Apakah kalian pernah membaca artikel berjudul “Seni Berkomunikasi ala Mbah Kakung” yang telah terbit di RahmaID pada 16 Juli 2021?
Jika belum, silakan membacanya.
Tepaanya, sejak usia SD itulah aku mengenal sebuah negara yang terletak di Asia Timur. Sebuah perbincangan hangat antara Mbah Kakung dan Aku di ruang TV. Kami berdiskusi bagaimana cara saling menghargai dalam percakapan, dengan berkiblat pada gaya berkomunikasi orang Tiongkok.
Peristiwa itu telah berlangsung puluhan tahun lalu, namun tetap memiliki ruang tersendiri di hatiku. Kemudian kesempatan untuk melihat Tiongkok secara langsung dari dekat datang pertama kalinya pada tahun 2018.
Entahlah, ketika menginjakkan kaki di tempat yang juga dikenal dengan sebutan negeri tirai bambu, suasana lahir batinku berbeda dibanding ketika berkunjung ke negara lainnya. Hmmm, bisa jadi rasa itu terbawa oleh pikiran positif yang telah ditanamkan Mbah Kakung padaku, ditambah, karena lidahku langsung berkata “ya” pada sajian makanan khasnya. Sup, seafood, makanan panggang hingga kukusnya, semua pantas untuk dicoba.
Sampai detik ini, baru dua kali, aku berkesempatan mengunjungi Tiongkok, berjalan-jalan di beberapa kota yang setiap tempatnya memiliki nuansa menarik. Menurutku, berikut adalah hal-hal paling kurindukan saat Pandemi Covid-19 yang membatasi siapapun untuk (sementara) tak berkunjung ke Tiongkok.
Penduduknya Baik
Meskipun harus menggunakan bantuan ponsel pintar untuk menerjemahkan beberapa kalimat tanya dan juga jawaban dalam bahasa Mandarin, mereka yang bekerja di toko-toko tempatku membeli beberapa keperluan bersikap sangat baik.
Apakah kalian mengira keramahtamahan itu hanya untuk menanggapi pembeli yang merupakan turis asing? Menurutku tidak.
Mereka tidak hanya ramah untuk menawarkan barang yang dijual, namun mereka menunjukkan ketertarikan asal negara turis yang datang.
Apakah negara tempat lahirmu indah? Sejauh apa perjalanan ke negara asalmu? Apa saja kesamaan yang terdapat di negaramu dengan Tiongkok?
Beberapa contoh pertanyaan di atas adalah sebuah ketertarikan yang sangat berbeda, dibanding sekadar menawarkan barang untuk dibeli.
Kukira, aku tidak hanya mendapat cerita baik di masa lalu melalui lisan Mbah Kakung, namun nyatanya, mereka memiliki budaya baik menghormati orang lain yang datang ke negaranya.
Kota yang Memancarkan Keindahan
Hangzhou adalah kota pertama yang kukunjungi. Sebuah tempat yang apik dan tertata indah, rumah bagi pimpinan Alibaba Group, dan merupakan lokasi KTT G-20 kesebelas yang digelar pada 2016 lalu.
Berjalan menikmati udara yang segar dengan pepohonan beragam jenis daunnya di sekitar danau barat (West Lake) sungguh menjadi salah satu hal terbaik yang bisa dilakukan di kota ini. Kemudian malam harinya, sajian luar biasa, sebuah pertunjukan digelar tepat berada di atas danau, atau yang dikenal dengan Enduring Memory of Hangzhou.
Legenda Ular Putih yang menjadi salah satu tayangan paling kugemari saat SD, bisa dijumpai sejarahnya dengan mengunjungi Pagoda Leifeng. Memiliki tinggi lima lantai dengan bentuk bangunan segi delapannya, setiap pengunjung bisa menikmati keindahan alam dari ketinggian. Bagi yang khawatir lelah, Pagoda telah dilengkapi lift untuk menjangkau lantai tertingginya.
Para Lansia (Lanjut Usia) Memilih Bahagia
Jika tak terlalu lelah, bangun pagi dan berjalan kaki di sekitar hotel menjadi aktivitas yang menarik untuk dilakukan di Tiongkok. Bagaimana tidak, karena kita akan dibuat berdecak kagum dengan rutinitas para lansia berolahraga. Mereka berkumpul, melakukan gerakan (semacam) tarian lambat namun sangat indah, diiringi suara musik, menjadi sajian yang sangat menyenangkan.
Pamandangan unik berkumpulnya lansia tak hanya bisa dilihat di sekitar tempat penginapan, namun di beberapa tempat wisata, para lansia juga mempunyai aktivitas lain yang tak kalah seru, yaitu mengunjungi tempat-tempat rekereasi bersama. Kegiatan ini menjadi aktivitas yang wajar dilakukan di Tiongkok, menikmati hari-hari mereka, dengan berwisata.
Lalu Lintas Ramah Pejalan Kaki
Kadang aku harus berlarian atau minimal berjalan cepat, ketika melewati tempat penyeberangan khusus manusia. Perasaan khawatir kadang mengiringi, jangan-jangan ada kendaraan yang menyerobot, meskipun lampu merah sedang menyala. Apalagi di jalanan ramai yang tak tersedia lampu khusus menyeberang bagi pejalan kaki.
Namun kepanikan tersebut justru tak kualami ketika berkunjung ke Tiongkok. Meskipun penyeberang jalan hanya satu atau dua orang, tak ada kendaraan yang akan tiba-tiba ngebut saat lampu giliran penyeberang menyala. Sungguh, tak terlihat kegelisahan bagi mereka yang akan menyeberang jalan.
Makanan yang Segar dan Lezat
Salah satu tempat menarik lainnya yang kukunjungi adalah Xiamen, sebuah kota di provinsi Fujian yang berada di pesisir tenggara pantai pesisir Republik Rakyat Tiongkok.
Apakah kalian penyuka seafood? Jika ya, berkunjunglah ke kota ini.
Kita bisa memilih binatang laut sebelum dimasak, dan tentu saja semuanya masih dalam kondisi hidup. Aquarium berukuran besar menyambut pengunjung yang hendak memasuki rumah makan. Calon pembeli boleh memilih jenis, ukuran, dan jumlah sesuai yang diinginkan. Jangan khawatir, karena rasanya sangat nikmat luar biasa.
Salah satu yang paling kusukai adalah sajian cumi dengan bumbu pelengkap (cocolan) kecap asin. Memang kelihatan sangat sederhana, namun rasanya sangat lezat di lidah. Seorang teman menyampaikan, cumi direbus beberapa menit dengan sedikit menambahkan minyak wijen, kemudian langsung disajikan.
Sebetulnya aku cukup penasaran dengan resep sederhana tersebut, kemudian aku mencobanya ketika telah sampai di Indonesia, memasak cumi dengan langkah-langkah yang sesuai. Rasanya memang tidak buruk, namun yang membedakan tentu saja pada rasa asli cuminya, aku membelinya di tempat belanja samping rumah, itu berarti cumi yang kudapatkan adalah cumi yang telah menghuni freezer beberapa hari sebelumnya.
Penulis puisi, pendiri Yayasan Anis Badrus Jaya Inisiatif, dan pengajar di UIN Jakarta
