Oleh : Ahmad Amin Sulaiman
Jika ada yang bertanya, film apa yang secara radikal dapat merubah pandangan saya atas kehidupan, saya akan menjawab segera Three Idiots. Film yang dibintangi Aamir Khan ini membuat saya memberanikan diri untuk mengejar passion saya sehingga berganti program studi dan kampus. Betul-betul saya ingat, ketika pulang ke rumah dan menyatakan ke orang tua, “Ayah, teknik sipil bukan duniaku. Mohon maaf. “
Tentunya, Ayah waktu itu marah bukan main. Beliau sudah terlanjur berhutang untuk bayar biaya masuk kuliah di semester satu sebelumnya. Dari uang bangunan, kos satu tahun, dan biaya hidup saya selama enam bulan, semuanya itu. Tapi saya terlanjur bulatkan tekad. Semua sebab scene dramatis itu, scene di mana tokoh Farhan pulang ke rumah dan menyatakan akan mengejar mimpinya menjadi fotografer satwa profesional, dan batal menghadiri interview untuk kerja sebagai engineer.
Saya bergetar, mendengar ucapnya lirih dengan mata berkaca-kaca:
“Ayah, bagaimana jadinya kelak bila gajiku besar, namun aku merasakan kehampaan yang mendalam karena hatiku bukan disini? Aku pasti akan mengenangmu sembari menyesalinya. Sementara, bila aku memilih jalan lain, gajiku mungkin tidak seberapa namun aku bahagia menjalaninya dengan sepenuh hatiku.”
Hingga saat inipun, dialog ini masih membuat saya bergetar ketika menonton Three Idiots untuk kesekian puluh kalinya. Dialog yang membuat saya termenung merefleksikan apa yang betul-betul menjadi passion saya. Tapi barangkali, yang paling penting adalah bahwa kondisi yang dialami Farhan dan saya sendiri juga pernah dan sedang dijalani jutaan anak manusia di muka bumi.
Dalam ilmu psikologi, pilihan karir seharusnya menjadi suatu keputusan yang diambil secara sadar dan penuh pertimbangan oleh seorang individu. Sebabnya, umur karir seseorang akan melampaui umur belajarnya hingga, kalau beruntung, mencapai ujung akhir masa hidupnya. Karir juga menjadi penopang penting bagi kesuksesan kehidupan. Bagaimana kemampuan ekonomi dan moda sosialisasi akan sangat dipengaruhi karir. Untuk itulah, Individu harus betul-betul memahami siapa dia, apa minat dan bakatnya, serta berbagai macam profesi yang tersedia untuk kemudian dia dapat memutuskan.
Orang Tua Ingin Saya Kuliah di ….
Tapi hal seperti di atas sulit terjadi di Indonesia yang kulturnya sangat kolektivis dan industri yang belum sepenuhnya menjunjung nilai meritokrasi. Seperti saya, orang tua sudah menentukan saya akan jadi apa: kalau tidak dokter, ya insinyur, sukur-sukur dengan status PNS. Orang tua lain bahkan mungkin sudah wanti-wanti,”Nanti kamu masuk dibantu Pak Dhe Suroso. Mumpung Pak Dhe masih Kepala Dinas.”
Yang masalah adalah jika terlalu mengikut ke orang tua, baik individu dan lingkungan kehidupan kita juga turut merugi. Individu akan menjadi pribadi yang kurang punya pendirian, mudah terombang-ambing dalam keputusan, tapi ketika mengalami kegagalan, orang lain yang akan disalahkan. Individu ini bisa jadi konformis. Ke mana-mana cari posisi aman, asal ada tempat untuk menyandarkan keputusan, sudah okay.
Pun, industri kita juga tidak untung. Banyak kasus karyawan yang resign padahal baru beberapa hari kerja. Sudah habis sumber daya untuk rekrutmen, ternyata kandidat terpilih tiba-tiba atau di tengah jalan mundur. Alasannya ya itu, mulai dari, “Orang tua ingin saya kerja di sana”, “Disuruh orang tua kuliah lagi”, sampai “Orang tua akhirnya tidak memberi izin untuk kerja di sini.”
Teman saya yang HRD sampai berseloroh, barangkali perlu kita buat surat bermaterai yang ditandatangani orang tua supaya tidak mengintervensi. Nah!
Lain dengan Industri, di kampus, saya banyak menemui mahasiswa yang menggalaukan jurusannya.
“Awalnya saya diminta masuk kedokteran, Pak. Tapi karena gagal, ya sudah masuk Psikologi”. Ini pasti akan ikut tes lagi tahun depan.
“Entahlah Pak, saya bingung masuk mana lagi. Ya sudah masuk Psikologi.” Ini mahasiswa yang memilih kuliah demi menghindari kegabutan gap year di rumah.
“Saya mahasiswa teknik industri, Pak. Izin belajar di kelas Bapak.” Ini mahasiswa pura-pura saja, mungkin ada teman curhatnya di kelas saya.
“Saya stress berat Pak. Masuk Psikologi semoga bikin stress saya hilang.”. Khusus mahasiswa terakhir ini biasanya malah makin stress, karena bukannya kuliah sering ketemu psikolog, dia lebih sering ketemu statistik.
Diskusi-Dialog Anak dan Orang Tua itu Penting
Bagi para orang tua saya berpesan, marilah kita bangun kepribadian anak kita agar menjadi individu yang mampu bertanggungjawab atas dirinya. Individu yang mampu membuat keputusan sendiri dengan pertimbangan yang rasional dan sesuai dengan norma sosial masyarakat.
Caranya bagaimana? Alih-alih mengarahkan, atau memutuskan, tunjukkan mereka pilihan-pilihan dan pertimbangannya. Supaya mereka belajar bahwa segala pilihan memiliki konsekuensi, dan tugas mereka sebetulnya adalah memahami konsekuensi itu.
Juga biasakanlah berdialog dengan anak. Anak perlu membangun kepercayaan diri atas pandangannya sehingga ia berani mengedepankan apa yang menurut mereka benar. Maka, ajak mereka untuk berdiskusi. Biarkan mereka mengeluarkan aspirasi mereka, uneg-uneg mereka. Biarkan mereka betul-betul mengeluarkan ‘suara’ mereka.
Izinkan Anak untuk Bermimpi
Terakhir, izinkan mereka bermimpi. Karena bermimpi adalah hal yang murah untuk dilakukan, meski harga untuk mewujudkan mimpi itu sangat mahal. Izinkan anak menemukan jati diri mereka, karir apa yang akan didalami, berimajinasi seperti apa mereka kelak, dan bagaimana dunia ini akan mereka ubah menjadi tempat yang lebih baik.
Sure, saya paham, hal ini sangat sulit dilakukan. Kita sendiri produk dari pilihan-pilihan turunan yang mungkin sulit untuk membayangkan. Tapi percayalah satu hal: anak kita tidak akan hidup di zaman kita dengan tantangan yang sama yang kita rasakan hari ini. Mereka akan hidup di zamannya, dengan tantangannya pula. Gak percaya? Sekarang buah manggis ada ekstraknya loh.
*) Ahmad Amin Sulaiman adalah dosen di Kampus Kehidupan
