f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
jenazah

Kubuka Album Kenangan ketika Isolasi Mandiri

Memasuki hari kelima isolasi mandiri karena terpapar covid, hatiku benar-benar galau dan bingung. Jarum jam di dinding terasa bergerak lamban hingga sehari terasa sepekan. Tayangan televisi sudah lama tak menarik hati dan satu-satunya yang masih bisa kuajak kompromi adalah gawai.

Dengan membuka gawai butut, aku merasa terhibur, karena di sana banyak teman yang menyemangati dan mendoakan kesembuhan. Dan yang paling penting aku merasa tidak sendirian. Banyak diantara mereka mengalami nasib yang sama denganku.

Untuk membunuh rasa bosan lantaran di rumah terus karena isolasi mandiri selama kurang lebih 2 pekan, banyak hal yang sebelumnya tak pernah terpikirkan. Akhirnya satu persatu menuntut untuk segera kusentuh. Misalnya, sudah lama aku tak melihat almari buku beserta penghuninya. Ada buku, beberapa majalah dan tak ketinggalan album foto yang hampir semuanya sudah lawas.

Selain majalah, buku dan album foto, ada juga buku harianku semasa remaja. Majalah-majalah lawas masih tertata rapi yang mungkin saat ini sudah tidak terbit lagi karena kena bredel atau karena bangkrut dampak dari pandemi.

***

Seakan ada energi tambahan, ketika aku mulai memilih buku yang ingin kubaca kembali, karena hampir semua buku yang ada di almari itu sudah pernahku baca. Tentu saja bukuku jumlahnya tak seberapa, masih bisa dihitung dengan jari.

Ketika kucoba memandang sekilas dengan membolak-balik halamannya, kegalauanku perlahan hilang. Ada semacam semangat dalam benakku, ingin membaca ulang buku-buku tersebut agar ingatanku segar kembali.

Nah, pada waktu aku membuka lalu memperhatikan foto-foto di album foto lawas, jujur aku merasakan energi positif itu menjalar di sekujur tubuhku dari ujung rambut sampai ujung kaki. Apalagi ketika ketemu dengan foto masa kecilku yang masih culun, aku senyum-senyum sendiri tanpa henti.

Baca Juga  Menuju Kehidupan New Normal

Namun, ketika melihat foto bapak dan ibu semasa mereka masih muda, tiba-tiba rasa rindu yang mengharu biru menyergapku. Rasanya seperti dibius dan aku seolah terbang ke puluhan tahun silam, hanya dengan memandang foto-foto kenangan.

Kini kusadari, efek yang muncul dari melihat foto-foto kenangan benar-benar menyenangkan dan membahagiakan. Aku yakin, dengan hati senang dan bahagia, imun akan meningkat sehingga berbagai gangguan penyakit akan sulit mendekat.

***

Seperti yang terjadi beberapa tahun lalu yang kini masih kuingat dengan jelas. Pada saat itu, aku mendampingi ibuku yang sudah sepuh dan renta. Setiap kulihat dia diam, tak bisa tidur dan gelisah, segera aku ambilkan sebuah majalah mode yang penuh warna warni dengan gambar baju dan gaun yang menurutku menarik untuk dilihat. Dia kelihatan sangat menikmati majalah itu dengan sesekali membaca beberapa potong tulisan yang tercetak agak besar.

Majalah hanya membuat dia tenang dan anteng namun tanpa ekspresi. Akan diletakkan kembali bila sudah merasa bosan. Ketika itu aku berpikir agak keras, bagaimana caranya agar ibuku mau tersenyum dan tertawa. Akhirnya kucoba dengan memberinya album foto kenangan yaitu foto-foto lama ibu semasa muda.

Dia memandang foto-foto dengan mimik ceria sambil senyum-senyum, bahkan terdengar tawa lirih dari bibirnya yang sudah senja. Dengan penuh semangat dia membalik-balik lembaran album secara berulang. Kala itu kulihat ibuku gembira sekali, seperti anak kecil sedang menemukan kembali mainannya yang pernah hilang. Masya Allah, sesederhana ini?

