Ketika pasangan laki-laki dan perempuan sudah berkomitmen bersatu dalam pernikahan, maka tujuannya adalah meleburkan segala keegoisan demi kebersamaan. Salah satu dambaan pasangan yang telah menikah adalah memiliki buah hati. Buah hati yang kelak sebagai penerus generasi atau mungkin dianggap sebagai sebuah investasi. Namun pada realitanya banyak sekali pasangan suami istri yang hingga bertahun-tahun belum mendapatkan buah hati.
Persepsi Masyarakat bagi Pasutri yang Belum Dianugrahi Momongan
Banyak sekali ucapan tetangga yang kadang sangat tidak apresiatif seperti, “Kelihatan suami istri badannya bagus dan segar kok mandul.” Atau juga penilaian yang hanya dari unsur fisik semata, “Wah itu badan suami/istri kerempeng pantesan tidak hamil-hamil.” Atau bila pasutri menikah dalam usia di atas 30 tahun keatas maka mulutnya tak kalah julid lagi, “Wong nikah wis umure dho tuwek-tuwek mesti angel le entok anak.” (Orang nikah umurnya sudah tua-tua pasti sulit dapat anak).
Selain itu ada semacam stereotip dalam masyarakat ketika pasutri belum mendapat momongan; selalu pertama yang dianggap bermasalah adalah perempuan. Dalam sebuah forum diskusi FGD khusus perempuan promil yang penulis ikuti 75% suami dari 15 peserta masih sulit untuk diajak ikhtiar bersama ke medis. Sedangkan 100% dari mereka para istri bersedia untuk berikhtar apapun.
Bahkan pengalaman beberapa teman yang suaminya mau diajak cek laboratorium rata-rata hanya sebatas cek sperma. Untuk prosedur yang lebih jauh kadang mereka menolak dengan berbagai alasan. Padahal secara medis pemeriksaan gangguan reproduksi harus dilakukan bersama-sama dengan penuh kerelaan dan keterbukaan.
Ikhtiar Promil yang “Sesat” di Masyarakat
Dalam konteks zamannow yang serba digital virtual ternyata juga tidak menyurutkan maraknya pengobatan herbal yang datang ke paranormal atau dukun. Pengalaman penulis dengan para peserta FGD semua terbuka ketika mengatakan bahwa mereka juga datang ke paranormal yang sama. Sambil tertawa penuh keseruan mereka mengatakan bahwa ternyata ubo rampe yang diminta adalah sama. Dan anehnya dari praktek beberapa paranormal itu yang disuruh periksa juga perempuan, meskipun ditemani oleh suaminya.
Namun setelah permintaan dan syarat paranormal itu dipenuhi dalam jangka waktu tertentu belum hamil, maka si dukun itu meminta sesuatu syarat lagi. Pada akhirnya ada syarat yang sepertinya sangat ekstrim sekali, si istri diminta kebilik dan hanya berdua dengan dukun. Nah, di sini para peserta mengaku mundur karena ada perasaan ragu-ragu. Dan pada fase inilah sering terjadi kekerasan seksual tapi atas dasar hilang logika.
Promil dengan Berbagai Ikhtiar
Menjalani program hamil bagi pasutri haruslah dilakukan dengan penuh komitmen bersama. Ada beberapa ikhtiar berdasarkan pengalaman penulis yang dapat pasutri lakukan di antaranya adalah ikhtiar medis, ikhtar herbal, ikhtiar terapi, ikhtiar psikologis dan ikhtiar spiritual.
Untuk ikhtiar secara medis dibeberapa dokter tertentu memang mengharuskan pasangan suami istri wajib datang dalam berkonsultasi. Selain itu harus sama-sama mau ketika direkomendasikan untuk cek laboratorium. Karena yang selama ini dipahami oleh khalayak awam kehamilan itu hanya tertumpu pada perempuan saja.
Pertama ikhtiar medis penulis dilakukan dengan berkonsultasi ke dokter spesialis kandungan di sebuah RS swasta, tahun pertama hanya anjuran USG dan diberi penyubur yang saat itu kondisi masih berjauhan dengan suami. Akhirnya setelah bisa bersama ada teman yang menyarankan untuk ke dokter kandungan yang telah memiliki klinik pribadi, Disana disarankan pasutri untuk cek laboratorium untuk saya cek Histerosalpingografi dan suami cek sperma.
