Site icon Inspirasi Muslimah

Semua Perempuan Seharusnya adalah Milliarder !

perempuan

Oleh : Irsyad Masyid*

Pandemi membuat 80 % aktifitas saya pindah ke dunia maya. Informasi webinar yang berseliweran di timeline media sosial rasanya menjadi sesuatu yang sayang untuk dilewatkan. Pada suatu kesempatan, scrolling jari saya pada laman facebook terhenti oleh portal berita yang menyalin hasil riset OXFAM -sebuah lembaga yang fokus menangani soal kesenjangan dan kemiskinan- tentang ironi pekerjaan perempuan.

Sebelum lebih jauh, saya ingin menegaskan bahwa tulisan ini tidak bermaksud bersandar pada perspektif manapun, seperti; feminis ataupun anti feminis terkait stereotip pekerjaan perempuan. Yang menjadi titik fokus di sini adalah membahas bagaimana relasi antara perempuan dan tugas rumah tangga, yang memiliki banyak kontroversi. Jika menilik pada fakta, mayoritas urusan rumah tangga masih menitikberatkan kepada wanita oleh dominan budaya di berbagai belahan dunia ini.

Di Indonesia sendiri, ungkapan tradisional seperti pekerjaan perempuan yang berfokus pada tiga klaster; sumur, dapur dan kasur sesungguhnya masih berlaku namun tidak ketat seperti di masa lampau. Dewasa ini banyak perempuan Indonesia yang sudah keluar dari stigma itu dan memiliki partisipasi di ranah yang lain. Namun, secara umum 3 titik fokus itu masih menjadi hal yang tidak bisa ditinggalkan. Sayangnya, pekerjaan domestik itu kadang adalah sesuatu yang sifatnya unrecognize.

Kekayaan didesain untuk lelaki.

Hal ini dibuktikan oleh hasil riset OXFAM yang menemukan fakta  mencengangkan sekaligus miris. Di negara berkembang misalnya, perempuan mendedikasikan waktunya sekitar 14 jam perhari untuk melakukan sesuatu yang dikategorikan sebagai unpaid care work, seperti : mencuci piring, memasak, membersihkan rumah dan mengurus orang tua (International Labour Organization, 2018)

Alhasil, secara global 42 % wanita kesulitan mendapatkan pekerjaan yang dibayar karena waktunya habis untuk melakukan pekerjaan domestik, dibanding dengan 6 % angka untuk lelaki. Riset di atas memvalidasi logika umum, di mana dalam kondisi biasa, perempuan akan kesulitan sekaligus punya hambatan lebih untuk mengembangkan karir seperti menjadi top leader di industri tertentu karena alokasi waktu yang terbatas.

Akibatnya, perempuan selalu dihadapkan pada posisi dilematik. Realita bahwa perempuan karir harus rela mengorbankan pekerjaan rumah tangganya adalah sesuatu yang tak bisa terelakkan. Bahkan secara radikal OXFAM mengkategorikan bahwa pekerjaan domestik itu adalah pekerjaan paling eksploitatif di dunia, karena hanya 10 % dari mereka yang melakukan, akan punya akses yang sama dengan jenis pekerjaan yang lain. Situasi dilema seperti ini ditengarai menjadi penyebab keretakan hubungan rumah tangga di kemudian hari, jika perempuan yang secara karir dominan, tak menemukan titik temu pada urusan rumah tangga mereka.

Hasilnya, menurut OXFAM dalam artikelnya berjudul “Why The Majority of The World’s Poor Are Women”, wanita mempunyai jam kerja 4 kali lebih banyak dibanding pria selama hidupnya. Ini tentu akumulasi dari pekerjaan rumah tangga dan pekerjaan ekonomis yang dilakoni. Namun meskipun bekerja sedemikian keras, data menunjukkan bahwa secara global, laki-laki punya 50 % kekayaan yang lebih banyak dibanding wanita. Padahal, jika ditotal secara global pula, semua Unpaid Care Work yang perempuan lakukan itu bernilai $10,8 Trilliun, 3 kali lebih besar nilainya dari perusahaan teknologi global.

Semua fakta-fakta ironi ini sebenarnya membuktikan hipotesis awal di mana kesenjangan ekonomi, salah satunya berakar dari ketidakadilan gender yang terjadi. Hal ini juga didukung oleh sistem ekonomi kapitalis yang masih seksis, sehingga mendesain perputaran uang hanya masuk pada kantong individu tertentu, dan mayoritas di antaranya adalah lelaki.

