Site icon Inspirasi Muslimah

RSI Aisyiyah : Kesigapan Layanan Saat Pandemi Covid-19

RKUHP

Oleh: Imroatus Solihah*

Rahmania, saat kita mempunyai anak, terutama batita, kita pasti sudah terbiasa dengan situasi anak sakit, demam, batuk dan pilek. Situasi tersebut, dapat saya katakan sebagai situasi “darurat” versi orang tua. Karena, diperlukan penanganan cepat agar sakit yang dialami anak tidak naik level dan segera teratasi atau sembuh.

Penangan pertama yang dapat kita lakukan di rumah, adalah dengan dengan mengutamakan pemberian gizi yang baik sehingga anak dapat pulih. Jika dibutuhkan karena kondisi anak yang panas melebihi 38 derajat dan atau rewel maka dapat diberikan paracetamol atau herbal. Namun terkadang, keadaan tersebut tidak berangsur membaik dan bahkan berubah dari gawat menjadi situasi darurat, yang mengharuskan kita, sebagai orang tua melarikan anak kita ke rumah sakit (RS) agar mendapatkan penanganan medis yang cepat dan tepat.

Hal ini terjadi pada anak saya, ketika hari terakhir puasa Ramadan 1441 H/2020 M. Tepatnya hari Jumat, pukul 10.00 wib. Alesha, anak saya mendadak demam tinggi sampai 40.9 derajat. Kami beri penurun panas, namun tak kunjung mereda sampai keesokan harinya. Akhirnya kami membawanya ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) RS Swasta terdekat. Namun sayang, penanganan hanya diberi obat anti kejang dan menyarankan kami mencari alternatif RS lain, karena kamar rawat inap di RS tersebut sudah penuh.

IGD RSI Aisyiyah Siaga Covid-19

Dokter jaga IGD juga berpesan bahwa anak kami sudah harus dirawat inap (opname) karena demam tinggi dan lemas. Kami sempat kebingungan beberapa saat untuk menentukan RS mana yang harus kami datangi, di tengah wabah Covid-19. Seketika terbersit dalam pikiran saya RSI Aisyiyah yang berada di Jl. Sulawesi Kota Malang. Tanpa pikir panjang kami pun langsung meluncur ke IGD RSI Aisyiyah.

Rupanya, di depan IGD RSI Aisyiyah memberlakukan sistem satu pintu, jadi semua pasien harus melewati tenda screening Covid-19 terlebih dahulu. Kami harus cuci tangan dan ukur suhu tubuh. Tentu ‘thermo gun’ langsung merah, pertanda deteksi panas tinggi pada anak saya. Dokter IGD berjumlah 2 orang dengan APD lengkap, dengan sigap memeriksa anak saya dan menanyakan riwayat sakit yang diderita dua minggu lalu.

Sangat berbeda penangannya dengan RS sebelumnya. Dokter IGD RSI Aisyiyah juga menanyakan terkait ciri-ciri atau gejala Covid-19 pada anak saya. Saya pun menjawab sesuai dengan pertanyaan yang diajukan. Setelah dokter memeriksa, langsung diberi solusi terbaik bahwa anak saya sebaiknya di rawat inap di RS dengan penanganan dan pengawasan medis. Baiklah, kami mengikuti segala prosedur yang diberikan untuk keselamatan anak kami.

Standar operasional prosedur (SOP) di RSI Aisyiyah ini lebih ketat menurut saya, di banding RS sebelumnya. Selain tenda screening Covid-19 yang telah saya sebutkan tadi, IGD RSI Aisyiyah juga disekat oleh pintu, ada dua ruang IGD. Dimana dokter jaga IGD yang di bagian luar (2 dokter tadi) tidak memasuki IGD bagian dalam, mereka hanya berkomunikasi lewat pintu kaca. Pasien pun harus di screening dulu di IGD bagian luar tersebut.

Setelah diambil sampel darah dan dipastikan tidak membawa virus Covid-19, juga penyakit menular lain. Baru pasien masuk ke pintu IGD bagian dalam yang lebih luas. Di IGD bagian dalam, kami pun juga masih di screening beberapa tahap yang saya sendiri kurang mengerti, dan sepertinya menyiapkan administrasi juga. Proses tersebut berlangsung kurang lebih 2 jam, hingga perawat membawa kami ke dalam kamar inap untuk observasi.

