Site icon Inspirasi Muslimah

Self Love Tidak Individualis!

self love individualis

Ramai sekali khalayak hari ini membincangkan self love. Pertanda yang menunjukkan bahwa jaman teknologi yang menawarkan kemudahan akses informasi membuat orang-orang semakin peduli mengelola jiwanya. Karenanya, self love kini bukan lagi sekadar wacana, tapi telah menjadi sikap yang sudah dipraktikkan orang banyak.

Era Parade Pamer-pamer

Self love kerapkali dipahami semata sebagai kepedulian terhadap diri sendiri. Hal ini berangkat dari situasi orang-orang hari ini yang hidup dalam era serba pamer-pamer kesuksesan.

Aktivitas pamer-pamer itu kenyataannya menjadi akar masalah psikologis serius. Di media sosial, parade kesuksesan ramai-ramai dipertontonkan. Akibatnya, tidak sedikit hal itu justru menjadi penyebab kegelisahan yang nyata.

Tanpa sadar, banyak orang sering terjebak membanding-bandingkan hidupnya dengan hidup orang lain. Masalah yang diperbandingkan sangat beragam, mulai dari soal paras wajah yang tidak cantik atau kurang tampan atau bentuk tubuh yang terlalu kurus atau gemuk hingga soal pencapaian-pencapaian materialis, seperti pendidikan yang tinggi, karir yang cemerlang, hingga pasangan yang sempurna.

Betul adanya kalau eksistensi adalah kebutuhan manusia, karenanya kehadiran media sosial pada jaman ini sungguh memberikan ruang bagi pelampiasan banyak orang menghadirkan sisi dirinya dalam wujud dan nasib terbaik. Meski kadang di sisi yang lain mereka juga memiliki nasib terburuknya. Namun, di titik tertentu, kenyataan ini pula yang membuat banyak orang mudah tertekan hidupnya, merasa rendah diri mentalnya, hingga rasa putus asa berkepanjangan.

Perasaan membanding-bandingkan itu timbul semata akibat rasa iri dan cemburu. Mereka yang hidup dalam kondisi psikologis ini kerap merasakan hidupnya sebagai hidup yang terburuk, sehingga mengalami kegelisahan yang berlarut dan mulai sering membenci diri sendiri. Dirinya selalu menjadi sasaran kritik oleh dirinya sendiri. Apalagi, ketika sedang diterpa kegagalan-kegagalan.

Keadaan semacam inilah yang pada gilirannya membuat orang-orang mulai lebih sadar untuk berdamai dengan keadaan. Menerima diri sendiri dan nasib yang menyertainya. Sebuah awal langkah menjajaki self love dengan orientasi fokus pada diri sendiri.

Sikap yang Individualis?

Pada gilirannya, usaha self love yang lebih menitik-beratkan pada diri sendiri ini menjadikannya dikesankan sebagai sikap yang egois dan individualistis. Kenapa?

Orang-orang yang mempraktikkan self love kerap dicap sebagai orang yang membawa dirinya lepas dari masyarakat. Mengurangi bertemu banyak orang atau bersikap ‘bodoh amat’ atas apa yang terjadi di lingkungan sekelilingnya. Mereka seperti membangun batas antara hidupku adalah aku, dan mereka adalah hidup mereka.

Hal ini seolah membawa self love ke arah pada rasa peduli secara berlebihan kepada diri sendiri belaka, sehingga melupakan kepedulian pada orang lain. Akibatnya, mereka yang mempraktikkan self love dianggap egois dan tidak memiliki empati.

Sudahlah semestinya, self love tidak semata adalah sikap yang hanya mementingkan diri sendiri. Meski betul, dalam self love berarti membangun batas demi membuat diri lebih tenang dan bahagia. Bahagia sebagai tujuan hakiki dari self love sejatinya tidaklah berdiri sendiri. Ia juga terkait dengan pihak-pihak lain. Karenanya, self love bukan sebuah sikap yang eksklusif.

Peduli Sesama sebagai Rasa Berharga

Usaha mencintai diri sendiri (self-love) juga merupakan bagian dari mencintai sesama. kenapa? Sebab, kebahagiaan yang kita berikan pada orang lain juga adalah bagian dari cara membangun kebahagiaan diri sendiri.

Meister Eckhart, seorang teolog Jerman dari abad Pertengahan mengatakan “apabila engkau mencintai dirimu, engkau akan mencintai orang lain sebagaimana engkau mencintai dirimu sendiri.  Selama engkau tidak mencintai orang lain sebagaimana engkau mencintai dirimu, maka engkau tidak akan benar-benar berhasil mencintai diri mu sendiri.”

Jika merenungkan kutipan dari Meister Eckhart tentu ada benarnya. Senada dengan apa yang dikatakan oleh Erich Fromm, seorang psikolog Jerman yang terkenal dengan bukunya yang berjudul The Art of Loving menyebut bahwa jika kita hanya mencintai orang lain dan tidak mencintai diri sendiri itu berarti kita tidak dapat disebut melakukan aktivitas bernama mencintai. Maka dari itu, mencintai diri sendiri pada hakikatnya adalah juga mencintai orang lain dengan sepenuh hati.

Dengan mencintai orang lain, kita paham akan diri kita sebagai seorang yang berharga. Kesadaran menjadi berharga ini menjadi modal amat penting untuk keluar dari jerat pikiran-pikiran untuk mengkritik dan membenci diri sendiri. Sebab, rasa berharga itu memberi kita pemahaman bagaimana ternyata diri kita memiliki nilai kebermanfaatan yang bisa memberi kontribusi kepada lingkungan dan masyarakat. Karenanya, aktivitas-aktivitas yang terkait dengan kegiatan amal, penggalangan donasi, sukarelawan, dan kegiatan membantu orang lainnya juga bagian dari praktik self love.

Tak ada intervensi macam apa pun yang bisa menggoyahkan apabila rasa berharga itu telah betul-betul telah menjadi keyakinan yang kuat. Orang yang merasa berharga atas dirinya, bukan lagi orang yang mudah cemburu, minder, dan rendah hati dengan capaian orang lain. Mereka akan berhenti membanding-bandingkan diri dan tidak akan terjebak ke dalam lingkaran serba pamer-pamer kesuksesan, sebab kebermaknaan hidup mereka telah cukup diakses lewat rasa berharga.

Rasa berharga itu akan menjadi energi untuk terus optimis menghadapi tantangan hidup. Orang yang betul bijak akan menggunakan energi itu untuk terus menjadi diri versi terbaik diri mereka dan menghargai setiap langkah perjuangan. Baik itu keberhasilan, lebih-lebih terhadap kegagalan.

Apabila banyak orang memamerkan pencapaian-pencapaian besar, hal itu sama sekali tidak akan memengaruhi keberhargaan diri.  Sebab, mereka yang telah paham nilai keberhargaan dirinya. Walhasil, self love bukan lagi semata sebagai kepedulian terhadap diri sendiri, tapi juga rasa menghargai orang lain. Karenanya, sekali lagi, self love itu tidak individualis!

.

Bagikan
Exit mobile version