f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
opini ke jurnal

Dari Opini ke Jurnal: Ganti Gigi Format Kepenulisan

Pada 31 Desember 2022, saya diundang oleh Savic Ali, Ketua PBNU untuk datang ke rumahnya yang berada di Jatiwaringin, Bekasi, Jawa Barat. Saat bersamaan, Nurman Hakim sutradara film ternama, juga akan datang. Undangan ini tidak saya sia-siakan untuk belajar dari mereka berdua yang berbeda latar belakang. Savic Ali adalah sosok aktivis 98 dan pernah mengelola beberapa media. Nurman Hakim sendiri adalah dosen Institute Kesenian Jakarta yang memiliki sejumlah pengalaman membuat film. Sementara saya sendiri adalah peneliti yang bergelut dengan wawancara, observasi, membaca, menulis, dan kemudian menerbitkannya menjadi karya ilmiah. 

Saat ngobrol dengan Nurman Hakim, ada cerita menarik yang ia ungkapkan. Menurutnya, menulis draft untuk jurnal itu sangat tidak mudah. Hal ini berbeda dengan pola penulisan opini pendek. Di mana ia bagian dari intelektual/akademisi yang turut menguasainya. Ia melanjutkan bahwasanya tidak sedikit para sarjana/intelektual yang mengalami kesulitan dalam menulis ketika terjadi perubahan format. Bagi mereka yang terbiasa menulis opini, menulis draft artikel jurnal adalah aktivitas yang melelahkan. Selain tidak bisa sekali duduk, menulis jurnal harus membaca banyak buku dan artikel yang ditopang dengan data dan perspektif yang kuat. Selain itu, adanya semacam kebaruan terkait dengan posisi tulisan kita, hal ini menambah tingkat kesulitan untuk melakukan aktivitas tersebut.

Sebaliknya, bagi mereka yang terbiasa menulis draft jurnal, kolom yang tersedia di opini itu terlalu kecil dan sempit untuk menuangkan gagasan dan penjelasan yang membutuhkan ruang lebih besar. Apalagi, opini hanya terbatas 800-1000 kata. Akibatnya, memampatkan gagasan dari 6000-7000 kata menjadi kurang dari seperempatnya adalah perjuangan yang tak mudah. Karena itu, ada sarjana yang fokus menulis draft jurnal dan publikasi ilmiah yang panjang. Ada juga sarjana/intelektual yang memilih untuk menulis opini. Memang, kedua aktivitas tersebut adalah bagian dari proses penulisan, tetapi memiliki pola, jumlah, dan alur yang berbeda. 

Baca Juga  Bening Selaksa Hati, Muslimah Pejuang Anak-Anak Autis

Di tengah dua kemampuan itu, ada sarjana/intelektual yang bisa memainkan keduanya; bisa menulis draft jurnal sekaligus menulis opini. Bagi saya, orang-orang diandaikan dalam mengendari mobil dengan mesin manual. Orang-orang ini bisa cepat melakukan pergantian gigi, dari gigi satu ke gigi dua, begitu juga sebaliknya. Di Indonesia, karakter semacam ini bisa kita temui oleh banyak sarjana dan intelektual. Jika kita amati, karakter sarjana semacam ini awalnya tumbuh dalam menulis opini, di mana trend menulis jurnal belum semarak seperti sekarang. Namun, ketika menulis jurnal menjadi sebuah kelaziman, orang-orang inilah yang melakukan proses adaptasi dengan cepat dan belajar lebih keras untuk menyesuaikan.

Seperti para sarjana dengan latar belakang pendidikan perguruan tinggi Islam, saya sendiri memulai menulis dengan opini. Menulis draft artikel untuk jurnal itu sesuatu yang aneh sekaligus sulit awalnya. Namun, saat melakukan proses tersebut, saya akhirnya menemukan pola belajar untuk saya sendiri. Setelah belajar bertahun-tahun, saya bisa menemukan cara sendiri untuk menulis jurnal sekaligus opini. Ide menulis opini, bagi saya, sering saya dapatkan dari hasil amatan dan bacaan. Setelah itu,  saya menuliskan hasil bacaan dan amatan itu dengan menulis format opini. Tidak sedikit, dari opini ini saya mengembangkan jadi draft artikel jurnal. Sebaliknya, ada juga dari draft artikel jurnal yang saya ekstraksi jadi opini. Kemampuan ini tentu saja tidak datang tiba-tiba melainkan membutuhkan waktu yang panjang untuk berlatih, di tengah perbedaan ruang, jam terbang, sekaligus nafas tulisan yang dibutuhkan dalam menyelesaikan.

Bagi saya, menjadi suatu hal yang tidak bijak apabila terdapat seseorang/sekelompok orang yang mengkritik seorang sarjana/intelektual di dalam proses pembelajaran, di mana ia juga sedang dalam proses menentukan jalannya sendiri. Ada orang yang memang benar-benar mahir menulis opini, tapi tidak dengan menulis draft artikel untuk jurnal. Sebaliknya, ada juga orang yang bisa fokus menulis draft artikel jurnal tapi sangat sulit mengekspresikannya ke dalam opini yang padat dan reflektif. Ini dua hal yang tidak patut untuk dipertentangakan. Apalagi, dua jalan pilihan menulis ini memiliki pembaca yang berbeda meskipun memiliki keteririsan. Maksud keteririsan di sini adalah mereka memiliki karakter dan porsinya masing-masing. 

Baca Juga  Dewi Herinawati, Single Mom yang Luar Biasa

Meskipun begitu, harus diakui, mereka yang menulis draft artikel jurnal, memiliki tingkat kesabaran lebih panjang. Mereka harus menunggu informasi apakah draft-nya diterima atau ditolak dari 3-6 bulan, bahkan lebih. Kesabaran yang mungkin tidak kita dapatkan dari seorang yang menulis opini, karena mereka cukup menunggu 2 minggu untuk mendapatkan informasi, apabila di media massa cetak. Di sisi lain, bagi mereka yang memiliki profesi dosen dan peneliti di institusi  pendidikan ataupun negara, tuntutan untuk menulis draft artikel jurnal memang sesuatu hal yang mendesak dan menjadi kewajiban; memaksa intelektual/akademisi untuk secara paksa bisa mengganti gigi dalam format penulisan.

Bagikan
Post a Comment