Site icon Inspirasi Muslimah

Rem Belanja Online Saat Pandemi

belanja online

Sudah hampir delapan bulan berlalu, sejak pertama kali diumumkan tentang adanya Covid-19 di Indonesia. Saat itu, terdapat dua warga asal Depok yang dinyatakan terpapar virus corona.

Maka mulai dari itu, jumlah pasien Covid-19 terus mengalami pertambahan. Dengan meningkatnya jumlah positif Covid-19, pemerintah membuat kebijakan untuk melakukan segala aktivitas di rumah seperti bekerja, beribadah, dan sekolah sebagai upaya untuk memutus penyebaran virus ini.

Akibatnya, ketika di rumah saja, tentu membatasi ruang gerak masyarakat untuk di luar rumah. Yang biasanya belanja kebutuhan di pasar atau di toko; sekarang beralih berbelanja dengan sistem online untuk menghindari berkumpul dengan banyak orang.

Fenomena Belanja Online

Survei mengatakan bahwa 40% dari 5 ribu konsumen setiap minggu rajin berbelanja online sejak pandemi melanda. Angka itu mengalami peningkatan 30% dari sebelum pandemi.

Diprediksi, belanja online akan lebih dipilih dibandingkan berbelanja ke toko. Karena, masyarakat lebih memiliki banyak waktu di dalam rumah dengan segala kemudahan yang ditawarkan dari belanja online.

Belanja online juga menyediakan banyak pilihan. Harga yang lebih terjangkau, tidak perlu keluar rumah. Tinggal menunggu barang datang, terdapat berbagai promo diskon, cashback dan bonus-bonus lainnya.

Namun, bukan juga kita dapat sesuka hati membeli barang-barang yang kita inginkan dengan segala kemudahan yang ditawarkan oleh belanja online. Banyak sekali iklan atau promosi yang dijejalkan pada sosial media yang mendorong masyarakat untuk membeli produk tertentu.

Berbagai upaya yang dilakukan agar menarik para konsumen untuk membeli dagangannya. Terbukti dengan banyak sekali orang yang “teracuni” akibat iklan yang ditampilkan di sosial media. Barang-barang yang sebenarnya tidak dibutuhkan dibeli hanya karena kalap mata.

Aktivitas Waktu Online di Rumah

Adanya waktu luang di rumah menjadi salah satu hal yang mendorong kita untuk ngepoin e-commerce atau online shop. Lalu, tanpa sadar kita menjadi ingin membeli semua barang. Apalagi dengan adanya mobile banking yang memudahkan membayar tanpa harus pergi ke atm dan kita hanya tinggal menunggu barangnya hingga datang.

Sebagai contoh, saat kita sedang  refreshing setelah suntuk bekerja atau belajar, kita mencari hiburan dengan membuka sosial media untuk sekedar mengecek ada hal baru apa yang sedang terjadi atau melihat aktivitas dari orang lain. Sering terjadi tanpa sengaja, beberapa iklan promosi baju dari online shop tertentu lewat saat kita sedang membuka story Instagram.

“Kok lucu ya bajunya” batin diri dalam hati hingga berujung stalking toko itu dan akhirnya jadi membeli baju tersebut. Sebenarnya kita belum butuh, tetapi karena terlihat lucu langsung saja di checkout.

Contoh lain, banyak sekali pemilik online shop yang turut mempromosikan dagangannya lewat tiktok dengan memberikan ulasan tentang produknya lewat video. Salah satu contohnya adalah review masker yang memperlihatkan sebelum dan sesudah memakai masker. Menunjukkan perbedaan wajah yang langsung cerah dan glowing. Oleh karena tergiur dengan hasil yang ditampilkan, kita langsung membeli banyak masker tersebut tanpa berpikir panjang; apakah masker itu nanti cocok dengan tipe kulit kita?

Perilaku seperti contoh di atas sebisa mungkin harus kita dihindari agar tidak mengikuti tren semata.

Contoh-contoh di atas adalah dampak yang terjadi akibat tidak sadar mana yang kebutuhan dan mana yang keinginan. Perilaku konsumtif seperti itu hanya didasari hasrat dan keinginan memiliki tetapi tidak dapat menggunakannya dengan baik. Pemilik online shop hanya berusaha mempromosikan barang dagangannya untuk bertahan hidup di tengah pandemi. Sebagai konsumen, kita lah yang harus bijaksana dalam belanja online dengan menyesuaikan kebutuhan.

Langkah Mencegah Kebiasaan Belanja Online

Nah, agar kita dapat mencegah untuk tidak boros, kita dapat melakukan beberapa hal. Pertama, membuat rencana pengeluaran, kemana saja uang kita dipergunakan. Kita dapat mengunduh aplikasi yang ada di smartphone atau bisa juga dengan membuat jurnal pengeluaran manual di buku.

Kedua, membuat skala prioritas untuk barang yang akan kita beli. Apakah barang itu terdesak dibutuhkan atau itu hanya keinginan pribadi saja. Ketiga, meminimalisir diri untuk membuka online shop untuk menghindari pemborosan atau dapat juga dengan menonaktifkan e-commerce dan mobile banking.

Cara lain agar terhindar dari pemborosan kita dapat mendirikan online shop sendiri, untuk memotivasi diri sendiri berpenghasilan di kala pandemi. Dengan membuat online shop sendiri kita dapat memperoleh pengalaman untuk berwirausaha; menyadari bahwa mencari uang itu tidak mudah. Sehingga, akan berpikir berkali-kali jika akan membeli sesuatu dan tentunya akan mendapatkan penghasilan untuk kebutuhan sendiri.

Untuk menambah keproduktivitasan kita selama di rumah saja. Kita juga dapat melakukan hal-hal bermanfaat. Seperti membaca buku, menanam tumbuhan, beres-beres rumah, mendekor ulang kamar atau yang lainnya untuk menghindari memegang smartphone.

Dengan adanya pembatasan ruang pada masyarakat, karena pandemi turut menyebabkan turunnya perekonomian seperti banyak buruh yang di PHK atau adanya pemotongan gaji pekerja. Dengan semakin banyak hal yang kita butuhkan tetapi dengan pendapatan yang berbeda dari sebelumnya, sebaiknya kita dapat menentukan hal-hal yang menjadi prioritas untuk dibeli dan mengabaikan hal yang hanya hasrat keinginan kita semata.

Pandemi Covid-19 memang memberikan dampak yang tidak mengenakkan bagi semua pihak. Adanya virus baru ini merubah segala tatanan yang ada dengan menerapkan peraturan-peraturan baru sebagai upaya hidup berdampingan dengan virus ini.

Untuk itu alangkah baiknya kita sebagai manusia agar lebih bijak dalam bersikap di tengah masa krisis seperti sekarang dengan dapat mengorganisir kebutuhan pokok dengan baik sehingga kita tetap bisa bertahan di tengah pandemi virus corona.

Bagikan
Exit mobile version