Site icon Inspirasi Muslimah

Alm. Pak Malik Fadjar yang Saya Tahu

malik fadjar

Saya beruntung. Di sepanjang tahun 2019-2020 ini, saya (bersama beberapa intelektual muda Muhammadiyah) beberapa kali diajak mengikuti rapat terbatas petinggi UMM bersama Pak Malik Fadjar. Di salah satu ruang rapat Rektorat yang sunyi dan sejuk oleh suhu pendingin ruangan, kami duduk di belakang sebuah meja panjang, di kursi yang empuk, dan di ujung barat sana Pak Malik Fadjar duduk. Berkarisma.

Pak Malik Fadjar sudah sepuh. Tangannya saat memegang koran agak gemetar. Tapi punggungnya tegak. Senyumnya tidak berlebihan, tidak juga tanpa. Yang paling membuat saya menghela napas berkali-kali adalah ingatan Pak Malik Fadjar yang kuat. Beliau mampu menyebut tanggal, bulan, dan tahun suatu peristiwa, dan menjelaskannya dengan detail. Beliau lihai menyebut tulisan siapa di majalah atau koran mana.

Suatu ganjaran bagi mereka yang tidak lelah menajamkan daya pikir adalah ketahanan menghadapi pikun. Tulang boleh merapuh, otot boleh melemah, tapi sesuatu yang orang Barat sebut sebagai mind itu makin cemerlang. Sudah setua itu, beliau tetap membaca koran, membaca jurnal dan buku. Beliau tetap senang berdiskusi. Suara beliau memang mengecil, pelafalan kalimat makin samar, tapi sikap beliau masih jitu.

Kejituan sikap itu membuat mantan Menteri Pendidikan RI kelahiran 1939 ini dikenal nyentrik, sulit dipahami oleh mereka yang terbiasa berpikir di level sederhana, dan pada akhirnya, menyebabkan pemikirannya kadang sulit diterima. Misalnya, beliau pernah ditegur seseorang karena makan camilan sambil berdiri, sebab dalam Islam seseorang harus makan sambil duduk. Beliau mencoba makan sambil duduk dan nyeletuk: “Rasanya sama saja.”

Mengingat cerita makan berdiri tersebut,  tidakkah kalian terpikir akan perdebatan empirisisme dan rasionalisme?

***

Karena sejak tahun 2015 saya mengelola sebuah perpustakaan dan komunitas literasi di Lombok, saya jadi tahu kalau Hari Buku Nasional ditetapkan oleh Pak Malik Fadjar, pada tahun 2002, ketika beliau menjadi Menteri Pendidikan RI. Pak Malik Fadjar berdiskusi dengan beberapa pegiat buku nasional kala itu, yang mengkhawatirkan minat baca masyarakat yang menurun setelah tahun 2000-an.

Imbasnya panjang: gerakan literasi Indonesia punya momentum untuk terus mengingatkan masyarakat akan pentingnya membaca. Memang baru tahun 2015 pemerintah mencanangkan Gerakan Literasi Sekolah; itu setelah Indonesia disindir telak oleh survei UNESCO tahun 2011 tentang budaya literasi Indonesia yang urutan ke-57 dari 65 negara. Tapi Pak Malik Fadjar beraksi jauh-jauh hari, mendukung pertumbuhan komunitas literasi.

Adalah wajar mendukung dan mengandalkan pertumbuhan komunitas terlebih dahulu. Mengingat, inisiatif dari negara biasanya datang terlambat beberapa tahun.

Karena itulah, Pak Malik Fadjar menginginkan anak-anak muda tangguh dalam aktivitas berpikir, sekaligus tentu cekatan dalam gerakan sosial. Mandiri, tanpa berketergantungan pada negara. Kabarnya, Pak Malik Fadjar tidak senang bila anak muda Muhammadiyah menyodorkan proposal dana. Beliau lebih suka mereka datang membawa ide. “Mari diskusi,” kata beliau. “Kalau idenya menarik, tanpa meminta pun akan saya beri.”

***

Senin malam, 20 Muharram 1442, Pak Malik Fadjar meninggal dunia.

Beliau adalah salah satu tokoh besar Muhammadiyah, yang selalu ingin Muhammadiyah (tua-mudanya, laki-perempuannya, struktural-kulturalnya) menjadi pelopor di berbagai hal. Beliau ingin Muhammadiyah terus menerus melakukan dobrakan, menggarap yang belum tergarap. Tidak menjadi, meminjam istilah Aktivis Peneleh, bebek peradaban. Untuk itu diperlukan dua syarat mutlak: kegigihan dan kesederhanaan.

Kegigihan diperlukan dalam belajar, dalam “mengasah keris”, dalam menempa diri agar pandai melihat tantangan kebangsaan dan kenegaraan. Kalau bodoh, hidup memang jadi lebih bahagia sebab kita tidak tahu apa-apa. Tapi ketidaktahuan itu akan menyebabkan bangsa dan warga negara celaka. Kegigihan juga diperlukan dalam kerja-kerja transformatif, pergerakan sejak di akar rumput hingga ke level elit.

Adapun kesederhanaan diperlukan agar kegigihan kita tidak terhijab oleh nafsu duniawi. Agar kita tidak mudah digoda harta di tengah jihad. Pak Malik Fadjar adalah figur yang sangat terbiasa dengan kesederhanaan, sehingga wajar saja saya dengar beliau ringan hati menjual rumahnya sendiri demi membeli sekian bidang tanah untuk pembangunan komplek baru kampus Universitas Muhammadiyah Malang.

Apakah semua itu bisa disebut pengorbanan? Tidak. Itu adalah tradisi Muhammadiyah. Kegigihan dan kesederhaaan adalah “wajah sesungguhnya” orang Muhammadiyah, cetak biru ahli waris semangat KH. Ahmad Dahlan. Pak Malik Fadjar adalah salah satu ahli waris tersebut; satu dari sekian banyak yang pernah membikin harum nama Nusantara. Pak Malik Fadjar bahkan bukan siapa-siapa melainkan perjuangan itu sendiri.

Selamat jalan, Pak Malik Fadjar. Terima kasih untuk semuanya!

Bagikan
Exit mobile version