Site icon Inspirasi Muslimah

Perbaiki Diri dengan Introspeksi Selama Pandemi

introspeksi

Sebagai orang yang beriman, seyogyanya kita memandang pandemi Covid-19 sebagai ujian kesabaran keimanan sekaligus azab untuk mengingat, introspeksi dan meleburkan dosa-dosa kita. Covid-19 termasuk dalam kategori wabah tho’un atau penyakit menular yang juga  termasuk bencana alam. Covid-19 bukan merupakan wabah tho’un pertama yang ada di dunia. Wabah tho’un telah ada ratusan bahkan ribuan tahun lalu dan juga telah merenggut jutaan nyawa manusia sepanjang sejarah. Beberapa diantaranya juga membinasakan umat yang durhaka pada Allah.

Bencana Covid-19 ini sebaiknya dipandang dalam paradigma spiritualitas dan religiusitas. Mengapa demikian? Karena ini bencana alam. Sesuatu diluar kendali manusia. Kita tidak mampu menahan tsunami, mencegah gempa bumi dan gunung meletus, atau menolak hujan deras hingga menenggelamkan bumi seperti pada zaman Nabi Nuh. Termasuk menghentikan kiamat bila sudah watunya. Memandang secara spiritual, membuat kita yakin bahwa Tuhan berkehendak apa saja dan membuat kita paham bahwa bencana dan musibah ditimpakan pada suatu umat itu karena perbuatan maksiat.

Ingat Lima Perkara

Hal ini dijelaskan dalam hadits Nabi Saw, di antaranya dalam hadits Ibnu ‘Umar, bahwasanya Nabi Saw bersabda:

“Hai orang-orang Muhajirin, lima perkara: jika kamu ditimpa lima perkara ini, aku mohon perlindungan kepada Allah agar kamu tidak mendapatinya:

(1) Perbuatan keji (seperti: bakhil, zina, minum khamr, judi, merampok dan lainnya) tidaklah dilakukan pada suatu masyarakat dengan terang-terangan, kecuali akan tersebar wabah penyakit tha’un dan penyakit-penyakit lainnya yang tidak ada pada orang-orang dahulu yang telah lewat.

(2) Orang-orang tidak mengurangi takaran dan timbangan, kecuali mereka akan disiksa dengan paceklik, kehidupan susah, dan kezhaliman pemerintah.

(3) Orang-orang tidak menahan zakat hartanya, kecuali hujan dari langit juga akan ditahan dari mereka. Seandainya bukan karena hewan-hewan, manusia tidak akan diberi hujan.

(4) Orang-orang tidak membatalkan perjanjian Allah dan perjanjian Rasul-Nya, kecuali Allah akan menjadikan musuh dari selain mereka (orang-orang kafir) menguasai mereka  dan merampas sebagian yang ada di tangan mereka.

(5) Dan selama pemimpin-pemimpin (negara, masyarakat) tidak menghukumi dengan kitab Allah, dan memilih-milih sebagian apa yang Allah turunkan, kecuali Allah menjadikan permusuhan di antara mereka.” (H.R. Ibnu Majah)

Restart Jiwa dan Budaya

Covid-19 melesukan segalanya. Tentu saja yang paling berdampak adalah aktivitas ekonomi dunia. Sebagaimana yang disampaikan oleh Presiden Jokowi bahwa semua ekonomi diberbagai negara belahan bumi ini hilang. Sehingga perlu di re-start lagi.

Ekonomi restart adalah suatu ide bagus. Namun bagaimana dengan jiwa, hati, dan perilaku penggerak ekonomi yang notabene kita sebagai manusia? Tidak perlukah kita me-restart diri? Bagaimanapun ekonomi adalah bagian dari outcome. Percuma diubah bila yang menjalankan tidak berubah. Lalu sebaiknya perubahan seperti apa?

