Site icon Inspirasi Muslimah

Cak Dlahom dan Kisah Sufi dari Madura

hilang

bertahan

Menyampaikan kembali apa yang disampaikan oleh seorang ulama, budayawan atau cendekiawan menjadi sebuah cerpen yang sarat akan nilai-nilai, pesan moral, dan ilmu agama merupakan pekerjaan yang tidak mudah. Dibutuhkan imajinasi, amunisi, nalar, dan kreatifitas sehingga menjadi alur kisah yang utuh.

Keempat hal di atas saya pikir telah ada dalam diri Rusdi Mathari. Penulis cum jurnalis di beberapa media arus utama ini terbukti dapat mengeksekusinya dengan sangat presisi. Ia menempatkan tokoh dan penokohan dalam sehimpun cerpennya dengan sangat jelas. Kalau Cak Nun punya Markesot, Rusdi Mathari punya Cak Dlahom-nya sebagai aditokoh dalam semesta “Kisah Sufi dari Madura”.

Cak Dlahom Sosok Sufi yang Sering Membingungkan

Tidak seperti orang-orang kampung pada umumnya, Cak Dlahom adalah sosok yang digambarkan oleh Cak Rusdi (panggilan akrab Rusdi Mathari) sebagai lakon yang tidak waras dan suka membikin gaduh warga kampung atas ulahnya yang seringkali tidak masuk akal. Namun dibalik itu, Cak Dlahom sebenarnya sedang melaksanakan laku layaknya seorang sufi, namun dengan cara yang bisa membikin warga sekampung kelimpungan.

Hal ini dapat kita temui di hampir seluruh bagian kisah pada buku Merasa Pintar Bodoh Saja Tak Punya: Kisah Sufi dari Madura. Seperti pada kisah “Bersedekah pada Nyamuk”. (hal.33)

Usai maghrib, para warga digegerkan dengan kelakuan Cak Dlahom yang bertelanjang bulat sembari telentang di antara dua makam. Ia benar-benar melakukannya tepat di balik tembok tempat imam salat. Dan itulah yang memantik kemarahan warga, tak sedikit pula yang mencacinya. Beruntung, Cak Dlahom tidak sampai kena bogem mentah dari warga.

Cak Dlahom Tidak Hanya Dianggap Gila

Cak Dlahom memang sejak lama dicap oleh warga kampung sebagai orang dengan gangguan kejiwaan atau bahasa awamnya orang gila. Bukan orang gila biasa, namun lebih dari itu: orang gila sesat.

Saat ditanya Mat Piti (kerabat dekat Cak Dlahom) perihal perilaku konyolnya, Cak Dlahom bilang bahwa ia sedang bersedekah pada nyamuk.

“Setahu saya, Cak, Allah menciptakan nyamuk hanya berusia dua hari. Kita bunuh atau tidak nyamuk akan segera mati dalam dua hari.”

“Kamu dan manusia lain juga akan mati, Mat.”

“Betul, Cak, tapi dia merugikan kita. Mengisap darah kita.”

“Kamu sudah tak bisa menciptakan, membunuhnya, kemudian juga menganggapnya pengganggu. Kamu itu masih merasa paling mulia, Mat. Baru digigit nyamuk aja sudah merasa terganggu.” (hal. 35-36)

Dlahom sendiri diambil dari diksi Jawa Timur-an yang berarti ‘agak bodoh’. Cak Rusdi memilih nama ini oleh karena ia ingin seluruh pembacanya dapat merefleksikan dirinya sendiri mengenai pengetahuan manusia atas agama dan Tuhan.

Melalui Cak Dlahom, Rusdi Mathari benar-benar dapat meramu kata per kata, paragraf per paragraf dalam memposisikan Cak Dlahom. Si manusia “gila” penuh dosa dan merasa hina di hadapan Tuhannya itu sebagai orang yang berani mendobrak pakem kebudayaan, nilai, dan tradisi masyarakat.

Keshalehan Pribadi dan Keshalehan Sosial

Cak Dlahom berperan sebagai katalisator bagi masyarakatnya yang masih mementingkan ibadah secara vertikal dan megesampingkan ibadah secara horizontal. Seperti kekesalan Cak Dlahom melihat warga kampung yang lebih memilih untuk merenovasi masjid, ketimbang menyisihkan sebagian hartanya. Harta untuk disumbangkan kepada istri Bunali yang telah lama menjadi janda anak satu, yang tak lagi bersekolah karena tak lagi memiliki biaya. Hidupnya serba susah dan sudah lama sakit-sakitan. Namun tak seorang pun dari warga kampung yang menjenguk istri Bunali, mencari tahu keadaannya. Hingga janda itu mati gantung diri di kusen pintu rumahnya. Sarkum anaknya yatim dan piatu.

“Umat sekarang diajak lebih tergantung pada masjid ketimbang masjid yang bergantung pada umat. Diajak aktif membangun masjid, tapi membiarkan orang-orang seperti istri Bunali terus tak berdaya lalu mati. Diajak rela membangun masjid, tapi membiarkan Sarkum anak Bunali tak bersekolah dan kelaparan. Kita bahkan tidak menjenguknya. Tidak pernah tahu keadaan mereka.” ujar Cak Dlahom pada Pak RT. (hal. 147)

Kisah Cak Dlahom, Membuat Kita Sadar Akan Makna Hidup

Membaca kisah sufi dari Madura yang diperankan oleh sosok Dlahom. Kita akan diajak masuk ke dalam kisah yang sarat akan wawasan dan makna kehidupan yang dibalut dalam bingkai tasawuf dan kehidupan sehari-hari. Selain itu, pembaca pun diajak untuk merenungkan kembali pemahaman mereka atas agama Islam.

Tiga puluh kisah yang dibagi ke dalam dua Ramadhan ini di inspirasi dari kisah-kisah yang disampaikan oleh beberapa sumber. Antara lain Hadits Nabi Saw, Syekh Maulana Hizboel Wathany Ibrahim, Emha Ainun Nadjib, hingga Jalaluddin Rumi. Maka tak heran kalau tulisan berseri selama dua tahun di situs web Mojok.co. Yang kemudian di bukukan telah menyedot perhatian jamaah mojokiyah, yang mencari sepiring inspirasi dan hikmah dalam bulan suci Ramadan.

Bab pertama berjudul, “Benarkah Kamu Merindukan Ramadan?” tersebut menjadi perkenalan awal terhadap tokoh-tokoh utama serial ini. Di antaranya Cak Dlahom, Mat Piti, Romlah, Pak RT, Pak Lurah, serta istri Bunali dan Sarkum anaknya. Sedangkan bab berjudul “Romlah Melahirkan, Nody dan Mat Piti Berwudu” adalah bab terakhir dari serangkaian kisah penyejuk qalbu yang tertuang dalam semesta “Merasa Pintar, Bodoh Saja Tak Punya: Kisah Sufi dari Madura”. (Editor : Jajang)

= = = = = = =

Keterangan Buku

Judul: Merasa Pintar, Bodoh Saja Tak Punya: Kisah Sufi dari Madura

Penulis: Rusdi Mathari

Cetakan: Januari 2019

Penerbit: Buku Mojok

Halaman: xvii + 226 halaman

ISBN: 978-602-1318-40-9

Bagikan
Exit mobile version