Site icon Inspirasi Muslimah

Budaya Menyontek Merusak Moral Anak

menyontek

Saya masih ingat dengan salah satu film yang berjudul Bad Genius. Film itu menceritakan tentang sekelompok remaja di sebuah sekolah di Thailand yang melakukan tindakan tidak terpuji yaitu menyontek pada saat ujian. Sebenarnya tidak hanya sekelompok remaja saja, melainkan hampir seluruh siswa di sekolah tersebut melakukan hal itu. Mereka saling bekerjasama menggunakan berbagai cara untuk melakukan hal itu.

Tindakan ini berawal dari seorang anak bernama Lin yang ingin membantu seorang temannya agar mendapatkan nilai yang bagus sebagai syarat masuk klub drama. Lin memiliki niat yang baik, tetapi tindakan yang dilakukannya justru tidak tepat dan makin menyebar ke kalangan teman-teman lainnya. Makin tersebarnya informasi mengenai tindakan yang dilakukan oleh Lin,makin banyak pula yang ikut melakukan kegiatan sontek-menyontek.

Dalam film tersebut, sosok Lin selalu memberikan cara-cara untuk meng-kode temannya agar dapat memberikan jawaban saat ujian tanpa diketahui oleh guru. Cara yang dilakukannya sangat menarik mulai dari memberikan jawaban lewat penghapus, menggunakan detik pada jam dinding, menukar kertas jawaban, bahkan menggunakan sinyal tangan berdasarkan urutan notasi piano, namun hal itu tidak jadi dilakukan karena sulit untuk menghafalkan notasi piano tersebut,

Aksi tersebut tidak hanya dilakukan saat mereka berada di sekolah. Saat seleksi penerimaan mahasiswa ke perguruan tinggi Amerika Serikat  yang dikenal sebagai SAT (dalam film ini disebut STIC), mereka berusaha memanipulasi sistem tersebut. Mereka menjalankan rencana pembobolan sistem keamanan pengawas ujian internasional STIC.

Kisah film itu terlintas dipikiran saya saat saya sedang memikirkan topik yang akan saya bahas dalam tugas saya. Sebenarnya masalah ini tidak terlalu relevan dengan situasi saat ini, tetapi saya merasa bahwa aksi sontek-menyontek ini masih ada dan masih sering  terjadi di jaman sekarang ini. Aksi sontek-menyontek ini sudah seperti tradisi turun menurun yang tidak bisa hilang dari siswa sekolah walaupun sebenarnya hal ini tidak baik dilakukan.

Menyontek Agar Mendapat Nilai yang Bagus

Sebenarnya, saya sendiri pernah mengalami hal ini saat saya berada di bangku SMA. Awalnya saya merasa sangat aneh dan kaget melihat teman-teman saya melakukan aksi sontek-menyontek itu. Karena dari SD hingga SMP saya bersekolah di sekolah swasta yang pengawasaanya bisa dibilang ketat sehingga tidak dapat terjadi hal-hal seperti itu. Akan tetapi, lama-kelamaan itu menjadi hal yang biasa bagi saya.

Saya masih heran mengapa hal tersebut masih banyak dijumpai. Jawaban yang paling umum jika ditanya apa alasan menyontek adalah karena ingin mendapatkan nilai yang bagus dan menjadi yang terbaik di kelasnya. Ya, alasan umum ini sering kita dengarkan dan mengapa banyak anak yang ingin mendapatkan nilai bagus meskipun cara yang mereka lakukan tidak halal?

Bagaimana tidak, pendidikan di negeri ini masih mementingkan nilai secara akademis dibanding dengan kemampuan lainnya. Padahal kemampuan yang dimiliki seseorang berbeda-beda tidak hanya dapat dilihat sisi akademisnya. Dan jika nilai itu dilihat dari nilai ujian saja, sebenarnya nilai itu dapat dimanipulasi dengan berbagai cara.

Menyontek Karena Tidak Percaya Diri

Alasan selanjutnya mengapa masih banyak orang yang menyontek adalah karena kurangnya rasa percaya diri. Banyak siswa yang membanding-bandingkan hasil ujiannya dengan orang lain. Ketika mereka melihat nilai teman mereka lebih tinggi darinya maka siswa tersebut akan minder dan merasa jawaban yang dia isi saat ujian itu salah.

Soal ujian yang berbeda dengan materi yang dikasih. Ya,itu dapat menjadi salah satu alasan mengapa siswa menyontek. “Duuh, kok soalnya beda si sama yang ada dicatatan”. “Duuh, kok soalnya susah banget sih! Ini kan belum pernah diajarin”. Kalimat itu sering saya dan teman-teman saya ucapkan ketika mendapatkan soal ujian yang menurut saya sulit.

Alasan yang terakhir adalah pasrah. Jika waktu ujian tinggal sedikit dan banyak soal yang belum kita jawab, pastinya kita akan pasrah kan! Akhirnya, dari pada ada soal yang tidak ada jawabannya, lebih baik nanya ke teman kaan? Hahaha

Namun, sebenarnya hal ini dapat merusak moral siswa. Jika siswa sudah sering melakukan aksi menyontek tersebut, berarti dia telah terbiasa melakukan tindakan yang tidak jujur. Padahal di masa ini kejujuran sangat diperlukan. Orang yang tidak jujur akan sulit dipercaya oleh orang lain.

Menyontek Menjadi Tradisi

Rahmania, aksi sontek-menyotek ini akan terus menjadi tradisi di Indonesia jika tidak segera dihentikan. Cara-cara yang dilakukan pun akan semakin beragam. Namun, sebenarnya hal ini tidak boleh dilakukan apapun alasan di baliknya. Jika seseorang sudah terbiasa mencontek, maka ia akan mengandalkan kemampuan orang lain daripada kemampuannya sendiri. Mereka akan menjadi malas belajar, karena mengandalkan temannya itu.

Ia juga akan terbiasa berbohong, baik kepada diri sendiri maupun orang lain. Mereka akan menghalalkan segala cara agar nilai yang mereka bagus. Agar mereka dapat dianggap hebat oleh orang lain.

Bagikan
Exit mobile version