Site icon Inspirasi Muslimah

Utopia Mengenai Aturan Protokol Kesehatan

protokol kesehatan

Sambil menunggu keberhasilan proses vaksinasi Covid-19, mari kita mencoba merenung sejenak mengenai penerapan protokol kesehatan. Selama pandemi berlangsung, fakta menunjukkan bahwa banyak sekali orang yang tidak menjalankan protokol kesehatan dengan baik dan benar sehingga berakibat pada naiknya jumlah kasus penyebaran virus covid-19 ini. Namun tidak bisa dipungkiri bahwa permasalahan kehidupan ini sangat kompleks.

Sejak dulu, kita tidak hanya berhadapan dengan masalah kesehatan tapi banyak sekali masalah yang kita hadapi. Sebagian orang bisa saja menerapkan protokol kesehatan dengan baik dan benar tapi sebagian orang merasa sangat kesulitan atau bahkan terbebani jikalau tetap menerapkan protokol kesehatan dalam menjalankan aktivitasnya.

Seperti saat bekerja, ada yang bekerja dengan duduk santai sedangkan di sisi lain, ada juga yang bekerja sampai berkeringat penuh basah. Hal ini menandakan bahwa suatu aturan itu masih mempolitisasi. Maka, perlu kiranya menjadi bahan renungan kita bersama bahwa di dunia ini, dalam menyikapi permasalahan tidak bisa dilihat hanya dari satu sudut pandang saja tetapi perlu adanya elaborasi dari berbagai sudut pandang untuk menghasilkan suatu kemaslahatan.

Kehidupan ini dinamis, tidak statis

Tidak ada salahnya aturan itu dibuat, toh aturan itu juga demi kebaikan bersama. Selagi mengandung kebaikan di dalamnya, why not?. Namun kembali lagi bahwa permaslaahan di dunia ini sangat kompleks. Untuk mencapai kesempurnaan dalam menyelesaikan masalah adalah suatu hal yang mustahil. Tidak bisa semua permasalahan dipukul sama rata. Kehidupan ini dinamis, tidak statis. Adakalanya bahagia, adakalanya juga sedih. Menuntut sesuatu yang tidak memberikan kemaslahatan akan berakibat fatal karena manusia adalah makhluk sosial yang selalu membutuhkan manusia lain.

Hidup bukan hanya soal tuntun-menuntut karena apa yang engkau tuntut jika tidak sesuai dengan keinginanmu, jadinya hanya kekecewaan yang muncul. Dari kekecewaan ini bukannya masalah cepat selesai, justru masalah itu akan menjadi-jadi karena keinginan dari tuntutan itu tidak sesuai dengan apa yang diinginkan. Dalam konteks protokol kesehatan, mungkin sekali terjadi kekecewaan dari pihak nakes (tenaga kesehatan) karena telah kelelahan dalam menangani jumlah kasus covid-19 yang semakin hari kian bertambah tetapi kekecewaan itu sebenarnya juga menimpa banyak sektor terutama ekonomi, banyak sekali yang kehilangan pekerjaan akibat dari penerapan aturan protokol kesehatan.

Setiap orang memiliki potensi kebenaran dalam memandang permasalahan

Ketika sudah tidak ada rasa saling untuk memahami maka tinggal menunggu kekacauan yang terjadi. Ketimpangan-ketimpangan sosial akan muncul dan korban jiwa akan semakin banyak berjatuhan. Maka munculah pertanyaan dari sila ke dua dan ke lima. Di manakah manusia yang adil dan beradab itu jika rasa saling memahami saja sulit untuk diwujudkan? Kalau begini saja sudah sulit apakah realistis bagi kita untuk berharap terwujudnya keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Jodoh memang, kalau pemerintahnya rakus karena rakyatnya juga sama rakusnya.

Dalam kasus ini bukan soal mencari siapa yang benar tetapi mencari apa yang benar. Setiap orang memiliki sudut pandang masing-masing terhadap suatu permasalahan, jadi setiap orang memiliki potensi untuk benar. Tidak perlu ngotot dengan kebenaran sendiri, bisa jadi apa yang kita anggap benar, bisa saja salah dan apa yang kita anggap salah itu bisa saja benar. Tidak semua yang ada di dunia ini dapat dicerna oleh akal, terkadang kita juga perlu menundukkan akal kita supaya dapat melihat nikmat yang telah diberikan oleh Allah Swt. Nikmat yang tidak mungkin bisa kita rasionalkan dengan akal kita.

Kesadaran dalam memahami penerapan protokol kesehatan

Menjalankan era adaptasi kebiasaan baru tidak semudah membalik telapak kaki atau bahkan lebih sulit menjalankannya dari pada membalik telapak kaki, hehe. Nggak lah ya. Bisa saja adaptasi kebiasaan baru itu berjalan sesuai dengan apa yang menjadi gambarannya tetapi kembali lagi ke diri masing-masing. Sudah siapkah kita dengan itu semua?

Sudah sampai level mana kesadaran kita dalam menjalankan protokol kesehatan itu? Jika kesadaran itu hanya seperti butiran debu yang mudah terombang-ambing oleh hembusan angin, tentunya era new normal itu sulit sekali terwujud sesuai dengan apa yang menjadi gambarannya.

Jadi, Kesadaran adalah hal penting yang harus ada dalam diri seseorang jika hendak melakukan segala sesuatu, terutama jika menyangkut kemaslahatan bersama. Bagaimana mungkin seseorang itu dapat merasakan keber-makna-an dalam hidup jika kesadaran saja tidak ada dalam dirinya. Hidup akan terasa hampa tanpa ada keber-makna-an yang menjadi pencarian setiap orang.

Mengutip pemikiran salah satu filsuf terkenal jerman Martin Heidegger dalam being and time, bahwa manusia itu sebagai dasein (ada-di-sana) atau ada dalam dunia. Dunia di sini adalah konsep pemikiran yang berhubungan dengan benda atau manusia lainnya. Dalam memahami tentang ada, tentunya harus membahas yang memikirkan dan menyadarinya yakni manusia. Maka, keber-makna-an itu akan ada jika manusia itu berpikir dan sadar.

Bercita-cita tanpa melibatkan kesadaran diri ibarat peribahasa tong kosong nyaring bunyinya. Sadar bahwa kita ini tahu akan ada kebaikan dari apa yang kita lakukan tapi tidak mau melakukannya. Secara tidak sadar kita telah melewatkan tabungan pahala dengan sia-sia. Segala kebijakan-kebijakan yang telah dibuat hanya akan menjadi hiasan dinding semata kalau tidak ada tindak kesadaran dari kita untuk saling memahami satu sama lain.

Selama proses saling memahami ini lama, maka tidak menutup kemungkinan selama itu pula masalah ini akan terselesaikan. Semoga kita semua bisa sadar diri dan segera bertindak untuk melakukan yang terbaik. Rahmania, hidup hanya sekali, maka hiduplah yang berarti. Thank you very much.

Bagikan
Exit mobile version