Saat ini, media sosial telah menjadi sumber utama informasi tentang tren berpakaian, kecantikan, dan gaya yang sedang populer. Hal ini khususnya berpengaruh besar pada perempuan, yang seringkali terjebak dalam berbagai stereotip yang berkaitan dengan konsep kecantikan. Dengan demikian, perempuan seringkali rentan terhadap komodifikasi dan komersialisasi aspek-aspek kecantikan, termasuk tata rias dan fashion.
Perempuan menjadi objek atau sasaran utama dari adanya komersialisasi produk yang merekonstruksi standar kecantikan. Standar kecantikan ini pun nantinya menjadi bumerang bagi perempuan karena nantinya akan mengotak-ngotakkan perempuan yang dianggap memiliki atau memenuhi standar kecantikan atau tidak. Aposisi atau dua kategori yang saling bertentangan tersebut pada akhirnya memberikan ketidakadilan bagi perempuan. Sulit untuk membendung berbagai produk komersialisasi tersebut. Namun, satu hal yang dapat dilakukan oleh perempuan adalah untuk membentengi diri sendiri, khususnya dalam Islam.
Beberapa negara, bahkan negara seperti Korea Selatan atau Amerika yang memiliki standar kecantikan berbeda-beda menawarkan beragam standar dan cara untuk mendapatkan kecantikan tersebut. Tentunya, perempuan yang memenuhi standar akan memiliki keuntungan-keuntungan yang memang terjadi di masyarakat. Rasanya, hal tersebut menjadi dilematis ketika perempuan harus berhadapan dengan situasi standar kecantikan dan keuntungan dari hal tersebut.
Namun, sebagai negara yang mayoritas rakyatnya adalah Muslim, Indonesia pun mampu melahirkan berbagai kecantikan Muslimah yang tentunya tidak semuanya mewakili dari syariat Islam. Perempuan harus mempelajari dan memperbaiki banyak hal untuk mampu memiliki “kecantikan” yang sesungguhnya. Sebagian perempuan Muslim mungkin menyadari bahwa standar kecantikan konvensional sering tidak mencerminkan keindahan yang sejati, dan mereka mungkin merasa tidak perlu mengikuti tren yang biasa.
Ini bisa menjadi alasan untuk mencari cara unik untuk tampil. Ada banyak aspek dari sejarah dan tradisi Islam yang mencakup seni, dekorasi, dan pakaian yang istimewa. Beberapa perempuan Muslim mungkin mencari inspirasi dari masa lalu Islam untuk menciptakan penampilan yang antik.
Di Indonesia sendiri, beberapa perempuan Muslim berharap untuk mengungkapkan identitas keagamaan mereka dengan cara yang unik dan penuh kreativitas. Seperti individu lainnya, perempuan Muslim juga memiliki selera mode dan gaya pribadi yang beragam. Beberapa di antara mereka mungkin tertarik pada pakaian atau aksesori yang antik atau unik karena alasan ekspresi pribadi dan dorongan kreatif.
Mereka mungkin ingin menunjukkan bahwa keislaman mereka merupakan bagian tak terpisahkan dari diri mereka yang dapat diintegrasikan dengan gaya hidup modern melalui tata rias dan busana. Walaupun tertarik pada penampilan yang unik atau klasik, perempuan Muslim tetap berkomitmen untuk mematuhi nilai-nilai agama dan prinsip-prinsip dalam pemilihan pakaian serta penampilan mereka. Mereka berupaya mencari cara untuk tampil klasik yang tetap mematuhi norma dan etika Islam.
Dalam ajaran Islam, terdapat penekanan yang kuat pada pemakaian pakaian yang sopan dan sederhana bagi perempuan. Pakaian perempuan dalam Islam seharusnya menutupi seluruh tubuh, kecuali wajah dan tangan, sesuai dengan prinsip-prinsip hijab. Ini menjadi salah satu aspek penting dari konsep kecantikan dalam Islam. Selain itu, Islam juga mengajarkan agar perempuan tidak berlebihan dalam penggunaan tata rias.
Tata rias fungsinya untuk merawat diri, bukan untuk menarik perhatian berlebihan atau menampilkan keindahan secara berlebihan. Hal ini dapat menjawab berbagai pertanyaan yang mungkin muncul, apakah perempuan diperbolehkan membeli berbagai produk komersialisasi untuk kecantikan dirinya? Tentunya, seorang Muslimah harus mampu bijaksana dalam memilih produk tersebut.
Pertimbangan utama adalah memastikan bahwa produk tersebut sesuai dengan prinsip-prinsip dan nilai-nilai Islam. Ini melibatkan pemeriksaan komposisi dan bahan-bahan yang digunakan dalam produk, pastikan tidak ada bahan yang diharamkan dalam Islam seperti alkohol atau babi. Memilih produk yang terjamin halal juga sangat penting karena menjamin kepatuhan terhadap standar kehalalan dalam Islam. Selain itu, penting untuk mencari produk yang tidak diuji pada hewan (cruelty-free) karena ini sesuai dengan etika Islam. Membaca testimoni dan ulasan pengguna lain dapat membantu dalam memahami kualitas dan efektivitas produk.
Selain itu, sebaiknya konsultasikan dengan seorang ahli atau dermatolog Muslim jika memungkinkan. Hindari produk yang menggunakan promosi yang bertentangan dengan nilai-nilai Islam dalam iklannya. Selalu gunakan produk dengan bijak dan jauhi obsesi terhadap penampilan fisik yang dapat mengganggu kewajiban agama. Yang terutama, selalu pertimbangkan apakah penggunaan produk tersebut sejalan dengan nilai-nilai Islam seperti sikap rendah hati, kesopanan, dan akhlak yang baik. Dalam situasi keraguan, sebaiknya konsultasikan dengan ulama atau cendekiawan Islam yang berkompeten untuk mendapatkan panduan yang lebih rinci sesuai dengan hukum Islam.
Tidak hanya penampilan fisik, konsep kecantikan dalam Islam juga mencakup sikap dan akhlak yang baik. Perempuan Muslim menjaga perilaku yang sopan, ramah, dan santun dalam berinteraksi dengan orang lain. Islam juga mendorong perempuan untuk menjaga kesehatan dan kebugaran fisik mereka, termasuk dengan menjaga pola makan yang seimbang, berolahraga, dan merawat tubuh agar tetap sehat. Kecantikan dalam Islam adalah sesuatu yang mencakup keseluruhan kepribadian seseorang dan bukan hanya penampilan fisik semata.
Rahmania, Islam mengajarkan perempuan untuk memiliki kepercayaan diri yang sehat dan menghargai diri sendiri. Kepercayaan diri seharusnya tidak bergantung pada standar kecantikan dunia atau pandangan orang lain. Perempuan Muslim dianjurkan untuk meyakini nilai dan martabat mereka sebagai individu yang diciptakan oleh Allah. Kepercayaan diri yang kuat dan perilaku yang baik dalam tindakan dan perbuatan sehari-hari dapat meningkatkan kecantikan seseorang dalam pandangan Islam.
Jadi Rahmania, kecantikan sejati dalam Islam berasal dari hati, iman, dan perilaku yang benar, bukan hanya aspek fisik.
Roma Kyo Kae Saniro merupakan seorang dosen di Universitas Andalas dan peneliti yang berfokus pada kajian gender dan perempuan. Media sosial Instagram romakyokaesaniro dan Twitter @romakyokaesa.
