f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
Ekologi

Istri dan Anakku, Ada Hikmah Pandemi bagi Fitrah Ekologi dan Kemanusiaan (1)

Oleh: David Efendi*

Biasanya sepekan sebelum hari raya, 1 Syawal, kita sudah bersua dengan keluarga besar di kampung. Bertemu dengan banyak keluarga dan sahabat. Suasana kampung yang tak pernah hilang.

Hari ini, kita semua sedang di karantina oleh Allah swt, agar kita menjadi manusia yang memuliakan fitrah. Apa fitrah manusia? adalah ramah terhadap lingkungan hidup dan memulihkan hubungan kemanusiaan. Penulis berusaha membagi tulisan ini, yang awalnya bergaya naskah khutbah idul Fitri di rumah. Semoga ada hikmah dan maslahat dari refleksi ringan-ringan ini.

Selama ini, tentu saja kita memuliakan momentum lebaran dengan memulihkan hubungan kemanusiaan. Rasa kangen dengan hasrat sosial membuat kita menantikan momentum ini. Namun, karena kita punya Allah dan tauladan nabi, kita akan tetap memperoleh kemuliaan jika kita bersungguh-sungguh mengambil hikmah ekologis dari pandemi covid-19 di idul fitri kali ini.

Bismillah kita belajar dari Ismail dan nabi Ibrahim, yakni karena Allah semata kita menjalani karantina ini. Dengan jalan ini juga, semoga kita diberikan kekuatan dan daya tahan yang baik untuk kehidupan yang harus terus berjalan.

Virus yang Diakibatkan Manusia

Menurut banyak ahli virus dan biologist, salah satu penyebab pandemi ini adalah karena ulah tangan manusia. Rusaknya habitat asli virus itu memaksanya harus bersarang kepada diri manusia. Ya, manusia adalah new normal dari virus yang telah dijarah rumahnya, hutannya dirusak, airnya diracuni. Manusia harus merefleksikan penyesalan akan daya rusak yang disebabkannya. Teknologi, modernisasi, rasionalitas telah merampok banyak hal termasuk merusak fitrah ekologi.

Wajar saja, kita lihat banyak postingan bahwa saat manusia tidak bergerak, pabrik, pesawat, kerata, dan kendaraan pribadi berhenti, banyak satwa liar menampakkan dirinya, udara semakin seger, emisi dan polusi gas beracun berkurang. Ini saksi dari hasanah sains di dunia.

Baca Juga  Antara Kekeyi, Media Sosial dan Micro-Celebrity

Fitrah manusia itu memperbaiki, bukan merusak. Islam pun demikian, harus menjadi konservasi ketimbang agama konsumsi dan eksploitasi.

Karantina Versi Nabi

Ada setidaknya tiga nabi yang pernah menjalani semacam karantina dalam mencari kemualiaan dan di angkat derajatnya oleh Allah swt, yakni;

Pertama, nabi Yusuf. Ia di karantina dalam penjara lalu keluar sebagai hamba yang mulia dengan dijadikannya Ia sebagai Menteri. Ia adalah nabi sekaligus raja yang membela rakyanya.

Kedua, nabi Yunus. Ia juga di karantina bahkan di dalam perut Ikan Paus karena frustasi akan ketololan/pandemi kebodohan ummatnya, dan setelah keluar dari perut Ikan nabi Yunus disambut oleh pertaubatan pengikutnya.

Ketiga, nabi Muhammad. Adalah nabi yang punya pengalaman menyepi, mengkarantina diri atau membatasi geraknya demi menyempurnakan kekuatan jiwa spiritualnya. nabi Muhammad menghabiskan 40 hari, akhirnya diberikan wahyu yang teramat dahsyat yaitu surat al Álaq—surat yang menjadikan peradaban penuh cahaya, manusia dimuliakan, alam raya dijaga dan dimakmurkan.

Selama pandemi dan bulan puasa ini, miliaran manusia di karantina, dan tidak semua manusia sedang mencari jalan bagaimana meraih derajat taqwa. Ketaqwaan yang mendorong umat agar menjadi manusia yang welas asih kepada lingkungan hidup, dan kepada manusia lainnya dalam beragam solidaritas insani dan ekologi.

Setelah di karantina oleh pandemi dan Ramadan ini, seharusnya banyak orang berniat menjadi manusia yang memiliki derajat kesalehan ekologis, ketaqwaan yang hijau, dan kemanusiaan yang adil bagi semua makhluknya.

Lalu, bagaimana umat Islam mengambil hikmah selama karantina pandemi dan Ramadan ini? Semua pemerhati anak dapat menyaksikan bagaimana anak-anak galau tak jumpa teman, keluarga yang tidak bisa bersua dengan keluarganya dan sanak saudara.

Baca Juga  Karirku: Seorang Ibu

Pastilah umat Islam yang sedang menyambut kemenangan juga merasakan kegalauan yang teramat sangat. Namun demikian, menjalani banyak urusan #dirumahsaja itu adalah pengalaman yang mestinya kita jadikan hikmah, mengambil makna untuk hidup kita ke depannya. (T)

Bersambung…

*Penulis, Kader Hijau Muhammadiyah

Bagikan
Post a Comment