Pagi ini masih gerimis, sama seperti kemarin, dan kemarinnya lagi. Ya, kita maklumi saja, Januari pasti akan sering bertemu dengan sang hujan. Seperti biasa, rutinitas pagi sejak pemberlakuan tatap muka terbatas, kegiatan saya dan suami setiap pagi adalah mengantar si bungsu ke sekolah.
Hal yang berbeda di pagi ini adalah; ada keinginan besar yang mendorong kami untuk berbelok arah ke lapak jualan gorengan yang sudah lama sekali tak kami singgahi. Setelah timbul beberapa kebiasaan sehat yang kini menjadi new life style kami (cieee, sehat ni yeee..). Gorengan menjadi salah satu makanan yang sebisa mungkin tak dikonsumsi berlebihan. Biasalah, tiap kali bertemu dengan gorengan, potensi untuk khilaf sangat besar, jadi kami memilih untuk menghindari lapak ini.
***
Sesampainya di lokasi, seperti biasa, sudah banyak yang berbaris menunggu giliran yang oleh penjual layani. Kali ini tidak terlalu panjang, hanya ada 4 orang sebelum saya, jadi tak perlu menunggu lama. Hal ini mungkin terjadi karena waktu memang sudah cukup siang, jadi tidak terlalu banyak lagi yang antre gorengan untuk dipakai bekal atau sarapan.
Kami mengantre di sebelah kiri gerobak penjualnya. Maju satu persatu sesuai kedatangan. Beberapa pembeli lain juga datang, ada yang mengambil posisi di sebelah kanan dan di depan penjual.
Sejenak mereka bingung, mengapa tidak segera terlayani padahal mereka sudah datang lebih awal. Setelah beberapa saat keheranan, mereka kemudian menyadari bahwa yang dilayani adalah yang sudah berbaris berurutan di sebelah kiri.
Terkadang, dalam sebuah antrean yang tidak terorganisir, ada semacam kesepakatan tak terucap yang muncul begitu saja. Masing-masing otomatis saling mengerti dan menghargai. Ya, meskipun terkadang masih ada saja orang yang main serobot aja, tetapi hal ini sudah semakin langka kita temui. Kesadaran masyarakat untuk mengantre telah membudaya dengan cukup baik di negeri ini.
Sebenarnya, saat sedang mengantre, tanpa sadar ada banyak hal yang kita pelajari dan kita latih untuk memperbaiki kualitas kemanusiaan kita.
#Manajemen Waktu
Sadar atau tidak, sebelum datang ke suatu tempat, apalagi yang berpotensi memiliki antrean panjang, sebagian besar dari kita pasti menghitung waktu dengan cermat. Perkiraan untuk mengantre panjang sudah pasti membutukan alokasi waktu tersendiri. Jadi, untuk menghindari kemungkinan menunggu dalam waktu lama, biasanya sebisa mungkin kita berusaha datang dan mempersiapkan semuanya lebih awal.
#Melatih Kesabaran
Pada saat mengantre, bisa kita pastikan, bekal utama yang harus kita miliki adalah sabar. Mau tidak mau sabar harus kita bawa. Eh.
Ya begitu, tak peduli seberapa pentingnya urusan kita, saat mengantre memang harus sabar menunggu giliran. Kita tidak bisa seenaknya saja meminta untuk didahulukan dengan alasan bahwa kepentingan kita ‘urgen’ dan harus diprioritaskan. Kecuali darurat, semisal di rumah sakit dan berhubungan dengan nyawa manusia, beda cerita ya. Eh, tapi kalau di rumah sakit ada kan ada UGD yng memang selalu siap untuk penanganan segera.
Intinya, pada saat mengantre kita telah melatih diri untuk bersabar menunggu giliran. Sabar menjalani setiap tahapan dari proses yang harus kita lewati. Ketika bersabar kita juga harus menghormati hak orang lain. Terutama hak bagi mereka yang datang lebih awal.
Ya begitulah, kalau ingin mendapatkan giliran di awal, ya kembali ke poin satu, datang lebih awal.
#Menjadi Kreatif
Sadar ataupun tidak, saat tidak ada yang bisa kita lakukan kecuali menunggu, seringkali timbul ide-ide kreatif untuk mengisi waktu. Beberapa dari kita pasti sering mengantre sambil menyelesaikan pekerjaan. Apalagi para penulis, pasti sering dong, mengantre sambil melanjutkan tulisan, atau bahkan malah muncul ide-ide tulisan baru.
Tak jarang pula, di saat seperti inilah kemudian timbul ide-ide kreatif dan unik. Beberapa kegabutan yang timbul justru menimbulkan beberapa keisengan dan akhirnya menjadi ide untuk melakukan hal-hal yang berbeda, main tik-tok misalnya. Pada akhirnya bermunculan gambar dan vidio-vidio lucu yang cukup menarik untuk dinikmati dan bahkan menjadi ladang rejeki yang tak pernah terpikirkan sebelumnya.
#Belajar Bersosialisasi
Tak jarang kita ‘terpaksa’ harus berbicara dengan sesama pengantre. Berawal dari saling senyum untuk sekedar basa-basi kesopanan. Dan ketika antrean masih berlanjut, biasanya kemudian akan timbul percakapan sederhana, meskipun hanya bercakap tentang jam.
Kemampuan bersosialisasi kita akan diasah di sini. Bagaimana kita mengawali sebuah komunikasi dan saling menanggapi, bahkan dengan orang yang baru pertama kali bertemu, yang sama sekali belum kita ketahui karakter dan pribadinya. Disinilah kemudian kita belajar membaca situasi agar bisa menempatkan diri dengan tepat.
Saya jadi teringat, beberapa waktu lalu seorang sahabat telah mengirimkan tambahan satu siswa les baru, yang katanya adalah anak temannya. Ketika saya bertanya, teman dari mana, sahabat saya tersebut bercerita bahwa mereka berkenalan saat sama-sama mengantre. Kemudian saling bercerita sampai akhirnya meluncurlah sebuah keluhan yang mengarah ke pencarian tentor matematika. Secara otomatis, sahabat saya tersebut mengingat nama saya. Dan begitulah akhirnya, mereka yang antre, saya yang mendapatkan rezeki. Subhanallah.
Ibu rumah tangga dan pemilik Bimbel Pintar
