Ketika Anda mendengar judul di atas apa yang terlintas di benak Anda? Apakah pencemaran lingkungan, bencana alam, banjir pencemaran sampah atau malah jumlah kasus Covid-19 yang semakin meningkat? Semua itu benar, karena berkaitan dengan bumi tempat kita menetap dan hanya satu-satunya tempat kita berpijak. Jika seseorang melakukan kesalahan di sebuah lingkungan masyarakat maka masyarakatlah yang menjadi kontrol sosial yang mampu mengendalikannya.
Namun bagaimana jika kita membuat kesalahan terhadap bumi kita? Adakah kontrol sosial dari bumi yang kita huni, mungkin ada jika kita bersinggungan dengan aturan pemerintah. Tapi apakah ada efek jera yang akan berubah menjadi permanen. Jika bukan kita sendiri yang menanamkan. Melalui artikel ini penulis ingin mengajak para pembaca untuk sejenak merenung, sudah beretika kah kita selama ini terhadap tempat tinggal kita ini?
Mari Kenal Bumi Sejak Dini
Mungkin sejak kecil kita sudah diajari untuk membuang sampah pada tempatnya. Kini kita sudah harus lebih maju. Sampah yang kita buang itu lantas akan berujung kemana. Dibakar, ditimbun atau dihanyutkan. Setiap hari kita memproduksi sampah tapi sampai kapan bumi akan mampu bertahan menampung semua beban bekas. Mari kita kenali bumi ini, kenali tanahnya, mahkluk hidup yang ada di dalamnya maupun semua jenis tanaman yang selalu tersuplai untuk kehidupan manusia. Tidak mudah memang untuk memulainya tapi tidak ada kata terlambat untuk mengawalinya. Dimulai dari keikhlasan hati sedari dini dari hal kecil hingga yang detail.
Jika selama ini kita masih terbiasa mengkonsumsi plastik ketika membeli bayam hendaknya mari kita biasakan menguranginya dengan membawa tas plastik yang tidak sekali pakai. Karena asal mula plastik diciptakan adalah untuk menyelamatkan bumi. Kantong plastik pertama kali dibuat pada tahun 1959 oleh Sten Gustaf Thulin dengan tujuan untuk membantu lingkungan. Alasan Thulin menciptakan kantong plastik adalah untuk mengganti kantong kertas. Industri plastik sintetis mulai berjaya ketika saat perang dunia II. Hal ini karena ada tuntutan untuk melestarikan sumber daya alam yang langka. Dengan demikian, produksi alternatif plastik sintetis menjadi prioritas. Namun kini kenyataan sebaliknya manusia hanya membuangnya ketika kita tidak seharusnya melakukannya.
Benar adanya yang telah disebutkan dalam Al-Quran tercantum dalam Q.S. Ar Rum: 42 “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia sehingga akibatnya Allah mencicipkan kepada mereka sebagian dari perbuatan mereka agar mereka kembali.” Satu hal yang terbesit di kepala kita adalah “apakah seluruh kerusakkan alam memang di sebabkan oleh manusia?” Dalam kasus ini kita perlu menelaah bentuk-bentuk kerusakan itu sendiri.
Mengenalkan Ekoliterasi Untuk Membangun Negeri.
Semakin berkembang perdaban manusia semakin berkembang pula pola kehidupan manusia baik sektor informasi, komunikasi, teknologi, dll. Setiap orang berbondong-bondong menginginkan gaya hidup yang serba praktis. Berbagai kemudahan dapat kita capai sedemikian rupa namun sangat disayangkan hal ini tidak diirringi oleh kesadaran umat manusia untuk memperhatikan lingkungan. Oleh karena itu peningkatan pemahaman, pengetahuan, sikap dan perilaku berlandaskan lingkungan sangat diperlukan. Dalam istilahnya kita kenal dengan nama ekoliterasi.
Ekoliterasi berupaya memperkenalkan dan memperbaharui pemahaman seseorang akan pentingnya kesadaran ekologis global, guna menciptakan keseimbangan kebutuhan masyarakat dan kemampuan bumi memenuhinya. Karena sejatinya manusia adalah seorang pemimpin, khalifah di bumi. Maka wajib untuk menjaganya dan memeliharanya. Istilah ekoliterasi mungkin tidak begitu familiar tapi potensi dan esensi sangat perlu untuk dikaji. Contoh kecilnya ketika seorang ibu memiliki pengetahuan yang baik tentang ekoliterasi, akan memiliki kemungkinan besar untuk menggerakkan seluruh anggota untuk peduli lingkungan.
Mulai mengajak dan membiasakan anggota keluarganya untuk memilah sampah, bijak menggunakan plastik hingga mampu memanfaatkannya menjadi barang yang berguna. Bermulai dari perubahan kecil dari dalam keluarga akan membawa dampak besar untuk sebuah negara. Dimulai dari diri sendiri untuk selanjutnya bersama-sama membangun negeri.
Menerapkan Ekoliterasi
Permasalahan ekologi yang ditandai dengan sistem ekologi yang tidak mengalami kestabilan merupakan krisis hubungan antara manusia dan kebudayaan dengan lingkungan hidup tempat mereka bernaung, bermukim, dan mengeksplotasi sumber daya alam. Salah satu komitmen masyarakat dan pemerintah international dalam menjaga bumi dari pencemaran dan kerusakan adalah melalui pelaksanaan Pendidikan Lingkungan Hidup.
Masalah lingkungan hidup tidak dapat hanya melalui reposisi hubungan manusia dengan lingkungan alamnya. Tetapi juga harus melalui reorientasi nilai, etika, dan norma-norma kehidupan yang kemudian terealisasi dalam tindaka secara kolektif. Ekologi pendidikan menjelaskan bahwa sekolah bukan satu-satunya faktor yang mendukung keberhasilan pendidikan. Namun harapannya memiliki kontribusi besar dalam pendidikan yang bersifat kurikuler. Penerapaan ekoliterasi lingkungan dapat berupa menyediakan 25% ruang terbuka bervegetasi di rumah, membiarkan cahaya matahari masuk ketika pagi dan siang hari. Karena cahaya matahari berfungsi untuk membunuh bakteri jahat di rumah serta menggalakkan kegiatan di lingkungan melalui pendidikan sekolah. Karena aksi nyata pendidikan lingkungan hidup di tingkat sekolah mampu membentuk karakter siswa.
Memperlakukan lingkungannya dengan bijak sehingga terbangun literasi lingkungan yang pada akhirnya bermuara pada terbentuknya lingkungan yang lestari, nyaman, dan layak huni. Untuk mencapai tujuan dan sasaran perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup hendaknya dilakukan upaya yang berkesinambungan dalam pendidikan formal maupun informal, menekan pada para pendidik akan pentingnya pembentukan karakter, sikap dan perilaku yang berbudaya dan berwawasan lingkungan serta mengedepankan keteladanan dalam pembentukan karakter peduli lingkungan untuk membentuk ekoliterasi pada masyarakat.
Penulis adalah KOICA Scholarship Program Awardee Korea National University of Education
