Laki-laki harus kuat, laki-laki nggak boleh cengeng.
Kira-kira begitulah stereotip yang masih berkembang dan kuat di masyarakat. Menjadi manusia biasa kiranya perlu juga untuk mengekspresikan diri tanpa dibatasi dan pengelompokan. Banyaknya anggapan laki-laki harus lebih kuat dari perempuan baik secara fisik maupun mental menjadikan ekspresi menangis adalah hal yang tabu bagi laki-laki. Padahal menangis adalah hal yang paling sederhana namun gengsi memperumitkannya.
Dalam kehidupan yang sering kali menilai ketangkasan fisik sebagai kekuatan. Terdapat persepsi bahwasannya laki-laki harus menunjukkan kekuatan dan keberaniannya dalam situasi apapun. Dan ketika menunjukkan ekspresi perasaannya seperti bercerita, mengeluh, menangis dianggap seolah-olah lemah. Padahal kenyataannya ekspresi tersebut bentuk dari respon tubuh yang mana setiap orang berhak melakukannya. Lebih dari itu, menunjukkan ekspresi perasaan sedih bahkan hingga menangis adalah bentuk pencarian dukungan emosional atas kerentanan yang sedang dialami.
Nggak Perlu Gengsi untuk Menurunkan Air Mata
Menjadi manusia dan mahkluk sosial tentu dukungan emosional satu sama lain sangat dibutuhkan. Karena setiap perjalanan dalam kehidupan tidak bisa dipungkiri pernah berada dalam titik selemahnya-lemahnya. Fase lemah akibat bingung dalam mengambil keputusan baik persoalan pekerjaan, kuliah, hingga keluarga mungkin satu-satunya yang masih melekat dalam diri adalah emosi dan perasaan. Tidak salah juga ketika kita meluapkannya dalam bentuk menangis dan itu adalah hal yang wajar.
Penelitian yang dilakukan oleh Vengerhoest seorang psikolog klinis diperoleh, perempuan menangis sebanyak 30 sampai 64 kali pertahunnya, dibandingkan pria lebih sedikit antara 6 sampai 17 kali.
Bentuk survei kecil yang saya tanyakan kepada beberapa teman laki-laki tentang kapan terakhir kali menangis. Dengan spontan rata-rata jawabannya adalah bersifat momentum di waktu-waktu tertentu saja. Seperti kehilangan atau kepergian orang yang ia sayangi, melihat anaknya yang sedang merantau atau menyaksikan anaknya telah wisuda. Berbeda dengan perempuan yang mudah menangis ketika menyentuh hal-hal yang emosional seperti menonton film yang menyentuh, perihal hati hingga mendengar curhatan temannya.
Meski hasil survei menyatakan demikian, masalah emosi dan perasaan tidaklah boleh diabaikan. Persoalan menangis semua boleh mengekspresikannya. Terkadang dalam bermasyarakat banyak anggapan yang tidak realistis bahwa laki-laki tidak boleh menunjukkan emosi dengan menangis. Bukankah hal semacam itu akan memperburuk kesehatan mental dan emosional mereka akibat ekspetasi masyarakat.
Dampak Menahan Ekspresi menangis
Dampak dari menahan tangisan adalah seseorang akan cenderung diam, stress hingga berakibat fatal seperti bunuh diri. Bersikap terlihat kuat padahal sedang tidak baik-baik saja juga tidak terlalu baik untuk kesehatan mental. Menurut Jonathan Rottenberg seorang peneliti dan professor psikologi dari University of Sout Florida mengemukakan bahwa menangis merupakan sinyal penanda yang kita berikan kepada orang lain sebagai tanda bahwa kita sedang rapuh dan butuh berbagi.
Ketika melihat kasus bunuh diri yang marak beredar di televisi maupun media sosial, terdapat beragam motif yang mengakibatkannya seperti depresi masalah asmara, terlilit pinjaman online, bullying, stress, putus asa dll. Terkadang kasus tersebut memberikan kita pemahaman bahwa setiap orang perlu untuk bercerita, berkeluh kesah, didengarkan, mendapat kebebasan dalam mengeskpresikan emosinya. Jangan terlalu menganggap sepele orang yang membutuhkan ruang berekspresi. Kita tidak akan tahu sekuat apa diri dan mentalnya dalam menghadapi masalah sejauh ini. Coba tanyakan kabar orang-orang di sekelilingmu, kalau perlu temui dan jika butuh bantuan, tolonglah.
Menangis, Apakah ada Manfaatnya?
Setiap tetes air mata yang jatuh bukanlah sesuatu yang sia-sia. Bahkan Tuhan menciptakan segala sesuatu yang ada di alam ini penuh dengan manfaatnya masing-masing. Seperti air yang bisa digunakan untuk minum dan mandi, hewan sebagai penyeimbang alam, tumbuhan sebagai penghasil oksigen bagi manusia serta hewan dan sebagainya.
Begitupun dengan menangis, akibat dari meluapkan emosi berupa menangis bermanfaat juga bagi kesehatan fisik dan mental untuk tetap waras, kuat dan seimbang dalm menjalani hari-hari, misalnya meningkatkan mood, mengurangi stress, perasaan menjadi lega dan bisa membersihkan mata dari kotoran. Jika kita tilik lebih dalam, sangat bermanfaat bukan.
Selayaknya manusia pada umumnya yang memiliki perasaan, sepertinya normal saja ketika seorang laki-laki menangis karena itu bentuk dari sebuah ekspresi. Menangis juga boleh-boleh saja asal tidak berada di tempat yang ramai dan berakibat membuat panik orang di sekitar, seperti di kamar atau ruangan yang sepi (tempat yang tepat).
Meskipun menangis tidak dapat menyelesaikan masalah, setidaknya ada kelegaan dalam diri ketika sudah meluapkan emosi. Namun harus ada kebangkitan juga setelahnya untuk menjadi lebih baik. Begitupun standar kekuatan laki-laki tidak diukur dari seberapa banyak dia tidak menangis. Jadi, tidak perlu menstandarkan diri sebagai laki-laki harus kuat dengan tidak cengeng, nggak perlu curhat, karena kita hanyalah manusia.
Perempuan yang lahir di Bojonegoro sekaligus mahasiswa Pendidikan Matematika UM Surabaya.
