Salat adalah salah satu ibadah yang wajib dilakukan oleh kaum muslim. Ada lima salat yang wajib dilakukan bagi kaum muslim tanpa halangan yakni Subuh, Zuhur, Asar, Magrib, dan Isya dengan waktu lima kali dalam sehari; yang meliputi fajar, tengah hari, sore, terbenam matahari dan malam. Waktu salat yang telah ditentukan haruslah diikuti dengan disiplin yakni tidak keluar pada waktu yang ditentukan. Salat tetap wajib dilaksanakan oleh kaum muslim tanpa halangan tertentu, setiap hari dan setiap waktu.
Tidak sedikit dari kaum muslim yang merasa malas untuk melaksanakan salat dan menganggap bahwa salat hanyalah sebuah formalitas umat beragama Islam saja; manfaat yang menurut segelintir orang tidak dirasakan secara langsung membuat mereka semakin malas mengerjakan dan malah mempertanyakan urgensi dari salat itu sendiri. Padahal salat atau ibadah lainnya memiliki pengaruh yang cukup besar salah satunya untuk kesehatan mental seseorang. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Sulis Winurini pada tahun 2019 menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif dan signifikan antara religiusitas dan kesehatan mental pada remaja pesantren. Semakin tinggi tingkat religiusitas yang seorang santri rasakan, maka akan semakin tinggi juga tingkat kesehatan mental yang ia miliki, begitu pun sebaliknya.
Kesehatan mental atau mental health menjadi topik pembicaraan yang sangat menarik akhir-akhir ini, banyak orang yang mulai menyadari pentinganya menjaga kesehatan mental dan sadar akan gangguan mental atau mental issues. Seringkali dalam pembahasan tentang gangguan mental, orang banyak melupakan faktor agama karena menurut mereka, agama tidak ada hubungannya (dengan kesehatan mental). Stigma bahwa gangguan mental tidak ada hubungannya dengan keimanan seseorang menjadi hal yang sudah sebagian orang percayai. Meski begitu bukan berarti bahwa keimanan/religiusitas seseorang sama sekali tidak berpengaruh dengan kesehatan mental. Terlepas dari hubungan gangguan mental dengan keimanan/religiusitas seseorang, menjadi individu dengan mental yang sehat adalah keinginan semua orang, termasuk kaum muslim.
Sebagai salah satu ibadah wajib kaum muslim, ada banyak sekali manfaat dari melaksanakan salat, salah satu manfaatnya yakni untuk menjaga kesehatan mental. Bagi orang awam, kesehatan rohani bermakna kondisi hati atau pikiran yang tentram, nyaman, penuh dengan rasa bahagia, rasa syukur, sabar, optimis atau jauh dari kecemasan, kegelisahan, rasa pesimis, kufur, dan juga kesedihan.
Melawan Stres dan Takut
Manusia adalah makhluk yang selalu disibukkan dengan berbagai kegiatan; misalnya belajar, bekerja, bertanding, dan lain sebagainya. Tak jarang hal itu memberi tekanan dan ketakukan sendiri bagi setiap orang. Salat membantu seorang muslim untuk melawan stres dan rasa takut. Seperti yang dijelaskan dalam Al-Qur’an surah Al-Baqarah : 239 yang artinya, ”Jika kamu takut (ada bahaya), salatlah sambil berjalan kaki atau berkendara. Kemudian apabila telah aman, maka ingatlah Allah (salat), sebagaimana Dia mengajarkan kepadamu apa yang tidak kamu ketahui”.
Teori salat membantu melawan stress didukung dengan banyak studi psikologis; salah satunya penelitian McCullough yang menemukan bahwa saat seorang muslim mengalami stres; maka dengan salat ia akan mampu melihat situasi yang membuatnya stres dari sudut pandang yang positif sehingga mampu menenangkannya secara fisik maupun psikologis.
Pengalaman Damai dan Inspirasi
Salat membuat muslim merasa lebih dekat dengan Allah Swt. dan melindungi mereka dari rasa kesepian dan terisolasi. Al-Qur’an surah Al-Mu’min : 60 yang artinya, “Dan Tuhanmu berfirman: berdoalah kepada-Ku niscaya akan Aku ijabahi”. Kedekatan inilah yang mampu menyembuhkan diri seseorang, karena ia yakin bahwa Allah akan selalu bersamanya dan menolongnya.
Penyelesaian dan Solusi Terhadap Masalah
Setiap orang pasti memiliki masalah masing-masing. Allah Swt. memberi cobaan yang berbeda-beda pada hambanya sesuai dengan kesanggupannya. Tidak sedikit orang yang merasa terpuruk dan larut dalam masalahnya; seakan tidak memiliki jalan keluar. Dengan salat membuat seseorang memiliki keyakinan dalam menghadapi suatu masalah.
