Site icon Inspirasi Muslimah

Support System yang Baik untuk Cegah Ibu Depresi

support system ibu

Pandemi belum usai dan kita harus berhadapan kembali dengan kasus pembunuhan yang dilakukan seorang ibu. Seorang ibu berinisial KU menganiaya tiga anak kandungnya (20/3), satu anak meninggal dunia dan dua anak lainnya mengalami luka serius.

Ditinjau dari segi manapun pembunuhan adalah hal yang sangat jahat dan apapun alasannya tidak diperbolehkan. Banyak pihak yang membahas kasus ini sebagai permasalahan yang kompleks. Maka kali ini tim redaksi mencoba menuliskan bagaimana pandangan Rita Pranawati, founder Rahma.ID dalam melihat permasalahan ini.

 Kondisi Ibu dalam Keluarga

Menjadi pasangan yang saling mengerti dan saling memahami adalah sebuah idealitas. Membangun komitmen bersama sebelum pernikahan menjadi bagian yang penting, namun faktanya tidak sesederhana yang kita ucapkan. Ada prinsip-prinsip dasar dalam membangun ketangguhan keluarga.

Pertama, adanya keterbukaan dan saling mengerti. Bahkan sebelum menikah perlu membicarakan bagaimana bila salah satu tidak bisa mengendalikan emosi, bagaimana cara menenangkannya dan apa yang harus pasangan lakukan. Kedua, melihat kondisi ibu yang berusaha melakukan kekerasan kepada anak adalah gambaran perempuan yang menjadi korban dalam situasi pandemi. Banyak beban domestik yang harus ia lakukan dan itu tidak mudah.

Berdasarkan survei KPAI tahun 2020, pengasuhan dan pendampingan pembelajaran anak dominan di ibu. Hal ini dapat menjadi trigger bahwa perempuan mendapat beban berlebih dan memenagrauhi situasi emosinya. Selain itu, berdasar survei Komnas Perempuan, ada 3 jam lebih banyak perhari beban kerjanya yang menimbulkan kondisi psikis yang tidak sehat jika tidak ada dukungan dari lingkungan sekitar.

Oleh karena itu, ketika ada kejadian seperti ibu KU harusnya ada support system yang baik dari lingkungan. Seorang ibu bisa mengalami kelelahan karena urusan domestik dan mengurus anak. Jika tidak ada tempat mengadu atau bercerita dapat berakibat menjadi depresi yang berkepanjangan. Terlebih lagi jika seorang ibu mentalnya tidak tangguh dan juga mengalami kesulitan ekonomi.

Orang-orang seperti ini harus mendapat dukungan agar bisa pulih kembali, mendapatkan kasih sayang dan juga support system yang lebih baik. Keluarga inti harus menjadi support system yang baik, ada tempat untuk bercerita, tidak memendam masalah, ada tempat berbagi. Tidak semua perempuan siap dan sanggup untuk menjadi tangguh karena latar belakang dan proses tumbuh kembang yang berbeda.

Support System Keluarga, Lingkungan Sosial dan Institusi

Ibu KU, adalah orang yang memiliki gangguan mental karena situasi sehari-hari. Gangguan ini penyebabnya ada dua yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktir internalnya adalah sebrapa tangguh kepribadian, daya juang, dan skill mengatasi masalah. Sementara faktor eksternal antara lain support system di sekitarnya yang menguatkan dia untuk tangguh dalam menyelesaikan masalah untuk mengurangi beban emosi.

Melihat kasus Ibu KU, situasi perjalanan hidupnya kompleks; LDR dengan suami dan mengasuh anak tanpa bantuan siapapun. Kita melihat tidak ada keluarga inti yang menjadi support system, maka seharusnya keluarga besar harus menjadi sistem pendukung selanjutnya. Jika keluarga inti dan keluarga besar tidak dapat menjadi support system, maka dukungan selanjutnya berasal dari lingkungan sosial, tetangga misalnya dan kemudian support system institusi.

Bagi keluarga yang tidak memiliki masalah ekonomi, support system dapat diperoleh dengan hal berikut ini : tidak memasak karena bisa menggunakan layanan pesan antar makanan; menggunakan jasa laundry, dan menitipkan anak di daycare. Sehingga seorang ibu memiliki kelegaan waktu untk beristirahat secara mental maupun fisik.

Beban ganda yang Ibu KU alami adalah sebagai pengasuh anak yang utama, mengurus rumah tangga, kemudian juga sebagai tulang punggung keluarga. Ibu KU mengalami proses yang cukup lama, sehingga ia mengalami kebuntuan-kebuntuan yang tidak mudah. Dia tidak tahu di mana tempat untuk konsultasi keluarga dan juga tidak tahu di mana tempat konsultasi pribadi. Akhirnya masalah yang dipendam menumpuk bertahun-tahun dan kemudian keluar menjadi halusinasi. Hal seperti ini tidak terjadi tiba-tiba, tapi berproses. Namun, masalahnya tidak ada orang di sekitar yang memperhatikan apa yang terjadi pada Ibu KU.

***

“Hari ini saya kira semua pihak harus memberi dukungan, saling support system untuk memberi ruang untuk bercerita untuk membantu.” tutur Rita Pranawati.

Situasi yang dialami ibu KU tidak mudah. Rahmania harus bersimpati kepada orang-orang dengan situasi seperti ini. Ibu dengan beban ganda yang support system keluarga yang tidak siap kemudian sumber daya ekonominya tidak siap perlu mendapatkan dukungan dari lingkungan sosialnya.

Kita perlu mengenalkan kepada masyarakat bahwa ada lembaga-lembaga yang dapat memberikan dukungan dan menjadi tempat untuk bercerita. Ada Layanan Pusat Pembelajaran Keluarga (PUSPAGA), Lembaga Konsultasi Kesejahteraan Keluarga (LK3), dan juga layanan-layanan mandiri lainnya yang ada di media sosial.

Editor : Mona Atalina

Bagikan
Exit mobile version