Hujan belum berhenti; bisa terdengar riuh membasahi bumi, sedang aku masih berjibaku dengan laptop, pulpen, dan bukuku. Sesekali ‘kubetulkan posisi dudukku, meregangkan sarafku, dan menghela nafasku.
“Semangat.”
Setidaknya aku masih bisa bernafas lega tanpa tekanan dan beban yang saban hari ‘kutanggung. Sekali saja, tak ada hal lain yang ‘kulakukan selain melakukan hobiku.
Aku adalah anak pertama dua keluarga besar dari pihak ayah dan ibu; anak pertama sekaligus cucu pertama yang menjadi harapan besar keluargaku. Ini membuatku berpikir, bahwa sukses adalah menjadi role model yang baik untuk adik-adikku, terlepas dari fakta bahwa aku perempuan. Pundakku harus tetap kokoh, senyumku harus tetap mekar, tawaku harus tetap renyah, sementara sakit dan keluhku harus tetap ‘kusimpan.
Aku tumbuh dari keluarga yang sederhana; ayah bekerja sebagai guru, dan ibu sebagai ibu rumah tangga. Namun begitu, mereka adalah pahlawan bagiku. Mereka mengajarkanku menjadi anak yang hebat, yang kuat, dan mandiri.
Tak bisa ‘kupungkiri, sejak kecil aku seringkali iri dengan teman-teman sebayaku. Pertanyaan “mengapa aku tak bisa berpakaian – mengenakan baju dan tas seperti mereka?” tak jarang menyerang benakku. Namun begitu, aku kembali tersadar, bukannya ayah tak ingin, tetapi kehidupan kami masih sangat terbatas. Kondisi ini membuatku berpikir untuk bagaimana menghasilkan pundi-pundi Rupiah agar aku bisa membeli apa yang aku inginkan tanpa harus meminta dan membebani mereka.
Di sekolah pun, aku mati-matian untuk menjadi yang terbaik. Lagi-lagi rasa iri tak luput mewarnai kehidupan anak belasan tahun ketika melihat teman mereka yang lebih pintar. Pertanyaan “mengapa aku tak sepintar mereka?” pun hadir. Tak tahan tenggelam dalam pikiran semacam itu membuatku memaksakan diri untuk mengejar beberapa digit angka di atas lembaran raport. Namun, entah mengapa, aku belum puas dengan semua pencapaian yang susah payah ‘kudapatkan itu.
Obsesiku pada kesuksesan sangat besar. Aku meletakkan semua pencapaian hidupku pada standar yang tinggi dan naif; bahwa sarjana itu sukses, punya penghasilan sendiri itu sukses, mendapatkan pendamping hidup dengan gaji yang banyak itu sukses, pendamping yang tajir itu sukses, makan di tempat mewah itu sukses, punya mobil itu sukses, mengenakan tas dan pakaian branded itu sukses.
Makna sukses tersebut ‘kutaruh dalam-dalam di hatiku. Aku mengejarnya secara buta tanpa berpikir apa yang sudah aku korbankan. Namun saat itu, aku tidak berpikir tentang berapa banyak luka yang ‘kudapatkan dalam pengejaranku, karena kebahagiaan keluarga besarku adalah yang paling utama; meskipun berat, yang penting orang-orang di sekelilingku bersorak untukku.
Setelah lama berlalu, aku sadar — aku salah. Aku justru merasa bahwa semua menjadi lebih berat dari biasanya ketika aku menaruh semua pencapaian itu ke dalam genggamanku. Itu membuat dadaku sesak!
Sebenarnya apa yang terjadi? Sebenarnya aku kenapa?
Aku menapak tilas semua perjuanganku. Aku telah menjalani banyak profesi untuk sampai ke titik di mana semua orang memberi sorak atas pencapaianku kemarin:
Di usia belia ‘kuhabiskan waktuku untuk menghasilkan pundi-pundi rupiah dengan bekerja membudidayakan rumput laut. Di usia remaja ‘kuhabiskan waktuku untuk belajar demi menjadi yang nomor satu di kelas di samping ikut membantu anggota keluarga yang membutuhkan tenaga mudaku untuk menghasilkan Rupiah. Saat masa transisiku menuju dewasa aku habiskan untuk menjadi pedagang keliling di samping sibuk berkuliah dan membuka kursus bahasa asing.
Aku berusaha menjadi yang terbaik sampai lupa dengan apa yang ‘kuinginkan; apa yang membuatku bahagia, dan mengapa aku terlalu memaksakan diri. Sebab pada akhirnya, saat semua pencapaian itu retak, orang-orang dengan mudahnya menjatuhkan dan mencemoohku tanpa berpikir berapa banyak jalan berliku, yang beronak dan berduri, yang telah aku lalui. Sebagian orang merendahkanku, tidak menghargai pengorbananku, bahkan menganggapku secuil remah-remah hanya karena level sosial mereka yang berada satu tingkat di atasku.
Apakah aku harus berlomba mengejar tingkatan-tingkatan semacam itu lagi dan mengalahkannya? Tidak lagi! Tenagaku sudah mulai habis. Aku lelah, sampai aku lupa cara menikmati hidup. Setidaknya saat ini aku bersyukur dengan kalimat tulus dari kedua orang tuaku: “Kamu kebanggaan ayah. Kamu kebanggaan ibu. Kamu anak yang kami nantikan selama lima tahun lamanya dan kamu berharga bagi kami.” Kalimat ini menyadarkanku, bahwa Tuhan memang memilihku untuk sanggup melewati semua rentetan masalah hidup yang berjejer rapi ini.
Aku perlahan mulai mengubah semuanya: Di mulai dengan membenahi sudut pandangku tentang apa yang aku inginkan, apa yang aku butuhkan, dan apa yang bisa membuatku bahagia. Aku mulai berhenti berkorban selain untuk diriku sendiri.
Seseorang pernah mengatakan bahwa, “Tidak ada yang terlambat. Semua orang punya waktunya sendiri. Kau bisa memulainya lagi dengan versi dirimu yang baru, hanya saja kamu harus mengubah sudut pandangmu terlebih dahulu.” Itu benar. Aku berharga, aku bernilai dan aku harus meletakkan nilai itu dengan layak kali ini.
Mungkin Tuhan ingin memberitahukanku bahwa apa yang telah aku raih tak akan menuntunku kemana-mana. Sebab sukses bukan dinilai dari harta dan jabatan, tetapi hal-hal kecil dan sederhana yang bisa membuatku bersyukur dan bahagia. Jadi, sejatinya sukses adalah menjadi “bahagia”. Percayalah, hidup itu melelahkan jika hanya dihabiskan untuk mengejar pengakuan dan sorak-sorai orang lain.
Dengan ini, aku titipkan surat untuk anak perempuan pertama di luar sana yang tak mau bercerita tentang dirinya kepada keluarganya, yang tiap malam selalu diselingi tangisan, insomnia, dan overthinking.
Aku titipkan surat untuk anak perempuan pertama di luar sana yang selalu menutup dirinya rapat-rapat karena tak ingin menjadi beban, yang bersusah payah membangun dirinya sampai benar-benar menjadi mandiri, yang kerapuhannya seolah tak berujung, dan yang nyaris terjerembap dalam jurang keputusasaan.
Ingat, kamu kuat, kamu hebat, dan kamu berharga!
Perempuan dan guru sederhana yang menyukai hujan, pena, dan aksara. Instagram : @nhhumaerah.
