Site icon Inspirasi Muslimah

Tiga Kemampuan Utama yang Harus Dimiliki Mahasiswa Sosiologi

mahasiswa sosiologi

Sosiologi ilmu tentang masyarakat, kajiannya membahas masyarakat dalam segala aspek yang luas, tapi masyarakatnya sendiri tidak kenal dengan apa itu sosiologi, riskan. Hal inilah yang akhirnya seringkali membuat mahasiswa sosiologi ragu untuk mengucapkan jurusannya secara lantang ketika ditanya jurusan kuliahnya saat kumpul keluarga besar. Ini juga sekaligus menjadi bukti tidak eksisnya sosiologi dalam edaran peradaban ilmu pengetahuan di Indonesia.

Namun, saya sebagai bagian dari jurusan aneh ini telah menemukan formula atas kemampuan utama dan mutlak yang menjadi esensi dari sosiologi sebagai salah satu jurusan di perguruan tinggi. Selain itu, kemampuan ini secara optimis saya yakini mampu mendongkrak eksistensi sosiologi jika seluruh mahasiswanya menguasai secara utuh. Saya sepakat dengan anggapan bahwa setiap disiplin ilmu selalu memiliki keunggulan masing-masing. Dan, keunggulan inilah yang harus diolah dan diasah secara konsisten agar eksistensinya terlihat dan menjadi identitas utama dari disiplin ilmu tersebut, termasuk sosiologi.

Dalam konteks jurusan di pendidikan tinggi, ciri khas masing-masing jurusan nampak mencolok. Jurusan teknik tentu identik dengan keterampilan praktis sesuai bidangnya. Teknik mesin artinya ahli mengoperasikan, memperbaiki, dan menciptakan mesin. Begitupun dengan teknik-teknik yang lain. Jurusan pendidikan terampil dalam merancang silabus, memanajemen kondisi kelas, dan menyampaikan materi secara efektif dan efisien kepada siswa.

Jurusan olahraga tentu memiliki skill dan kemampuan cabang olahraga tertentu yang bisa berkontribusi dalam ajang-ajang keorlahraan berbengsi. Lalu, bagaimana dengan sosiologi? Ilmu yang secara konsep terkesan membingungkan dan sering dibilang mengkaji sesuatu yang abstrak seperti masyarakat.

***

Sejauh saya belajar dan menekuni bidang sosiologi, hanya ada 3 kemampuan yang berpotensi menjadi ciri khas mahasiswa sosiologi. Ketiga kemampuan ini harus secara mutlak dimiliki dan diasah secara konsisten jika ingin menjadi mahasiswa sosiologi sejati dan membedakan diri dari mahasiswa lain. Ketiga kemampuan itu biasa saya sebut 3M, membaca, menulis, dan ‘membacot’.

Pertama ialah membaca. Membaca seharusnya menjadi ciri khas setiap mahasiswa. Namun, bukan rahasia umum lagi bahwa kebanyakan mahasiswa saat ini malas untuk membaca. Mirisnya, belakangan ini semakin banyak mahasiswa yang secara terang-terangan mempermalukan identitas dirinya sebagai mahasiswa dengan mengatakan “saya mahasiswa, tapi saya malas baca”. Sebuah pernyataan yang sangat kontradiktif, aneh, dan seharusnya tidak masuk akal. Pernyataan ini jangan sampai keluar dari mahasiswa sosiologi, ingat!!!

Tapi, terlepas dari itu semua, jikapun membaca menjadi ciri mahasiswa, maka mahasiswa sosiologi harus membaca lebih banyak, tekun, dan gila. Sebab, sosiologi adalah ilmu dengan segudang teori. Argumen berbasis teori adalah ciri utama mahasiswa sosiologi. Maka dari itu, wawasan luas akan teori-teori itu harus menubuh dalam diri mahasiswa sosiologi dengan kemampuan membaca yang mantap.

Kemampuan kedua ialah menulis. Setiap mahasiswa pasti akan dituntut untuk menulis skripsi atau karya ilmiah lainnya. Namun, tidak semua mahasiswa mampu menuliskan gagasan intelektualnya dengan teknik menulis yang menggugah dan mengagumkan. Maka dari itu, jika mahasiswa jurusan lain belum tentu mampu menulis karya akademik dengan bagus, sudah seharusnya celah ini menjadi makanan empuk mahasiswa sosiologi dengan pendistribusian gagasan intelektualnya yang kaya dari membaca ke dalam tulisan berkualitas dan menggugah pembacanya. Singkatnya, tulisan mahasiswa sosiologi harus bagus dan secara mutlak lebih unggul dari tulisan mahasiswa jurusan lain.

*

Kemampuan ketiga sekaligus terakhir adalah ‘membacot’. Kemampuan ini ditujukan untuk menunjang ciri sosiologi yang bersifat dialektis. Dialog antar mahasiswa sosiologi ataupun dengan mahasiswa lain harus bersifat progresif dan kritis. Perdebatan harus menjadi bagian tubuh mahasiswa sosiologi yang syarat utamanya adalah menyampaikan gagasan melalui perkataan (membacot). Berdialog secara progresif dan kritis tidak bisa lepas dari argumen. Dan, syarat argumen adalah landasan teori, data, atau fakta. Ketiga syarat tersebut harusnya telah dimiliki oleh mahasiswa sosiologi dalam pikiran dan bahkan di alam bawah sadarnya jika membaca dan menulis dijadikan sebagai ritual rutin.

Ketiga kemampuan di atas, membaca, menulis, dan membacot, saya katakan sebagai kemampuan utama sekaligus mutlak yang harus dikuasai mahasiswa sosiologi untuk bisa eksis dan bersaing dengan mahasiswa jurusan lain. Ketiganya juga harus berproses secara sistematis. Membaca dulu dengan baik, barulah akan mampu menulis gagasan sosiologis yang berkualias. Begitupun dalam ‘membacot’. Mahasiswa sosiologi dapat ‘membacot’ dengan baik dan sosiologis jika bacaan sudah kuat dan mantap. Jangan sampai terbalik-balik. Kadang, dan bahkan banyak mahasiswa sosiologi yang terlalu banyak ‘membacot’, tapi lupa membaca dan menulis. Bahkan tidak suka membaca dan menulis sama sekali. Sehingga, ‘bacotannya’ tidak mengandung esensi sosiologis dan terkesan berisi curhatan dan keluh kesah sampah masyarakat semata.

Bagikan
Exit mobile version