Banyak dari anak yang sering marah kepada orang tua karena berbagai hal, dan dengan berbagai cara pula dalam melampiaskan marahnya. Dari hal yang membuat anak marah salah satunya karena dibandingkan dengan anak lain atau yang sebaya dengannya, ada yang membandingkan prestasi, ada pula orang tua yang membandingkan kelakuan anaknya sendiri dengan anak orang lain. Selain orang tua, kadang juga seorang guru sering membanding – bandingkan siswa yang satu dengan lainnya. Hal ini akan menjadi tekanan bagi si anak, karena ia merasa tidak bisa apa-apa. Padahal setiap anak punya kompetensi masing-masing, dan tidak bisa di sama ratakan.
Jangan Bandingkan, Namun Bimbinglah
Terkadang, orang tua lebih suka dengan anak orang lain daripada anaknya sendiri. Sehingga seringkali membanding-bandingkan keduanya, sehingga anaknya sendiri merasa jengkel atau bahkan marah saat dirinya diperbandingkan. Semisal, “Kamu itu gak kaya si A, si A pinter, dapat juara” bla bla bla, hal ini seringkali terjadi.
Apakah orang tua salah? Ya mungkin ada benarnya, namun si anak akan merasa tidak dihargai atas potensi yang ada pada dirinya. Padahal, setiap anak pasti mempunyai kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Ada yang kurang dalam bidang akademik, namun unggul dalam kreatifitas bisa menggambar dan sebagainya.
Maka, setiap anak kita dapat mengeksplor apa yang menjadi passionnya, dan anak memiliki bakat serta minat yang berbagai macam. Teringat kalimat dari Albert Einstein, “Setiap orang itu jenius, tetapi jika anda menilai ikan dengan kemampuannya untuk memanjat pohon, percayalah itu adalah bodoh.” Dari sini kita bisa ambil kesimpulan sebagaimana uraian diatas, bahwa setiap orang punya keahlian masing-masing.
Membandingkan anak dengan anak yang lain adalah penganiayaan psikologis, karena hal tersebut dapat membuat anak menjadi tertekan. Dan terkadang bukan hanya orangtua, tetapi membanding – bandingkan si A dengan si B kadang juga dilakukan oleh guru. Jadi, seharusnya yang dilakukan bukan membandingkan, tetapi membimbing dan mengarahkan si anak dengan tidak memaksa.
Maksud Membandingkan untuk Motivasi
Dari kejadian di atas, kita melihat dari sisi lain. Kalau tadi sudah dari sisi anak, maka sekarang beralih ke orang tua. Anak harusnya memahami, bahwa ketika orang tua atau guru membanding-bandingkan dirinya dengan anak lain adalah dalam rangka memberikan motivasi. Tentunya harus dengan kalimat yang santun dan beradab, bukan membandingkan dengan mengeluarkan kata yang kurang baik.
Ketika anak dibandingkan dengan anak lain, kita yang menjadi anak harus memahami kalau orang tua kita ingin kita lebih baik lagi. Dan tugas kita adalah membuktikan kepada orang tua kita, kalau apa yang menjadi minat dan bakat kita, kita mampu melalukan dan memberikan yang terbaik bagi orang tua juga masyarakat.
Kalau sampai sini, jadi teringat dulu ketika masuk Fakultas Psikologi 10 tahun lalu, di mana orangtua sangat tidak setuju dan menganggap jurusan itu tidak umum. Maklum, di sekitaran rumah jika ada anak kuliah kalau tidak jurusan pendidikan, agama, ya kedokteran. Nanti di ujungnya akan mengarah kepada profesi atau pekerjaan yang akan didapat, tetapi mestinya orang tua mengerti kalau sekolah untuk mendapat ilmu, bukan semata-mata demi memperoleh pekerjaan.
Namun, apa yang dikatakan orang tua pun pula dengan kalimat membandingkan dengan anak lain, tapi anggap saja itu sebagai pelecut semangat untuk membuktikan, bahwa apa yang menjadi pilihan kita adalah baik dan kita mampu menjadi lebih baik. Tetapi ketika kita menyangkal pendapatnya juga seharusnya dengan cara yang baik, ditambah dengan memberikan penjelasan agar mereka mengerti. Apa yang menjadi keinginan kita, apa kemampuan yang ada dalam diri kita. Sehingga tidak terjadi kesalahpahaman, dan miss komunikasi.
Orang Tua Hanya Ingin Kita Baik
Semua orang tua pasti ingin anaknya sukses, sukses dalam hal karir pun pula sukses dalam akhlaknya. Maka tidak heran, jika tindakan atau ucapan kita kurang baik, orang tua langsung respon dan kadang memarahi kita. Sehingga kadang muncul kalimat perbandingan sebagaimana di atas, maka anak haruslah lebih memahami maksud dari oran gtua. Karena tak semua orang tua mengetahui maksud anaknya, dan tidak pula semua anak memahami maksud orang tuanya.
Maka hal terpenting adalah membangun komunikasi, baik anak dengan orang tua ataupun siswa dengan gurunya, karena guru adalah orang tua kita di sekolah. Jadi dari sekian banyak kejadian yang sering membuat anak-anak ataupun remaja hingga dewasa merasa marah, adalah ketika ia dibandingkan dengan sebayanya. Hal ini bisa menjadi baik apabila si anak memahami kalau maksud oran gtua adalah memberikan motivasi, namun akan menjadi kurang baik ketika penyampaiannya dengan cara yang tidak baik pula.
Oleh karena itu, mari kita sebagai anak lebih memahami orang tua kita dan ketika kita sebagai orang tua, kita harus lebih memahami kondisi psikologis anak kita. Dan cara untuk memahami tersebut adalah dengan membangun komunikasi, dengan begitu anak dan orang tua bisa saling sharing dan terbuka atas apa yang ada pada dirinya. Sehingga menghasilkan titik temu, serta dapat saling mengerti kemauan dan kemampuan satu sama lain. (*)
Guru, jurnalis, kader Muhammadiyah dan penikmat sepakbola asal Lamongan.
