Site icon Inspirasi Muslimah

Sudut Sulit Karir Perempuan

karir perempuan

Beberapa hari yang lalu saya menyimak ‘girls talk’ ala Bu Menlu Retno Marsudi, Bu Menkeu Sri Mulyani, dan Mba Jurnalis Najwa Shihab di channel Youtube Najwa Shihab dengan judul “Retno Marsudi & Sri Mulyani: Women in Power”. Banyak yang menarik dalam obrolan tersebut, salah satunya adalah pernyataan Bu Sri Mulyani tentang masa kritis dalam karir perempuan. Beliau menyampaikan kurang lebih begini “perempuan itu punya masa-masa kritis dalam karir, (yakni) saat mereka menikah, saat punya anak…”

Pandangan Diskriminatif dan Beban Ganda Perempuan Karir

Saya jadi teringat cerita tentang mama dari salah satu siswa saya. Saya adalah shadow teacher dari siswa berkebutuhan khusus di sekolah swasta inklusi di Yogyakarta. Hari pertama mengajar di sekolah, saya diberitahu oleh guru kelas dan guru pendidikan khusus mengenai orang tua salah satu siswa dengan konotasi agak negatif “mama nya itu lebih milih karir (jadi anaknya kurang terurus)”. Anak dari mama yang diceritakan tersebut merupakan anak berkebutuhan khusus sehingga membutuhkan perawatan dan perhatian yang lebih. Akan tetapi orang tuanya yakni mama dan papanya hanya sedikit memiliki waktu di rumah karena sibuk bekerja dan anaknya lebih sering bersama neneknya dan asisten rumah tangganya.

Kasus tersebut mungkin tidak asing di telinga kita. kita sering mendengar tentang dilema perempuan memilih antara karir dan anak. Ketika perempuan mengambil pilihan yang mungkin tidak sesuai harapan lingkungan, kebanyakan dari kita seringkali refleks menaruh pandangan menyalahkan. Kita cenderung akan berpikir “kenapa mama nya ngga mengutamakan anaknya dulu?”. Tetapi karena kasus ini dekat dengan saya, saya terpantik untuk berpikir ulang, kalau saya melihat mama dari siswa saya sebagai seorang ibu mungkin cenderung akan menghakimi “ibu yang kurang baik”.

Lalu bagaimana kalau saya melihat mama dari siswa saya sebagai sesama perempuan? Bukankah beliau juga punya hak untuk berkarir setinggi-tingginya dan break the barriers. Bagaimana jika besok saya dihadapkan pada dilema yang sama dengan mama siswa saya. Kita tidak tahu persis pertimbangan dan kesulitan yang dilalui setiap perempuan sampai tiba ke keputusan yang berat.

Saya tidak membenarkan apa yang mama siswa saya lakukan. Tapi saya ingin meng-highlight bahwa perempuan juga punya hak berkarir yang sama dengan laki-laki. Kemudian jika ada kasus dalam keluarga seperti anaknya membutuhkan perhatian lebih atau lainnya, seharusnya beban tersebut tidak hanya tanggung jawabkan perempuan. Anak adalah tanggung jawab orang tua bukan hanya tanggung jawab ibu. Tapi mengapa pandangan diskriminatif seringkali hanya ditujukan pada perempuan. Sedangkan laki-laki memiliki lebih banyak ruang dan dukungan untuk mengembangkan karir setinggi-tingginya tanpa terikat kewajiban seperti mengasuh anak.

Tatanan Patriarki yang Melanggengkan Pandangan Diskriminatif

Tatanan patriarki yang sudah mapan di masyarakat seringkali membuat sesama perempuan ikut menyalahkan perempuan yang berkarir dan melakukan ‘keteledoran’ dalam urusan domestik. Seperti yang saya lakukan belum lama ini. Salah satu siswa saya membawa bekal hari kemarin yang sudah basi karena orang tua nya lupa mengganti dengan bekal yang baru.

Saya secara otomatis berpikir dan mengucap “Aduh gimana sih ini mama nya, kenapa ngga ngecek bekalnya”. Ketika perjalanan pulang ke rumah saya memikirkan kejadian di sekolah dan saya berpikir ulang. “kenapa ya saya tadi menyalahkan mama nya”. Kenapa saya tidak terpikir untuk menyalahkan papa nya. Padahal tidak ada aturan menyiapkan bekal anak adalah tanggung jawab mama. Seperti yang saya bilang di atas tanggung jawab mengasuh dan merawat anak adalah tanggung jawab orang tua bukan hanya tanggung jawab ibu.

Dukungan untuk Perempuan Karir

Banyaknya tantangan perempuan dalam berkarir memunculkan narasi “susah ya jadi perempuan, mau berkarir tapi banyak hambatannya”. Padahal katanya hak berkarir antara laki-laki dan perempuan sama, tapi mengapa ruang dan dukungannya berbeda.

Kunci keberhasilan karir perempuan adalah dukungan dari orang di sekitarnya. Ketika perempuan telah memasuki masa kritis seperti yang dibilang Ibu Sri Mulyani yakni saat menikah dan saat punya anak, dukungan dari pasangan dan keluarga merupakan pijakan perempuan untuk menapaki karirnya. Komunikasi yang baik akan memunculkan jalan tengah antara urusan domestik dan urusan karir.

Akan tetapi, pada realitanya tidak mudah untuk mendapatkan dukungan di lingkungan yang sudah terlanjur kental dengan budaya patriarki. Ada cukup banyak perempuan yang belum mendapat dukungan untuk melewati masa kritis dalam karirnya dan kemudian ‘mengalah’ dengan karirnya. Mungkin hal itu juga yang menyebabkan hari ini banyak perempuan muda memilih menunda pernikahan atau mempertimbangkan kembali keputusan memiliki anak.

Melihat hal demikian, saya dan banyak perempuan berharap semoga lebih banyak laki-laki -dan juga sesama perempuan- yang membuat perempuan tidak takut untuk menikah, tidak takut memiliki anak, tidak takut kehilangan ruang aktualisasi diri, dan merasa aman untuk melewati sudut sulit karir perempuan.

Bagikan
Exit mobile version