Berikut adalah ayat Al-Qur’an yang merefleksikan hubungan antara salat dan kebahagiaan, “Dan orang-orang yang sabar karena mencari keridhaan tuhannya, mendirikan salat, dan menafkahkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka, secara sembunyi atau terang-terangan serta menolak kejahatan dengan kebaikan; orang-orang itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik)” (Ar-Ra’d Ayat: 22).
Kerendahan Hati dan Sensitifitas Interpersonal
Sebagai makhluk sosial tentunya penting untuk menusia memiliki sifat rendah hati dan empati terhadap sesama. Seperti yang Allah Swt. jelaskan dalam Al-Qur’an surat Al-A’raf ayat 31 yang mencerminkan bahwa muslim harus memiliki sifat rendah hati: “Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan”.
Sejalan dengan ayat di atas, Hamdan menyatakan bahwa dengan salat seorang muslim akan mampu menghayati kekuasaan Tuhan sehingga mampu randah diri dan meminimalisir rasa egoisitas.
Memaafkan
Memaafkan diri sendiri dan orang lain adalah hal yang cukup penting untuk kesehatan mental seseorang. Salat membuat seseorang mampu memaafkan dirinya sendiri dan orang lain karena membuat mereka merasakan bahwa Allah memaafkan semua kesalaha n hamba-Nya. Proses memafkan khususnya memaafkan diri sendiri sangatlah penting untuk kesembuhan personal karena mampu membuat seseorang menyelesaikan rasa bersalah yang berperan dalam kecenderungan depresi. Seperti yang Allah jelaskan dalam surat Huud : 114 yang artinya, “Dan dirikanlah salat pada kedua tepi siang dan pada bahagian permulaan malam. Sesungguhnya perbuatan- perbuatan yang baik itu menghapuskan perbuatan- perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat.”
Selain salat wajib tentu banyak sekali salat sunah dan ibadah-ibadah lainnya yang manfaatnya hampir sama, Allah telah memberikan banyak sekali sarana agar hamba tetap dekat kepada tuhannya dengan segala manfaatnya. Semua kembali pada kita apakah mau melaksanakannya atau melupakannya. Tetapi ingatlah meski terkadang seorang hamba sering melupakan-Nya, Ia tidak pernah sekalipun melupakan hambanya. Dengan banyaknya manfaat salat sepertinya sudah tidak ada alasan lagi untuk meninggalkannya.
Terlepas dari banyaknya manfaat salat untuk kesehatan mental, alangkah baiknya kita menunaikan kewajiban salat lima waktu tersebut dengan penuh keikhlasan sebagai bukti keimanan; kebersyukuran; ketaatan; sekaligus bentuk cinta kita kepada Allah Swt. dan Rasul-Nya. Tanamkan pada diri kita bahwa salat adalah salah satu sarana kita untuk berkomunikasi dengan sang pencipta bukan hanya formalitas beragama saja. Perbaiki salatmu maka insyaallah, Allah akan memperbaiki hidupmu. Semoga Allah senantiasa menguatkan iman kita agar dapat menjadi pribadi yang lebih baik lagi kedepannya.
Referensi
Al Baqi, S., & Sholihah, A. M. (2019). Manfaat Shalat untuk Kesehatan Mental: Sebuah Pendekatan Psikoreligi Terhadap Pasien Muslim. QALAMUNA: Jurnal Pendidikan, Sosial, dan Agama, 11(1), 83-92.
Ariadi, P. (2019). Kesehatan Mental dalam Perspektif Islam. Syifa’MEDIKA: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan, 3(2), 118-127.
Hamid, A. (2017). Agama dan kesehatan mental dalam perspektif psikologi agama. Healthy Tadulako Journal (Jurnal Kesehatan Tadulako), 3(1), 1-14.
Reza, I. F. (2015). Efektivitas pelaksanaan ibadah dalam upaya mencapai kesehatan mental. Psikis: Jurnal Psikologi Islami, 1(1), 105-115.
Winurini, S. (2019). Hubungan Religiositas dan Kesehatan Mental pada Remaja Pesantren di Tabanan. Aspirasi: Jurnal Masalah-Masalah Sosial, 10(2).
https://fpscs.uii.ac.id/blog/2021/08/27/ada-sehat-dibalik-sholat/ diakses pada 6 juni 2022, pukul 12:58 WIB
Mahasiswa S1 Psikologi Islam di Universitas Islam Negeri Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung. Instagram : @ftrnnaba.
