Site icon Inspirasi Muslimah

Alasan Menjauhi Zina Kok Nikah Muda Sih?

zina

Dalam Islam, pernikahan adalah Ibadah. Islam pun telah memberikan kita panduan dalam memilih pasangan yang baik dan sesuai dengan kriteria Islam, tidak boleh asal pilih pasangan. Sebab pernikahan adalah proses bertemunya dua insan dalam satu bahtera cinta, dan mereka akan berlayar ke lautan  yang berisikan ombak kebahagiaan dan gelombang ujian.

Ketika salah langkah, bisa menjadi mala petaka di dunia maupun akhirat. Nabi Muhammad Saw telah memberi bocoran kepada kita tentang memilih pasangan idaman sesuai dengan kriteria Islam. Sebagaimana hadis yang diwayat Bukhari disebutkan, “Perempuan dinikahi karena empat hal, karena hartanya; karena kedudukanya; karena parasnya; dan karena agamanya. Maka hendaklah kamu pilih perempuan yang baik agamanya, kalau tidak demikian, niscaya kamu akan merugi.”

Hadis tersebut merekomendasikan kita untuk bagaimana memilih pasangan, yakni yang baik agamanya lebih diutamakan.

Agama dan Dorongan untuk Menikah

Narasi tentang agama sering kali menjadi faktor anak muda untuk menikah. Banyak ustad-ustad muda yang menceritakan tentang pengalaman mereka dalam menjalani maghligai pernikahan. Cerita tentang mesranya Nabi Muhammad Saw dengan Aisyah r.a. dan lain sebagainya. Memang, yang disampaikan ustad tersebut tidaklah salah. Mereka menyampaikan kisah epic tentang menikah tanpa menjelaskan kisah heroiknya menikah. Tentang susahnya mencari solusi ketika ada permasalahan datang, mengambil keputusan, hingga penyelesaian konflik di situasi krisis.

Memang, ketika menikah Allah akan membuka pintu rezeki. Dalam surah an-Nur ayat 32, Allah berfirman “ Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak dari hamba-hamba sahayamu yang laki-laki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah maha luas lagi maha mengetahui“. Namun, ketika tidak diiringi usaha, bagaimana kita bisa menjemput rezeki?

Ketika kita diberikan pilihan, menikah muda tanpa punya modal usaha dengan pekerjaan tetap, atau punya pekerjaan tetap serta mempunyai rumah dulu lalu menikah. Tentu kita harus melihat opsi mana yang terbaik. Memilih mempunyai pekerjaan tetap dahulu bisa menjadi pilihan tepat.

Tidak bisa dipungkiri kesiapan ini tidak selalu bermodal pekerjaan/materi, tetapi juga kesiapan mental, emosional, dan sebagainya. Dan kesiapan itu berbeda dengan keinginan. Boleh jadi kita menikah karena faktor eksternal di luar diri kita, karena dorongan keluarga, teman-teman kita, stigma di masyarakat, hingga fenomena-fenomena kekinian.

Ikhtiar Menikah

Fenomena di era teknologi ini membantu setiap orang untuk menemukan pasangannya saat siap menikah, salah satunya melalui media sosial gerakan nikah muda. @Gerakannikahmuda yang dipelopori La Ode Munafar cukup banyak diikuti. Sekelompok anak muda, atas nama agama dan menjauhi dosa, memenuhi linimasa media sosial dewasa ini. Mereka menyuarakan gerakannya ini secara massif lewat media sosial yang digemari kawula muda-mudi.

Melalui akun tersebut, dapat kita lihat bahwa banyak anak muda yang ingin menikah dini guna menjauhi zina mata, zina tangan, zina kuping dan lebih spesifiknya mereka membuat gerakan tanpa pacaran. Keinginan sebagian anak muda bertransformasi dari perbuatan yang dimurkai Allah menjadi perbuatan yang diridhai Allah.

Tentu saja itu adalah sesuatu yang baik. Namun yang harus kita sadari, apakah perbuatan yang dinilai baik itu dapat menjadi boomerang untuk kita, atau tidak?. Utamanya jika mereka tidak berpikir jangka panjang melihat ke depan atau tidak membuat perencanaan yang matang. Mungkin dibenak mereka hanyalah ‘menjauhi zina’.

Tahun lalu saya sempat mendatangi ceramah Ust Syafiq Basalamah di STDI Jember. Kala itu Ust Syafiq membicarakan tentang fitnah zaman ini yang begitu berat. “Ketika zaman nabi banyak perempuan yang memakai cadar dan pakaian tertutup, tapi masih banyak laki-laki yang tergoda, apalagi sekarang yang perempuan dengan bangga mengunakan pakaian terbuka, memakai minyak wangi di depan orang yang bukan muhrimnya“. Maka sebaiknya, kita perlu merefleksikan lagi bagaimana kesiapan kita ketika ingin menikah.

Menghindari Zina Bukan dengan Nikah

Ketika tujuan menikah adalah menjauhkan diri dari gelombang nafsu yang membuat kita terjerumus ke dalam dosa zina bukanlah sebuah kesalahan, tapi juga tidak sepenuhnya dibenarkan. Jika alasannya untuk menjauhkan diri dari zina, maka solusinya tidak harus menikah. Rasullulah sudah memberikan pedoman bagi anak muda agar terhindar dari nafsu yaitu dengan berpuasa.

Dalam hadis Bukhari, Rasulullah bersabda, “Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kalian yang mampu menikah, maka menikahlah. Karena menikah lebih dapat menahan pandangan dan lebih memelihara kemaluan. Dan barangsiapa yang tidak mampu, maka hendaklah berpuasa, karena puasa dapat menekan syahwat.”

Jelas dalam hadis tersebut orang yang kurang secara materi dianjurkan untuk berpuasa. Jangan terburu-buru untuk menikah, menikah bukan hanya jadi sarana pemuas nafsu belaka tetapi tentang tujuan yang lebih besar, seperti ibadah dan mencari ridha Allah.

Allah juga berfirman dalam surat an-Nur ayat 30 “ Katakanlah kepada laki-laki yang beriman, hendaklah mereka menahan pandanganya dan memelihara kemaluanya. Yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah maha mengetahui apa yang mereka buat.” Ayat tersebut jelas bahwa Allah menyuruh kita untuk menundukan pandangan.

Dalam konteks era sekarang, realisasinya, tersedia banyak aktivitas yang bisa dilakukan anak muda untuk melupakan bayang-bayang pasangan; seperti mencari kegiatan, ikut organisasi, berolahraga, ikut lomba dan sebagainya. Sebab, sangat disayangkan apabila masa muda kita hanya stuck dan tidak mengembangkan diri secara optimal. Karena kalau sudah menikah, urusan kita akan bertambah.

Editor: Ananul Nahari Hayunah

Bagikan
Exit mobile version