Karena sedang ingin menulis mengenai cara memilih jurusan kuliah, saya jadi berselancar ke berbagai tulisan lain sejenis. Rata-rata tulisan ini selalu dibanjiri komentar dari para remaja yang ragu dengan minatnya. Misal, seorang remaja berseloroh bahwa dirinya suka sekali mengulik make up dan skincare, lalu bagaimana ia akan menjadikan ini sebagai sesuatu yang akan ia pelajar sebagai ilmu empirik? Pada bagian lain, seorang berkata : saya suka musik, pengen banget sekolah musik, tapi apa bisa jadi duit kalau belajar ini? Atau sedikit yang memberi komentar : kuliah ya kuliah aja, kalaupun nantinya nggak ketemu sesuatu yang menarik tapi sudah terlanjur sekolah, ya dinikmati aja. Pasti nggak ada ruginya. Benarkah?
Begini. Sebagai seseorang yang kuliah S1 selama 11 tahun, saya akan bercerita sedikit. Saya punya gelar sarjana sosial, kuliah di jurusan Ilmu Kesejahteraan Sosial. Awalnya, saya berputar dulu selama 4 tahun belajar psikologi, semua ini berawal ketika saya sekolah menengah. Kakak saya membeli buku melihat kepribadian seseorang dari bentuk tubuh. Karena saya membaca buku ini juga, saya merasa psikologi adalah ilmu yang menarik. Tak terlalu menarik sebetulnya, sebab saya ingin sekali kuliah di periklanan.
Semarang, adalah satu satunya kota terdekat untuk belajar ini. Nyatanya karena kakak saya sudah duluan kuliah di Purwokerto, orang tua ingin saya sekolah di kampus yg sama dengan kakak. Kampus ini tak punya jurusan periklanan, saya juga tak mahir jadi guru dan FKIP tentu menjadi jauh dari bayangan. Ekonomi pun saya lemah, meskipun saya IPS bahkan hingga lulus saya tak bisa membedakan transaksi mana yang bisa masuk ke kolom kredit atau debit. Bodoh? Ya boleh lah. Di kampus kakak saya ini, psikologi adalah jurusan yang masuk akal bagi saya. Untungnya, orang tua saya acc.
Tapi seiring berjalannya waktu, Psikologi tak semenarik itu bagi saya. Saya menyukai hal lain. Tapi, hal ini tak ada di fakultas manapun. Hingga pada tahun 2010, saya pindah ke Jogja dan meninggalkan kuliah awal itu. Begitu saja, saya campakkan. Kakak saya, lagi-lagi memberi secercah harapan : ada jurusan kamu banget, bisa kerja di NGO nih. Kamu banget lah. Termakan dengan bujuk rayu itu, mendaftarlah saya kesana. Dan lulus dari sana.
Seindah itu? Ya tidack dong ya,
Kuliah ini hampir saya tinggalkan, banyaknya kendala dan peristiwa membuat saya akhirnya lulus dengan segala kebaikan. Saya lulus dengan mudah di hampir semua Pelajaran. Nilai A dengan mudah saya dapatkan, lebih lagi saya candu dengan berbagai buku berbau gerakan sosial dan pemberdayaan di kampus sebelumnya. Passion saya dimanja. Tapi saya lupa, soal konsistensi. Bahwa setelah belajar ada tanggung jawab keilmuan yang harus dijalani dengan telaten. Ketelatenan ini hal yg luput saya miliki. Lalu teman seangkatan sudah lulus, saya terkena perubahan kurikulum.
Beberapa pelajaran harus saya ulang dengan angkatan bawah, ini tentu menggerus ego saya. Saya belajar sambil menahan malu. Dengan 1 hambatan sepele saja, saya bisa dengan mudah tak berangkat. Siklus ini menjadi momok yang terulang begitu saja. Maka, minat, passion, atau apapun yang kita sebut sebagai pemicu utama belajar adalah berhala yang hanya menjadi bahan bakar diawal. Sisanya adalah telaten, sabar, dan taat aturan.
Kadang passion kita harus bertemu dengan sistem. Di depan sistem, passion kita mungkin hanya seonggok hasrat yang tak mamu berbicara banyak tanpa dibarengi kesungguhan untuk menuntaskan hasrat belajar. Maka jika anda – para pembaca budiman—merasa bahwa passion adalah segalanya, bisa jadi. Tapi segalanya ini harusnya memiliki banyak teman agar terbukti dan bertahan. Apakah ini membawa saya hidup berkecukupan? Bisa jadi, saya masih menggunakan alur logika pekerja sosial dalam setiap pekerjaan saya. Berbeda dengan banyak teman yang bekerja sebagai pekerja sosial, saya bekerja serabutan. Sekali waktu saya sebagai tukang audit lembaga, staf MEL, fasilitator, trainer, apa saja saya lakukan dengan senang hati. Ini semua karena : asal halal, dan dibayar.
Jurusan yg saya pelajari bukanlah jurusan yg ideal, tapi saya suka. Jurusan ini seringkali tak membawa kesejahteraan—kendati Namanya demikian—tapi passion saya saat mengulik setiap apa yg saya pelajari di sana membawa saya sebagai manusia pembelajar. Dan jurusan ini, tak menjanjikan jenjang karir. Jika kamu kuliah di FKIP, mungkin awalnya kamu jadi guru, lalu kelamaan menjadi Kepala sekolah, atau diatas itu. Lalu pekerja sosial, jenjang karir macam apa yang akan kamu raih?
Di sinilah saya merasa, jurusan kuliah memang sepenting itu. Kesadaran akan minimnya jenjang karir membawa saya pada kesadaran lain : bahwa karir tidak selalu vertikal. Karir, bagi saya idealnya juga berjalan horizontal. Bagaimana itu terjadi? Sebab awalnya saya menjadi pekerja sosial, lalu seiring berjalannya waktu saya mendapatkan peningkatan kapasitas melalui pelatihan kebijakan, ke fasilitatoran, menulis policy brief, bahkan kapasitas lain yang tak terbayangkan. Kapasitas ini yang membuat karir saya berkembang. Saat lulus saya adalah pekerja sosial dengan kemampuan general, lalu saat lulus dan bekerja saya menjadi fasilitator pemberdayaan, dengan kapasitas melakukan monitoring dan evaluasi, trainer perubahan perilaku, bahkan kemampuan desain program.
Kalau ukurannya adalah jenjang karir, mungkin saya kalah jauh. Tapi kalau soal gaji dan privilege karir, saya kalah makin jauh lagi. Tapi kalau soal kebermanfaatan, rasa rasanya saya cukup percaya diri bahwa ilmu saya cukup bermanfaat untuk diri saya sendiri, setidaknya. Memangnya kuliah untuk apa? Ya untuk ilmu yang bermanfaatlah, karena kabarnya ini bekal kita menuju kehidupan abadi di akhirat sana.
Activist on issues of comprehensive reproductive health and social rights
