f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
Kamil el-Laboody

Belajar Pendidikan Al-Quran Anak Usia Dini dari Doktor Kamil El-Laboody (1)

Doktor Kamil el-Laboody adalah penemu metode Tabarak. Sebuah metode dengan program yang beliau susun untuk mendidik ketiga anak beliau hingga mereka ditetapkan sebagai hafiz termuda sedunia. Kemudian, program tersebut beliau kembangkan agar bisa dipraktikkan di griya-griya Quran atau yayasan tahfiz al-Quran yang bekerja sama dengan Tabarak Project di Mesir.

Lantas, apa yang mendorong beliau berkeinginan kuat untuk menjadikan anak-anaknya hafal al-Quran di usia belia dan bersemangat dalam mengembangkan penemuannya?

Tekad yang Kuat untuk Menjadi Hamalatul Quran

Doktor Kamil el-Laboody lahir pada tanggal 4 Januari 1976 atau bertepatan dengan tanggal 3 Muharram 1396 H di Tanta, Mesir. Pada tahun 2000, beliau bersama istri merantau ke Jeddah dan bekerja sebagai dosen di Batterjee Medical College. Keduanya tinggal di kawasan bandara lama dekat dengan masjid Sa’id bin Zubeir. Di kawasan itulah sang istri mengandung anak pertama.

Pada tanggal 22 Februari 2003, bertepatan dengan tanggal 20 Dzulhijjah 1423, lahirlah putra pertama mereka bernama Tabarak. Doktor Kamil memberinya nama tersebut lantaran selama masa kehamilan sang istri, beliau sering memimpikan kalimat, “Tabarakasmu Rabbika Dzul Jalali wal Ikram.” Mimpi itu tidak hanya terjadi sekali melainkan berulang kali.

Awalnya, doktor Kamil tidak terbesit suatu impian di dalam benaknya atau terlintas di dalam pikirannya keinginan agar anaknya menjadi hafiz termuda sedunia. Waktu itu yang beliau rasakan sebagaimana kebanyakan orang lain yang ketika dikaruniai anak senantiasa berdoa. “Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Furqan [25]: 74)

Beliau menceritakan, “Kami cukur rambutnya dan menyembelih kambing akikah. Dan kurang dari sepuluh hari dari kelahirannya aku bawa dia bertawaf mengelilingi Ka’bah di baitullah, dan tak henti-hentinya ketika itu aku berdoa kepada Allah, “Ya Allah, berkahilah di dalamnya, berkahilah atasnya dan jadikanlah dia anak yang penuh berbagai keberkahan dari sisi-Mu.”[1]

Baca Juga  Benarkah Tujuan Manusia Hanya Ibadah Saja?

Doa untuk Tabarak kecil tidak berhenti sampai di situ saja. Suatu waktu, setelah melaksanakan salat Jumat di Masjid Zubair bin Awwam, beliau melihat sekumpulan anak-anak kecil dengan usia 6 tahun, 7 tahun dan 10 tahun yang rata-rata hafal 6 juz, 10 juz, dan 15 juz. Ketika melihat pemandangan itu, beliau langsung bersujud seraya berdoa, “Ya Allah, jadikanlah Tabarak seperti mereka,” disertai dengan tangis yang tidak bisa dibendung.

Pada saat Tabarak mulai berusia dua tahun, doktor Kamil dan keluarga pulang untuk liburan ke negeri Mesir. Di rumah itu Tabarak sering mendengar surah al-Fatihah yang dilantunkan Syaikh Abdurrahman as-Sudais dan Syaikh Sa’ud asy-Syuraim dari setiap rakaat salat qiyam di Masjidil Haram yang disiarkan langsung oleh salah satu stasiun televisi Mesir. Doktor Kamil melihat Tabarak yang berusaha menirukannya meskipun masih belum jelas.

Kemudian mulailah beliau mengajarkan surah al-Fatihah dan surah-surah pendek. Sama halnya dengan doa yang tidak pernah putus, ikhtiar pun terus diistikamahkan tanpa kenal putus asa. Beliau bersama sang istri mengajarkan al-Quran secara intensif ketika usia Tabarak mulai 3 tahun hingga berhasil menghafalkan seluruhnya dalam waktu 1,5 tahun dengan mutqin.[2]

Kemudian yang menakjubkan, doktor Kamil dan istrinya bukanlah seorang dari kalangan intelektual lulusan ilmu agama Islam. Keduanya memiliki latar belakang pendidikan umum. Bahkan sebelumnya bukanlah seorang hafiz dan hafizah. Doktor Kamil el-Laboody mengambil pendidikan S1 Bachelor Farmasi di Universitas Tanta dan melanjutkan studi S2 Master di Universitas Leicester Inggris dalam bidang Manajemen Bisnis. Begitu pula dengan sang istri, doktor Rasya al-Gayyar yang juga merupakan seorang apoteker.

