Setiap orang memiliki cerita hidup yang berbeda-beda. Tentang kerja keras meraih mimpi; hiruk pikuk kehidupan yang ia jalani; dan tentang kisah kasih yang sedang ia alami, serta masih banyak lagi. Cerita-cerita itu berganti-ganti setiap harinya. Terkadang ada cerita hidup yang sesuai dengan apa yang telah direncanakan. Tetapi, acap kali di luar prediksi, alias realitas tidak sesuai ekspektasi.
Dari sekian banyak cerita hidup itu, banyak orang mencoba menuliskan kisahnya. Entah itu cerita baik maupun cerita buruk sekalipun. Dengan menulis, cerita-cerita itu akan menjadi abadi. Selain itu, menulis bisa menambah uang saku. Media massa selalu memberikan fee kepada para penulis. Mulai dari menulis cerpen, artikel, opini, esai, puisi, dan genre tulisan lainnya. Apalagi kalau sudah berhasil menulis buku, banyak kelebihan dan keuntungan yang dapat seseorang peroleh.
Meski semua orang bisa menulis, tetapi tidak semua orang bisa menjadi penulis. Lalu, apa sebenarnya rahasia para penulis untuk bisa sukses menulis? Bagaimana seorang pemula bisa semakin bagus tulisannya? Tirakat apa saja yang perlu penulis kerjakan agar tulisannya banyak mendapatkan apresiasi? Tulisan ini, sedikit banyak akan mencoba membongkar rahasia sukses menulis dengan cepat meski dari seorang pemula.
Menulis itu Butuh Skill
Sama halnya ketika menulis status. Ketika menulis status di Facebook bisa ala bucin, ala pemuda hijrah, dan sebagainya, otomatis membutuhkan gaya tulisan yang sesuai pada konteksnya. Sebab itu, skill menulis itu penting, dan perlu. Seorang penulis perlu terus konsisten mengasah skill menulisnya. Penulis tidak boleh berhenti mencoba, sampai pada akhirnya, penulis akan menemukan gaya menulisnya sendiri.
Contoh nyata, penyair terkenal Joko Pinurbo. Cerita perjuangan beliau menuju seorang penyair raksasa seperti sekarang, ternyata pernah mengalami keputus asaan, tetapi tidak pernah ia berhenti mengasah skill. Beliau terus mencoba. Perlu 13 tahun beliau mendalami puisi. Beliau perbanyak membaca puisi—seperti puisi milik Sapardi—dan mencari celah tentang puisi apa yang belum pernah ditulis penyair. Dan beliau pun berhasil.
Menulis itu Pekerjaan Sunyi
Mau tidak mau, ketika sudah memutuskan ingin menjadi penulis maka haruslah betah dan mau untuk bekerja keras. Juga, harus siap jika tulisannya mendapatkan komentar dan koreksi. Sebab itu, menulis itu butuh dorongan, seperti ingin terkenal. Atau, seperti dorongan menulis adalah dengan menulis bisa mendapatkan uang. Itu tidak masalah. Sebab, dari dorongan-dorongan itulah yang akan menambah kualitas dan kuantitas tulisan.
“Menulis itu 90 persen motivasi, dorongan. Sisanya, 10 persennya baru teori, teknis.”
Pernyataan di atas itu saya dapatkan dari penulis kondang Aguk Irawan. Beliau memiliki pesantren yang aktif di bidang sastra. Para santrinya sudah memiliki buku. Rahasia sukses menulis itu 90 persen motivasi. Maka dari itu, wajib hukumnya bagi seorang penulis untuk menjawab “Kenapa saya menulis?”. Dengan motivasi itu, penulis akan istikamah menulis. Penulis akan memanfaatkan media sosialnya sebagai lahan tulisannya. Motivasi itu akan membuat seorang penulis terus berlatih dan bekerja keras dalam belajar. Motivasi itu satu-satunya senjata yang bisa dipakai untuk melawan rasa malas dan bosan, melawan sunyi.
Belajar Menulis dari Dua Model: Mudah dan Sulit.
Tantangan ini lebih kepada “Bagaimana cara saya menulis?”. Cara mudah menulis adalah bermain dengan kata-kata. Teknisnya, penulis pemula menulis secara mengalir saja. Penulis bisa menulis apa saja yang ia lihat, ia dengar, ia tangkap, dan begitu seterusnya.
Mudah bukan? Setiap apa yang ditangkap panca indera langsung ditulis. Saya jadi ingat ketika belajar menulis dengan penyair Iyut Fitra. Di mana posisi saya baru masuk dang suka menulis puisi. Saya berlatih menulis dari nol. Dan tidak disangka, saya mulai sedikit bisa. Tips di antara yang saya ingat dari beliau adalah menulis berbeda dengan mengedit. Itu dua pekerjaan yang berbeda.
“Kalau kamu hendak menulis tentang kenangan di kafe, tulis saja apa saja yang ada di sana. Ada kopi, meja, kursi, barista, semua. Semakin banyak yang kamu tangkap, maka semain banyak pula yang bisa kamu tulis. Pokoknya, latihan menulis bagi pemula itu menulis mengalir. Jangan ribet cari diksi dan sebagainya,” pesan Iyut Fitra.
Nah, untuk cara “sulit” dalam belajar menulis, adalah sebelum menulis harus sudah membaca banyak buku atau bacaan sebagai referensi. Contoh sederhana, saya akan menulis novel, maka saya akan membaca 100 novel lebih dulu. Dengan begitu, tulisan ke 101 inilah yang akan menjadi tulisan terbaik. Jadi, harus memiliki kata hati, “Saya tidak akan menulis kecuali setelah membaca 100 kali novel.”
Para penulis pasti memiliki rak buku. Koleksi buku pasti banyak dan dari berbagai genre. Sebab, banyak buku berarti banyak bacaan lagi banyak referensi. Hal ini membuat para penulis cepat dalam menulis. Semakin banyak membaca, otomatis semakin banyak pula wawasannya. Duta Baca Indonesia, Najwa Shihab, mengatakan, “Membaca ialah upaya merengkuh makna, ikhtiar untuk memahami alam semesta. Itulah mengapa buku disebut jendela dunia, yang merangsang pikiran agar terus terbuka.” Baik, saya cukupkan dulu dan sekarang saatnya kamu menulis. Kamu sudah siap menjadi penulis kondang, bukan? Mari menulis!!
Lahir di Bantul, 22 tahun yang lalu. Menyelesaikan studi sebagai santri di Pondok Pesantren An Nur Bantul sejak 2009 hingga sekarang. Kuliah di Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) An Nur Yogyakarta. Beberapa tulisan pernah dimuat di media, seperti: bangkitmedia.com, SantriNews.com, rahmad.id dan pernah juga menulis berita di Koran Kedaulatan Rakyat. Sekarang, ia tergabung dalam komunitas online Rumah Membaca Indonesia (RMI) dan komunitas-komunitas online baca-tulis lainnya. Dan tinggal di Pondok Pesantren An Nur.
