Site icon Inspirasi Muslimah

Siap Mendapatkan, Siap Kehilangan

siap

Rabu siang itu, hujan deras disertai angin kencang membuat saya tetap bertahan untuk menunggu di pelataran rumah sakit. Ya, hari Rabu adalah hari untuk melaporkan kondisi Bapak yang sedang sakit, kepada dokter spesialis penyakit dalam. Biasanya, selepas lapor, dokter menuliskan resep obat untuk jangka waktu dua minggu. Dua minggu berikutnya, saya kembali ke rumah sakit untuk melakukan rutinitas yang sama.

Namun, Rabu kali ini berbeda dari Rabu biasanya. Istri saya mengirim pesan,

“Mas, cepat pulang!”

Tidak biasanya istri meminta agar saya cepat pulang. Saya segera melipat ujung bawah celana panjang yang saya kenakan waktu itu, menerobos hujan dengan berpayung tas selempang, menuju tempat parkira motor. Segera saya kenakan mantel untuk selanjutnya melaju pulang di tengah hujan deras. Angin kencang mengakibatkan air hujan yang menempel di tangan dan sesekali menimpa wajah itu terasa begitu dingin. Tapi rasa dingin itu saya abaikan. Saya hanya ingin segera sampai di rumah.

Hujan masih deras saat saya sampai di rumah. Segera saya masuk kamar dan mendapati istri saya menangis.

“Sudah keluar, sudah nggak ada..” katanya lirih.

“Oh..” jawab saya sekenanya dan tak ingin melanjutkan pembicaraan.

Segera saya memeluknya. Berusaha sebisa mungkin membuat dia tenang.

***

Dua minggu sebelumnya, saya sedang menunggu dengan harap-harap cemas. Ya, istri saya mengatakan ia telat datang bulan. Ia pernah mengalami telat datang bulan beberapa kali selama kami menikah. Tapi, di satu atau dua hari berikutnya, biasanya ia akan menstruasi.

Saat itu, istri saya melakukan tes kehamilan, dan hasilnya : garis dua. Istri saya positif hamil!

Ia sampai menangis ketika memberi kabar itu kepada saya. Kami sungguh bersyukur atas anugerah yang Tuhan berikan dalam hidup kami. Dua hari berikutnya kami cek ke dokter kandungan untuk memastikan kabar sukacita tersebut. Setelah diperiksa, istri saya dipastikan hamil, namun kantong janin belum terlihat jelas. Kami pikir semua akan baik-baik saja dan tidak akan ada masalah yang berarti.

Maka selanjutnya, kabar gembira itu langsung kami sampaikan kepada orang tua serta saudara-saudara kami. Terang saja, merekalah yang selama ini terus menanyakan pertanyaan yang sama hampir tiap bulan,

“Istrimu sudah hamil belum?”

Sungguh, itu adalah pertanyaan yang kadang terdengar begitu menyebalkan bagi telinga saya dan istri.

***

Tiap bulan, menjelang tanggal menstruasi istri, kami selalu diliputi kekhawatiran. Apakah bulan ini istri saya akan hamil? Ataukah kami harus menunggu lagi? Sampai berapa lama kami harus menunggu?

Kami sudah menikah hampir empat tahun. Dan kami masih menunggu momongan, buah cinta yang dinanti-nantikan sebagian besar pasangan di dunia ini. Usaha demi usaha sudah kami lakukan. Mulai dari melakukan program hamil dengan berpatokan pada kalender masa subur, mengkonsumsi obat penyubur, USG transvaginal, suntik penyubur sel telur, cek sperma, dan juga bergaya hidup sehat. Namun, hasil yang diharapkan belum juga tercapai.

Ketika hasil tes kehamilan istri menunjukkan tanda positif, kami sangat bungah.

Namun, siapa nyana, dua minggu kemudian kami harus kehilangan apa yang selama ini kami nanti-nantikan. Dua hari sebelumnya istri saya merasakan sakit di bagian perut bawah. Pagi berikutnya, timbul bercak-bercak darah. Kami pun segera ke dokter untuk memeriksakan kandungan istri. Dokter memberi obat penguat kandungan dan meminta kami kembali lagi beberapa hari berikutnya.

Esoknya, istri saya mengalami kram hebat. Lalu, saat buang air kecil di kamar mandi, ada potongan daging kecil yang ikut keluar bersama air kencing. Itulah kantong janin, bakal si kecil yang begitu kami harapkan. Selanjutnya yang terjadi adalah seperti yang saya ceritakan di bagian awal tadi.

Kami kembali lagi ke dokter sore harinya. Dokter memastikan kantong janin itu sudah tidak ada di dalam rahim istri saya. Lalu ia memberikan obat untuk membersihkan sisa-sisa darah kotor yang mungkin masih ada di rahim istri saya.

***

Tahukah anda, selepas kejadian itu ada pertanyaan singkat namun berat yang diajukan istri saya,

“Sudah dikasih (oleh Yang Mahakuasa), kok diambil lagi (oleh Yang Mahakuasa)? ”

Saya hanya bisa diam, karena memang bingung mau menjawab seperti apa.

Bagi saya, yang terpenting saat itu adalah tetap berada di dekatnya, tetap menemaninya, dan berusaha sebisa mungkin tak membiarkannya merasa kesepian. Tiap istri saya merasa sendiri, ia akan menangis dan merasa bersalah atas kejadian yang baru kami alami. Ia menyalahkan dirinya yang terlalu sibuk, tidak peka, tidak menjaga diri, dan banyak lagi. Saat itu terjadi, saya berusaha untuk menghiburnya dan membagi beban rasa bersalah itu, dengan menyebutkan juga kesalahan-kesalahan yang saya buat. Entah, apakah cara itu dapat membuat istri saya lebih tenang atau tidak.

Kadang saya berpikir seperti ini, mengapa ada pasangan yang menjalani hidup seks berisiko, di luar nikah, dan justru bisa hamil. Sedangkan di sisi lain, ada pasangan yang menikah secara resmi, namun justru belum hamil-hamil. Ada orang mengatakan, anak adalah kepercayaan dari Tuhan. Jadi kalau kita dikaruniai anak, artinya Yang Mahakuasa dapat mempercayai kita. Demikian pula sebaliknya.

Jika logikanya demikian, apakah artinya mereka yang hamil di luar pernikahan resmi, lebih ‘dipercaya’ oleh Tuhan?

***

Menurut saya, kesiapan untuk memiliki anak bukan hanya tentang mempersiapkan finansial dan akomodasi yang nantinya dibutuhkan oleh anak. Kesiapan memiliki momongan juga berhubungan dengan kesiapan tiap pasangan ketika harus menerima kenyataan-kenyataan pahit. Salah satunya, keguguran.

Selalu ada kemungkinan terburuk yang dapat terjadi. Kita akan lebih siap dan dapat menerima, bila kita sudah mengantisipasi adanya kemungkinan itu terlebih dahulu.

Kami percaya, Tuhanlah yang berkuasa atas segala-galanya. Tuhan memberikan apa yang manusia butuhkan, tepat pada waktunya, termasuk dalam hal momongan. Manusia bisa berusaha sekeras apapun, namun pada akhirnya Tuhanlah yang menentukan.

Bagikan
Exit mobile version