Dia benar-benar sangat bahagia dan itu terlihat nyata dari roman mukanya yang berseri-seri. Ada binar bahagia di matanya dan ada sesuatu yang menyusup lembut di hatiku, membuatku ikut bahagia.

Baca Juga  Benang Merah dan Umrah di Bulan Ramadan
***

Di media sosial banyak kita jumpai anjuran maupun saran dari teman-teman, yang mengatakan bahwa untuk meningkatkan imun terutama saat isolasi mandiri, kita harus makan kenyang, tidak usah mikir macam-macam dan buatlah hati menjadi senang. Tak cukup hanya itu, olahraga ringan, berjemur dan memperhatikan asupan nutrisi yang bergizi merupakan bagian dari ikhtiar untuk mendapatkan kondisi tubuh yang sehat dan prima.

Memiliki imun yang bagus sama artinya punya tameng untuk menangkal atau menghambat serangan penyakit yang menghampiri. Meski demikian, hal yang paling utama sesungguhnya adalah do’a-do’a yang kita panjatkan setiap saat ke Dzat Yang Maha Berkehendak, memohon keselamatan dari berbagai bencana. Sebagai manusia yang beriman, berdoa itu wajib dan upaya-upaya di atas juga penting. Dan kita tidak mungkin hanya berdoa tanpa berbuat sesuatu.

Banyak cara sederhana untuk membuat hati senang dan bahagia. Berhubung dalam suasana pandemi, kita dianjurkan untuk tidak kemana-mana. Fasilitas apa saja yang ada di rumah bisa kita manfaatkan semaksimal mungkin.

Begitu juga bagi ibu-ibu yang kebetulan masih isolasi mandiri (Isman) di rumah bersama anak-anak tercinta. Kita bisa membuka kembali buku-buku cerita lama, cerita legenda tanah air, dongeng dan cerita-cerita lainnya. Tidak ada salahnya dibaca kembali meski masih ingat isi ceritanya.

Atau bisa juga anak-anak yang diminta bercerita dan ibu bapak pura-pura belum tahu dengan cerita tersebut. Saya yakin anak-anak akan bersemangat dan mereka bahagia, karena mereka merasa lebih dihargai di saat-saat seperti ini.

***

Demi kesehatan keluarga, segala upaya tetap kita lakukan tanpa bosan. Tak perlu hal-hal besar yang belum tentu kita mampu melaksanakannya. Hal-hal sepele yang kadang tak terpikirkan justru membuat kita terperangah, oh ternyata untuk membuat hati bahagia dan senang tak harus pergi jauh, di sekeliling kita sudah tersedia. Tinggal kita mampu atau tidak menyiasati dan memanfaatkan apa yang ada.

Baca Juga  Muslimahpreneur Menurut Pandangan Islam

Kita dituntut untuk lebih kreatif, menyulap sesuatu menjadi hal-hal yang bisa membangkitkan aura bahagia. Membuka lagi album foto kenangan yang mampu membuat alam pikiran kita melayang ke momen-momen yang menyenangkan adalah salah satunya. Masih banyak cara lain yang sudah tentu berbeda satu dengan lainnya dalam hal menciptakan suasana bahagia dan menyenangkan.

Di satu sisi kita berusaha keras untuk meningkatkan imun. Di sisi lain kita harus mampu memupuk iman, agar apapun yang telah Allah tetapkan untuk kita, bisa kita terima dengan penuh keridhoan. Sebagai wujud penghambaan diri kepada-Nya, di manapun, kapanpun dan dalam situasi apapun, do’a-do’a senantiasa kita langitkan tanpa jeda.

Bagikan
Comments
  • Bu Guru Wiendy

    Jaga 3M: IMan, IMun, AMan

    Juli 6, 2021
    • Wurry Srie

      Bismillah. Siap.

      Juli 7, 2021
Post a Comment