Ketika USG sudah dilakukan dan tidak ada gangguan maka akan dianjurkan untuk cek Histerosalpingografi yang memerlukan persiapan fisik dan psikis yang luar biasa. Rasa sakit itu karena sebelum dimasukkan alat harus diberi cairan kontras untuk memeriksa kondisi rahim dan indung telur. Dan ini sangat sakit sekali sehingga sampai dianjurkan menelan obat pereda nyeri.
Sebenarnya ada juga prosedur dari pemeriksaan dokter untuk laki-laki yang secara awam belum diketahui secara umum. Prosedur pemeriksaan itu berupa tes urine, cek sperma untuk mengetahui jumlah sperma dan deteksi bentuk, pergerakan dan warna sperma. Selanjutnya juga ada USG untuk pria guna mendeteksi saluran reproduksi pria. Selanjutnya biopsi testis berupa pengambilan jaringan sperma dan vasografi rontgen untuk mendeteksi penyumbatan sperma. Pengalaman suami hanya memerlukan sampai tahap cek sperma. Setelah itu dokter memberikan beberapa obat, nutrisi dan tips-tips agar segera bisa terjadi pembuahan yang maksimal.
*
Kedua ikhtiar herbal penulis yaitu rutin mengkonsumsi madu baik itu suami istri, selain itu banyak saudara teman yang memberikan kurma muda dari Tanah Suci. Atau minum serbuk buah zuriat sampai terapi jeruk nipis ala Dewi Yull juga. Bila itu saran kebaikan dari siapapun terima dan lakukan dengan senang hati.
Ketiga ikhtiar terapi program hamil yang berupa terapi pijat dan itupun masih menyediakan layanan untuk terapi yang bersifat untuk perempuan. Namun pengalaman saya waktu pijat terapi di rumah Mbah Ulfah ada juga terapis untuk laki-laki yang dilakukan oleh anaknya. Ikhtiar ini kami cukupkan tiga kali saja sesuai anjuran.
Keempat adalah ikhtiar secara psikologis. Ternyata korelasi antara hormon reproduksi perempuan dengan kondisi psikologis atau batiniah sangat berkaitan erat. Dalam FGD yang penulis ikuti ternyata banyak perempuan yang memiliki beban batin tersendiri. Rata-rata mereka memiliki yang masalah pribadi, keluarga sendiri atau sebagai menantu, atau kekecewaan yang mendalam terhadap pasangan. Kekecewaan yang mendalam itu lebih ke arah ketika suami tidak mau diajak ikhtiar promil bersama. Jadi para pasutri yang ikut promil harus ada kesadaran untuk konsultasi psikologi juga.
Ikhtiar spiritual sebagai ikhtiar yang mengiringi ikthiar lainnya untuk memiliki buah hati. Bentuk ikhtiar ini yaitu berdoa khusus memohon diberi keturunan; ikhtiar bersedekah yang lebih dispesifikasikan ke panti asuhan atau anak yatim. Selain itu ikhtiar rukyah dan bekam juga dilakukan guna melengkapi, karena tidak mustahil dimensi lain turut berelaborasi ketika pasangan belum dianugrahi momongan. Niatkan untuk membersihkan diri saja dari gangguan tersebut.
Promil Perlu Komitmen bersama Pasutri
Fase-fase promil yang pasutri lakukan harus seimbang dan tak boleh berat sebelah. Dan di sinilah perlu adanya edukasi kepada masyarakat tentang berbagai ikhtiar tersebut yang tidak hanya memiliki stereotipe pihak perempuan semata. Komitmen bersama pasutri dalam melakukan ikhtiar promil ini sangat penting. Baik itu komitmen menjalankan segala ikhtiar promil dan budgeting promil yang dilakukan.
Selain itu edukasi kepada para pasutri untuk berikhtiar dijalan yang tepat dan logis itu juga diperlukan, guna menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Semoga para pasutri yang telah mendambakan momongan disegerakan. Jangan menyerah dan tetap semangat dalam berikhtiar!
Guru TK Pertiwi 55 Bantul dan pemerhati Pendidikan anak.
