Parenting berasal dari kata parent, dalam bahasa Inggris artinya orang tua. Parenting merupakan suatu pola asuh orang tua kepada anak sesuai dengan tumbuh kembangnya. Melalui parenting yang baik, harapannya dapat mengembangkan anak dengan kepribadian yang baik. Menjadi orang tua membutuhkan tanggung jawab yang besar, keterampilan yang baik agar anak dapat tumbuh dan berkembang dengan memadai.
Anak adalah Titipan Tuhan
Dalam QS. An-Nahl ayat 72 menyebutkan bahwa Allah Swt. akan mengatur dan memberikan rezeki kepada hamba-Nya sehingga tidak perlu mengkhawatirkan faktor ekonomi yang kerap menjadi alasan. Melihat dari sisi lain, Islam menganjurkan manusia memiliki keturunan dari pernikahan yang sah. Namun tidak hanya berhenti sampai situ saja, melainkan juga harus memenuhi hak dan kewajiban yang melekat pada orang tua ketika memiliki anak. Setiap orang tua harus mempersiapkan pendidikan dan bertanggung jawab atas anaknya. Anjuran memiliki keturunan harus dengan kesadaran yang penuh tanggung jawab sebagai orang tua.
Anak merupakan amanah Tuhan kepada orang tua untuk membesarkannya sehingga menjadi pribadi yang dewasa. Orang tua hanya menjadi wasilah lahirnya anak ke dunia sehingga wajar jika anak sebagai titipan Tuhan. Maka dari itu, orang tua mempunyai andil yang besar karena keluarga merupakan tempat pertama di mana anak lahir dan tumbuh. Dalam keluarga pula anak bertumbuh dan berkembang hingga dewasa kelak.
Mengutip perkataan dari Ibu Dini Aksarni, “Figur bapak itu dibutuhkan, akan sangat menarik jikalau ada bapak-bapak menjadi guru TK ataupun PAUD.” Oleh karena itu figur bapak dalam parenting menjadi sangat penting, tidak hanya sekadar mencari nafkah. Namun, seorang bapak juga berperan dalam gaya pengasuhan dan perkembangan anak. Walaupun pada umumnya peran ayah dengan anak menghabiskan waktu relatif lebih sedikit daripada peran ibu dengan anak. Maka dari itu, peran bapak ataupun ibu dalam parenting keduanya sangatlah penting.
Peran Orang Tua dalam Pola Asuh Anak
Dalam agama Islam, kehadiran anak merupakan kewenangan dan kehendak Allah Swt. melalui proses penciptaan. Islam adalah agama kasih sayang, menjadi orang tua dan memiliki anak merupakan salah satu fitrah manusia. Mengutip perkataan dari Ibu Dini Aksarni, “Anak adalah amanah dari Allah Swt., setiap manusia itu unik, maka setiap anak juga unik.” Unik di sini memiliki makna yang luas. Anak yang hiperaktif, anak yang ketika orang tua memberikan nasehat tidak menurut, dan masih banyak lagi, merupakan keunikan yang masing-masing anak miliki. Bukan berarti anak tersebut itu nakal dan membangkang.
Sebagai orang tua juga perlu untuk introspeksi diri, kesalahan apa yang orang tua lakukan sehingga anak tidak mengikuti nasehat orang tua. Salah satu sebabnya yaitu pola komunikasi orang tua ke anak yang kurang, sehingga kedekatan anak dan orang tua juga sangat kurang. Kedekatan anak dan orang tua yang kurang menyebabkan anak tidak mau mendengar nasehat orang tua. Tetapi, juga bisa kita lihat dari sebab lain, yaitu metode yang orang tua gunakan dalam menasihati anak kurang tepat. Mengajak anak berdiskusi akan lebih interest daripada orang tua memberikan nasehat berupa ceramah panjang.
Prinsip Positive Discipline
Penerapan pendekatan positive discipline sudah lebih dari seratus tahun di lebih dari ratusan negara dan berdasarkan riset, testimoninya juga sudah banyak. Positive discipline atau bahasa lainnya yaitu connecting before correcting dengan prinsip tidak menghina, tidak menyalahkan, tidak mempermalukan atau menyakiti anak. Tujuan utama dari pendekatan ini yaitu terbentuknya internal motivation atau motivasi yang terbentuk dari dalam diri anak. Jika internal motivation sudah terbentuk, maka anak melakukan sesuatu bukan hanya disuruh namun juga muncul dari diri pribadi anak sendiri, sehingga jiwa keikhlasan mucul dari anak sendiri pula.
Mengutip dalam diskusi, “The five criteria for effective discipline yaitu menghormati tidak hanya anak, tetapi orang tua juga; membina anak siap terjun ke masyarakat; efektif untuk saat ini dan jangka panjang; mengajarkan nilai-nilai hidup; dan membangun kepercayaan diri dan self-efficacy.” Dengan penerapan lima kriteria tersebut dapat membentuk skill yang anak miliki. Tanpa memberikan hukuman dan paksaan kepada anak. Sistem ini juga sesuai dengan Al-Qur’an dan Sunah Rasulullah Saw.
Reporter: Ihyana Istiqomah
“Mencerahkan pemikiran, menggerakan nurani, membentuk perempuan Islam yang progresif dan berdaya”