UBI, Solusi yang lebih adil.

Fenomena yang menyesakkan dada ini sebenarnya memunculkan satu solusi tersembunyi yang akan mendatangkan keadilan, utamanya bagi perempuan. Adalah konsep Universal Basic Income (UBI) dari cendekia Inggris, Thomas Paine, pada 3 abad yang lalu yang ditulis dalam sebuah pamflet berjudul Agrarian Justice (1796).

UBI adalah bantuan secara tunai (Cash), tanpa melalui syarat apapun (unconditional) yang diberikan negara dengan jumlah tertentu sebagai pendapatan dasar bagi setiap warganya (Universal). Keuntungannya, dari segi titik pandang ekonomi konsep ini tidak bias gender karena uang yang diberikan jumlahnya sama bagi setiap individu.

Pejuang-pejuang UBI menilai bahwa konsep ini selaras dengan pandangan feminis ataupun golongan lain yang berusaha menaikkan martabat perempuan. Pendapatan dasar adalah sesuatu yang sulit dipenuhi oleh kebanyakan perempuan, karena banyak menghabiskan waktunya untuk pekerjaan-pekerjaan rumah tangga yang ironisnya tidak dibayar (Free).

Dalam kondisi tertentu, pekerjaan rumah tangga bahkan tidak memiliki jam kerja tertentu (Unlimited). Nah jika merunut pada data sebelumnya bahwa hampir 14 jam sampai tak terhingga waktu perempuan dipakai untuk pekerjaan domestik, tentu sulit untuk membayangkan perempuan juga harus pergi dengan pekerjaan lain demi mendapatkan uang. Jika dirata-rata, 14 jam kerja domestik ditambah 8 jam kerja normal, sudah menghabiskan 90 % dari waktu perempuan.

Tak bisa dipungkiri, model ekonomi kapitalistik terlalu eksploitatif dengan menempatkan kerja industri sebagai satu-satunya pekerjaan yang bernilai ekonomis. Celakanya, hal ini menempatkan (memojokkan) perempuan pada kerja rumah tangga, karena sistem produksi yang massif tentu membutuhkan kondisi rumah tangga yang terurus. Alhasil, dalam piramida kapitalistik, perempuan berada pada tingkatan yang paling bawah karena bekerja secara gratis dan cenderung berakhir dengan kemiskinan.

Self Employed Women’s Association (SEWA) sebuah organisasi perempuan di India telah melakukan eksperimen dengan menerapkan konsep UBI di kota Delhi. Hasilnya, terdapat banyak efek positif yang muncul dari percobaan ini. Salah satunya, terjadi peningkatan pada aspek kesejahteraan sosial. Tingkat nutrisi dan angka bersekolah bagi para wanita jadi meningkat dengan adanya jaminan pendapatan. Hal lain yang kemudian memiliki koneksi dengan aspek ini adalah wanita akhirnya lebih berpartisipasi pada wilayah pengambilan keputusan terkait konsumsi rumah tangga. Bahkan secara tidak langsung, tingkat konsumsi alkohol dan tembakau dilaporkan menurun sejak projek ini berlangsung.  

Fakta ini memunculkan satu catatan penting bahwa adanya basic income yang diterima oleh wanita membuat mereka lebih memiliki “suara” dalam relasi rumah tangga. Dengan ikut andil soal pendapatan, penentuan alokasi anggaran dalam rumah tangga menjadi lebih demokratis sehingga bisa dihabiskan pada hal-hal yang lebih positif. Ini tentu membuat perempuan menjadi lebih berdaya dan mengurangi insecurity yang mereka rasakan jika berada dalam kondisi tak punya pendapatan.  

Konsep UBI ini sedang menjadi bincangan hangat di dunia, bahkan salah satu kandidat presiden Amerika Andrew Yang menjadikan ini sebagai Grand Issue-nya. Walaupun masih banyak pro dan kontra, saya memilih berdiri pada posisi yang paling kompromis; jika tak mampu diterapkan kepada setiap individu, berikan Basic Income kepada perempuan-perempuan rumah tangga. Beban mereka terlalu berat namun minim penghargaan.

Kisah kelam mengenai beratnya hidup seorang perempuan yang punya tanggung jawab ekonomis sekaligus rumah tangga, dirangkai dengan kalimat miris oleh seorang wanita India, Buchu Devy, “I have no time, not even for die… Who will look after them and bring money to the family when i’m gone ?

*) Irsyad Madjid, anggota KHM Komite Malang Raya

Bagikan
Exit mobile version