Tetap Melayani dengan Sepenuh Hati di Masa Pandemi Covid-19

Sebagai informasi tambahan, anak saya menggunakan BPJS kelas 2. Sebagai peserta BPJS kelas 2, anak saya mendapat kamar observasi yang berisi 1 pasien dengan kamar mandi dalam. Kamar observasi tersebut menurut saya nyaman untuk pasien dan tentu saja saya bertanya-tanya betapa nyamannya BPJS kelas 2 dengan fasilitas kamar yang sedemikian nyaman dan controlling 24 jam oleh perawat RSI Aisyiyah.

Saat saya berkenalan dengan ibu dari pasien batita lain, beliau juga mengungkapkan betapa nyamannya pelayanan di sini, walaupun kelas 3 dan mendapat kamar yang berisi banyak pasien, namun pihak RSI Aisyiyah mengupayakan hanya mengisi 1 pasien saja dalam satu ruangan. Walapun 4 hari kemudian harus berbagi kamar dengan pasien lain seiring bertambahnya jumlah pasien. Namun upaya RS untuk memberikan pelayanan terbaik untuk segala kelas BPJS menurut saya sangat patut diapresiasi.

Oleh karena wabah pandemi Covid-19, maka semua tenaga medis RSI Aisyiyah menggunakan APD lengkap. Baik perawat maupun dokter menggunakan pakaian pelindung, masker, sheet mask dan beberapa menggunakan sarung tangan. Pelayanan menurut saya sangat ramah, perawat sering memberi semangat pada anak saya. Hal ini jarang saya temui di RS lain, barangkali karena motto RSI Aisyiyah ini adalah layananku ibadahku, sehingga interaksi dengan pasien jauh lebih humanis dan harmonis.

Pentingnya Memilih RS dalam Situasi Pandemi Covid-19.

Situasi darurat dalam hal menjaga nyawa (hifdzun nafs) haruslah kita perhatikan betul, lebih-lebih dalam situasi pandemi Covid-19 seperti ini, perlu adanya SOP Khusus bagi RS, karena RS merupakan tempat pengobatan dan pemulihan pasien. Walaupun RS tersebut bukan merupakan RS rujukan untuk kasus Covid-19, tetapi RS haruslah mempunyai aturan-aturan khusus untuk melindungi pasien dan tenaga medisnya.  

Beberapa poin yang penting yang perlu diperhatikan Rahmania apabila berkunjung ke rumah sakit untuk berobat adalah sebagai berikut :Pastikan tersedia tempat cuci tangan sebelum memasuki area rumah sakit.

1. Semua pengunjung wajib melakukan cuci tangan dengan 6 langkah cuci tangan selama 40-60 detik dengan sabun dan air mengalir.

2. Pastikan ada petugas yang memeriksa suhu tubuh dengan menggunakan ‘thermo gun’ di depan pintu masuk RS.

3. Pastikan RS tersebut mewajibkan pengunjung memakai masker.

4. Sebaiknya ada tempat khusus bisa berupa tenda untuk screening covid-19, apabila terdapat ciri-ciri Covid-19, maka pasien wajib dirujuk ke RS yang menangani Covid-19, dan petugas medis melaukan sterilisasi area.

5. Dokter dan perawat memakai APD lengkap

6. Dokter IGD memakai APD lengkap sesuai standar WHO, mengingat dokter IGD melakukan screening dan berhadapan langsung dengan pasien.

7. Penunggu pasien hanya diperbolehkan 2 orang saja secara bergantian.

8. Akses pintu keluar masuk pengunjung RS hanya satu pintu

Barangkali itulah yang perlu diperhatikan Rahmania apabila betul-betul darurat harus mengunjungi rumah sakit. Ada baiknya kita selalu menjaga kesehatan keluarga dengan memberlakukan gaya hidup sehat, bersih dan makan-makanan sehat serta bergizi. Agar terhindar dari sakit yang mengharuskan kita mengunjungi bahkan menginap di rumah sakit. Semoga Allah Swt senantiasa melindungi keluarga kita dan pandemi Covid-19 ini segera berakhir.

*Penulis adalah Staff/Instruktur Lab.Syariah HKI FAI-UMM.

Bagikan
Exit mobile version