Kisah Penebang Pohon dan Pedagang Meubel

Saya menganalogikan pada suatu cerita yang pernah saya dengar yaitu tentang penebang pohon dan pedagang meubel. Alkisah, pedagang meubel ingin mempekerjakan seorang penebang pohon untuk pasokan meubelnya. Saat mulai bekerja, si majikan yaitu pedagang meubel ini, memberikan sebuah kapak dan menunjukkan area kerja yang harus diselesaikan dengan target waktu yang telah ditentukan kepada si penebang pohon. Hari pertama bekerja, dia berhasil merobohkan 8 batang pohon. Sore hari, mendengar hasil kerja si penebang, sang majikan terkesan dan memberikan pujian dengan tulus. Keesokan hari si penebang bekerja lebih keras lagi, tetapi dia hanya berhasil merobohkan 7 batang pohon. Hari ketiga, dia bekerja lebih keras lagi, tetapi hasilnya tetap tidak memuaskan bahkan mengecewakan.

Semakin bertambahnya hari, semakin sedikit pohon yang berhasil dirobohkan. Dengan kepala tertunduk dia menghadap ke sang majikan, meminta maaf atas hasil kerja yang kurang memadai dan mengeluh tidak mengerti apa yang telah terjadi. Sang majikan menyimak dan bertanya kepadanya, “Kapan terakhir kamu mengasah kapak?” Si Penebang pohon menjawab “Mengasah kapak? Saya tidak punya waktu untuk itu. Saya sangat sibuk setiap hari menebang pohon dari pagi hingga sore dengan sekuat tenaga,” kata si penebang.

Si majikan menjawab, “Nah, disinilah masalahnya. Ingat, di hari pertama kamu kerja? Dengan kapak baru dan terasah tajam, maka kamu bisa menebang pohon dengan hasil luar biasa. Hari- hari berikutnya, dengan tenaga yang sama, menggunakan kapakmu yang sama tetapi tidak diasah,  kamu  tahu  sendiri,  hasilnya  semakin  menurun.  Maka, sesibuk   apapun,   kamu   harus meluangkan waktu untuk mengasah kapakmu, agar setiap hari bekerja dengan tenaga yang sama dan hasil yang maksimal. Sekarang mulailah mengasah kapakmu dan segera kembali bekerja!”.

Menyeimbangkan Pikiran, Jiwa dan Hati

Cerita di atas memiliki makna pentingnya mengambil jeda, beristirahat, beribadah, dan mengembalikan bakat kemampuan dengan tidak selalu terus bekerja. Dengan adanya pandemi Covid-19 ini mengajarkan pada dunia dan menyisipkan pesan positif untuk mengurangi aktivitas duniawinya mengejar materi namun tak memberi manfaat diri, malah sakit, bahkan tak sempat mempersiapkan bekal akhirat. Agar bisa merenungi esensi hidup seperti mengasah kapak agar tajam digunakan untuk menebang. Seperti itulah pikiran, jiwa, dan hati kita seharusnya saat “beristirahat” selama pandemi Covid-19. Menjadikan kita manusia yang tidak hanya berilmu namun juga bijaksana.

Masyarakat dunia terlalu sibuk dalam persaingan duniawi, tak jarang kemaksiatan dimaklumi sebagai bentuk penghargaan hak asasi. Padahal jelas dalam kitab suci agama manapun tak hanya Al Quran bahwa maksiat adalam sumber bencana termasuk tho’un. Memusuhi, menjauhi, mencegah maksiat dan kezaliman pada dasarnya bukan sekedar mematuhi ajaran agama, melainkan menjaga harmonisasi hidup dengan semesta. Karena Tuhan tidak suka kemaksiatan dan kezaliman, maka dikirim bencana sebagai azab bagi pendosa kecali bagi yang bertaubat dan bertakwa. Dengan Covid-19 selama ini seharusnya tak hanya menjadi momen restart ekonomi saja, melainkan jiwa, hati, pikiran, dan budaya dalam rangka memurnikan diri atau introspeksi. Seperti Covid-19 yang memurnikan udara dan atmosfir bumi dari kezaliman manusia terhadap lingkungan dan alam, seperti itulah kita pada diri kita sendiri. (Editor : Laeli)

Penulis : Novy Khusnul Khotimah.

Bagikan
Exit mobile version