Namun, doktor Kamil memiliki tekad yang kuat untuk menjadi Hamalatul Quran.[3]Di kalangan beliau, daripada dikenal sebagai seorang apoteker, beliau lebih dikenal sebagai seorang pemikir Islam dan praktisi dalam Ulum al-Quran.[4]

Baca Juga  Takzim: Antara Penghormatan dan Pengkultusan, Benarkah?

Setelah menikah, beliau dan istri kompak untuk mulai menghafal al-Quran dari awal. Di mulai dari surah al-Baqarah hingga akhir surah an-Nisa’ sampai mengandung anak yang pertama. Selanjutnya doktor Kamil menyelesaikan hafalan sampai selesai dan kemudian menuntun sang istri. Setelah itu mereka mengajarkannya untuk anak-anak mereka. Setiap hari doktor Kamil dan sang istri tidak lupa untuk selalu mencatat setiap masalah dan perkembangan Tabarak dalam proses menghafal al-Quran. Berawal dari catatan itulah akhirnya terbentuk kurikulum metode Tabarak yang luar biasa manfaatnya.

Proyek Keluarga menjadi Proyek Umat Islam

Setelah Tabarak dan Yazid dinobatkan sebagai hafiz termuda sedunia pada tahun 1429 H oleh lembaga al-Jam’iyyah al-khairiyah Li Tahfizh Al-Qur’an di Jeddah, dan adik mereka, Zeenah juga berhasil menyelesaikan hafalan al-Quran 30 juz di usia kurang dari 5 tahun, banyak stasiun televisi nasional maupun internasional yang mengundang doktor Kamil untuk wawancara dalam program talk show. Termasuk di Indonesia, beliau diundang oleh ANTV, TVOne, MNCTV.

Sebuah channel televisi Saudi Arabia bernama Dalil mewawancarai doktor Kamil, “Apa yang mendorong Anda untuk mengubah eksperimen Anda pada Tabarak dan Yazid menjadi proyek umat Islam?”

Doktor Kamil menjawab, “Saya menjawab dengan satu ayat dan satu hadis. Pertama, ayat dalam surat al-A’raf. ‘Dan orang-orang yang berpegang teguh dengan al-Kitab (taurat) serta mendirikan salat, (akan diberi pahala). Sungguh Kami tidak akan menghilangkan pahala orang-orang saleh.’ (Qs. al-A’raf [7]: 170). Kemudian kedua, hadis Nabi. Dari Anas bin Malik bahwa Rasulullah saw. bersabda, ‘Tidaklah beriman seseorang dari kalian sehingga dia mencintai untuk saudaranya sebagaimana dia mencintai untuk dirinya sendiri.’”[5]

Beliau ingin keberhasilan yang beliau rasakan juga dapat kaum muslimin yang lain rasakan. Maka dari itu, beliau sangat antusias untuk terus mengembangkan metode Tabarak. Dalam banyak undangan permintaan tour pelatihan nasional hingga internasional di meja beliau, beliau tidak ingin diwakilkan. Bagi beliau tidak mengapa jika mereka harus mengantre hingga beberapa tahun. Sebab beliau memilih untuk terjun langsung dalam setiap proses pelatihan.

Baca Juga  Tawakal Mengiringi Ikhtiar: Belajar dari Perjuangan Nakes di Rumah Sakit Melawan COVID-19

Hal tersebut beliau lakukan lantaran ingin memberikan yang terbaik dalam menjaga kemurnian metode Tabarak. Sehingga beliau berharap agar metode Tabarak dapat menjadi panduan yang baik bagi kaum muslimin untuk mencetak generasi hafiz cilik di keluarga mereka.


[1] Fathin Masyhud, Lc. MHI dan Ida Husnur Rahmawati, Lc. MHI, Rahasia Sukses 3 Hafizh Qur’an Cilik Mengguncang Dunia (Jakarta Timur: Zikrul Hakim, 2019) hal. 143

[2] Bermakna: kuat hafalannya. Tidak keliru dan tidak lupa.

[3] Para pengemban al-Quran.

[4] Ulum al-Quran adalah ilmu-ilmu yang mempelajari tentang bacaan al-Quran seperti tajwid, qiraat, fadail qiraat al-Quran, tentang sejarah seperti ilm nuzul al-Quran, tarikh al-Quran, jam’u al-Quran rasm mashahif dan lain-lain.

[5] Fathin Masyhud, Lc. MHI dan Ida Husnur Rahmawati, Lc. MHI, Op.Cit., hal. 38

Bagikan
Post a Comment