Site icon Inspirasi Muslimah

Pilihan Terakhir (2)

pilihan terakhir

Hari keberangkat pun telah tiba. Ana dan Ridho selaku perwakilan berangkat pagi ini. Rasa bahagia menyelimuti hati Ana, tetapi ada bagian dari dirinya yang merasa gelisah. Senin kemarin ia mendapat kabar yang kurang mengenakkan. Ibu Ana harus dilarikan ke rumah sakit karena penyakit storke yang dideritanya. Gadis ini hanya berdoa semuanya akan lekas membaik.

Lomba Tilawah Qur’an akan digelar besok, sehingga perlu adanya evaluasi terakhir. Ana terlihat berkumpul bersama di ruangan meeting untuk membahas acara besok. Semuanya berjalan lancar, Ana juga memahami arahan dari Ning Fatma demi kelancaran lomba besok. Ning Fatma berhenti menjelaskan tata tertib ketika dering teleponnya berbunyi. Kemudian ia pamit keluar ruangan untuk mengangkat telepon.

Ana melihat Ning Fatma kembali memasuki ruangan, entah bagaimana menjelaskan raut wajahnya yang tiba-tiba berubah 180 derajat. Sulit menggambarkan mimik wajahnya saat ini. Ning Fatma terlihat berjalan mendekati Ana dan duduk di sampingnya.

“Sabrina,” ucap Ning Fatma lirih sembari menggenggam tangannya.

Ana dapat merasakan hawa dingin saat Ning Fatma menyentuh tangannya. Ia merasa gelisah dengan situasi ini.

“Yang sabar, ya. Semoga diberi kekuatan dan ketabahan.”

Ana merasa keringat dingin mengguyur tubuhnya ketika mendengar ucapan Ning Fatma.

“Ayahmu barusan menelepon Mas Atha, beliau belum berani mengabarimu yang masih di Mesir. Takutnya mengganggu fokusmu, tetapi menurut saya Ana harus tahu kabar itu sekarang.”

Genggaman tangan itu semakin erat, Ana semakin takut untuk mendengarkan kalimat selanjutnya.

“Kondisi Ibumu memburuk siang tadi dan malam ini ibumu dikabarkan telah tiada.”

Ana merasa pikirannya kosong, ia tidak dapat berpikir jernih setelah mendengar kalimat itu. Ning Fatma langsung memeluk Sabrina ke dalam dekapannya. Ia dapat merasakan Ana yang menangis sesenggukan. Seketika ruangan itu menjadi hening dan senyap, hanya terdengar suara tangisan Ana. Ustaz Salman mengajak Ridho untuk keluar, memberikan ruang bagi Sabrina.

Cukup lama Ana menangis, ia mencoba mengatur napasnya agar dapat berbicara.

“Ning. Sa.. Saya coba menelepon ayah terlebih dahulu, ya!” Ucap Sabrina terbata-bata.

“Iya, Ana. Apapun keputusan kamu, saya akan dukung. Ana bisa memilih untuk pulang atau melanjutkan lomba. Karena kamu yang berhak memilih, saya tau pasti ini sangat berat buat kamu. Ana yang sabar, ya,” tutur Ning Fatma sembari mengusap sisa air mata Sabrina.

Ning Fatma keluar ruangan meninggalkan Ana, memberikan waktu bagi gadis itu untuk berkabar dengan keluarganya di Aceh.

“Saya harus bagaimana, yah?” Tanya Ana lirih.

“Saya nggak bisa berpikir dengan benar, saya bingung.”

“Ana, semua mahluk hidup itu akan kembali kepada sang pemilik-Nya. Hidup mati sudah diatur sedemikian rupa. Ayah tau, pasti kamu ingin berada di dekat ibumu sebelum kepergiannya. Anak mana yang tak ingin mendampingi ibunya, nak.”

“Ayah saja tak bisa membayangkan bagaimana perasaanmu di sana, tetapi yang Ayah tahu ibumu sangat bangga padamu selama ini. Apalagi saat tau putrinya akan ikut lomba ke Mesir, dia sangat amat senang,” ucap Ayah Ana mencoba menenangkan putrinya, sama seperti Ana ia juga sangat terpukul dengan kepergian sang istri. Namun, sebagai seorang Ayah ia mencoba mengontrol emosinya agar buah hatinya itu tak terlalu risau.

“Apa tidak dosa, yah? Jika Ana nggak ada di samping Ibu di saat kepergiannya? Apa Ana akan dicap anak durhaka apabila memilih mengikuti lomba di saat kepergian ibu? Ana harus gimana a.. ayah..”, ucap Sabrina lirih. Ia tidak bisa berpikir jernih saat ini, badanya lemas, berbicara pun susah.

“Ya Allah, Ana. Siapa yang berani mengecap kamu anak durhaka! Ibumu pasti marah nak, ketika mendengar perkataan itu. Ana, dengarkan Ayah! lanjutkan tanggung jawabmu mengikuti lomba, kemudian pulanglah ketika amanah itu telah selesai kamu jalankan.”

“Lakukan yang terbaik nak, jangan sia-siakan kesempatan itu”.

“Jika kamu memilih pulang sekarangpun, jenazah ibumu sudah pasti telah selesai dimakamkan. Ana yang sabar, ya”, balas sang ayah lirih, hampir tak bersuara.

Seketika ruangan menjadi senyap, Ana tak sanggup menjawab perkataan ayahnya, begitu pula sebaliknya.

“Ibu. Ana sudah kembali. Terima kasih telah merawat dan menyayangi Ana”.

“Ibu pasti bangga, kan? Ana kembali membawa hadiah untuk Ibu. Ana menang bu, juara I. Alhamdulillah, semua ini berkat doa ibu kepada anaknya”.

“Sekali lagi, terima kasih bu”. Ucap Ana lirih sembari mencium batu nisan tepat tertulis nama sang ibu.

Gadis itu segera bangkit setelah selesai memanjatkan doa untuk almarhumah ibunya. Sang ayah menuntun anaknya untuk kembali ke rumah.

“Ayah dan ibu selalu bangga padamu, nak” bisik Ayah Ana sembari menggandeng sang putri tercinta.

Catatan:

Musyrifah: pembimbing asrama

Qiyamullail: ibadah di malam hari

Murajaah: mengulang kembali

Ndalem: rumah pengasuh pesantren

Bagikan
Exit mobile version