserakahan ini nyatanya tidak berlangsung lama, apalagi ketika banyak penjahit lokal dan konveksi yang mulai memproduksi masker kain dengan harga yang lebih murah. Akhirnya setelah masker semakin banyak dijual, beberapa penimbun masker mulai kelabakan dan menjual rugi masker yang ditimbunnya. Niat untung malah buntung.

Dari sini kita belajar bahwa keserakahan tidak akan berujung happy ending. Selama pandemi covid-19 justru yang dibutuhkan adalah sikap saling membantu sesama. Bukan hanya mencari keuntungan untuk diri sendiri.

Covid-19: Mengajarkan Kita untuk Kompak

Pandemi covid-19 telah menempa kita semua untuk kompak dalam mematuhi protokol kesehatan yang telah ditentukan oleh pemerintah. Misalnya ketika ada orang yang baru pulang dari zona merah, maka dia wajib melakukan karantina mandiri selama 14 hari. Aturan ini harus dipatuhi oleh siapapun yang baru bepergian.

Kita bisa belajar dari cluster jamaah yang pulang dari Gowa, Sulawesi Selatan. Dimana setelah mereka pulang sana, sebagian diantaranya tidak melaksanakan karantina mandiri, melainkan tetap berbelanja di pasar hingga akhirnya angka positif covid meningkat cukup signifikan dan memunculkan cluster baru.

Pandemi ini seakan memberikan pelajaran bagi kita bahwa sikap egois tidaklah dibenarkan. Kepatuhan akan protokol kesehatan tidak hanya untuk kebaikan diri sendiri, tetapi juga untuk kebaikan orang yang ada di sekitar kita.

Produktif di Rumah

Tagar #dirumahsaja sempat trend saat pandemi. Terlepas dari efektifitas dan beragam masalah yang muncul akibat kebijakan work from home, aktifitas pekerjaan hingga pembelajaran secara daring telah menunjukkan kepada kita bahwa teknologi saat ini semakin berkembang.

Tentu saja penerapan work from home akan memunculkan masalah baru, seperti; sulitnya akses internet dan belum meratanya pemahaman masyarakat akan teknologi dan informasi di seluruh Indonesia.

Namun, momentum ini justru menjadikan kita sadar akan pentingnya menguasai teknologi. mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah, Prof. Din Syamsudin pernah mengatakan bahwa umat Islam tidak boleh tertinggal dalam penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) karena ajaran agama ini tidak pernah bertentangan dengan IPTEK.

Momentum bekerja di rumah tentu saja menempa kita untuk mempelajari dan menguasai teknologi. Bahkan dengan penguasaan teknologi tersebut aktifitas jual beli juga bisa dilaksanakan hanya dari rumah. Bukankah ini merupakan sebuah peluang, sehingga setelah pandemi berakhir kita bisa memiliki sumur penghasilan yang baru.

Pun banyaknya webinar juga menjadi sebuah alternatif bagi siapapun yang ingin menyerap ilmu namun terkendala oleh jarak. Keberadaan webinar ini semakin menunjukkan bahwa kita semua bisa belajar kepada siapapun tanpa harus menghadiri seminar secara langsung.

Meski tidak sedikit masalah yang menyertai kebijakan aktifitas belajar secara daring seperti sulitnya sinyal, setidaknya bangsa Indonesia secara umum telah melakukan lompatan besar dalam urusan literasi digital.

***

Saya menyimpulkan bahwa pandemi covid-19 ini merupakan tonggak perubahan peradaban. Perubahan sendiri terkadang memerlukan proses yang menyakitkan; ibarat besi yang perlu ditempa, dipanasi, dicelupkan ke air lalu ditempa kembali untuk menjadi sebuah keris. Selama Pandemi kita semua ditempa untuk memasuki tatanan peradaban baru. Kebiasaan cuci tangan, jaga jarak hingga menggunakan masker menjadi hal yang wajib ketika berada di luar rumah. (Editor : Ananul)

Bagikan
Exit mobile version