Siang ini aku mulai bermain dengan pikiranku sendiri. Tiba-tiba aku teringat dengan kejadian beberapa hari yang lalu. Selepas sholat magrib aku duduk di kursi depan rumah ibuku. Aku menikmati makan malam yang aku siapkan sedari sore, sedikit nasi putih dengan banyak lalapan di dalamnya berupa sayur pepaya jepang yang kupetik di dekat rumah kakakku.
Ikan pindang dan tak lupa sambal kukus kesukaanku melengkapi menu malam itu. Aku memang lebih suka makan muluk (bahasa jawa) dengan jari-jariku. Rasanya akan lebih nikmat dan bisa lebih merasakan makanan, tapi mungkin orang lain tidak sama sepertiku.
Suap demi suap aku masukkan nasi dan kawan-kawannya tadi ke mulutku. Sembari mengamati orang lewat depan rumah. Dari arah barat aku melihat sepasang suami istri naik motor kencang sekali, tiba di perempatan jalan dekat rumah keduanya balik lagi di depan rumah ibu.
Aku melihat kucing besar di tengah jalan itu, sontak aku berdiri dan kaget setengah mati melihat kucing kecil meregang nyawa, Astaghfirullah, aku baru sadar kucing kecil itu tertabrak. Dengan mata kepalaku sendiri aku melihat proses sakaratul maut hewan kecil itu. Aku terdiam sesaat, meskipun suami istri tadi bicara denganku.
Mbak masih hidup apa sudah mati? Sambil gemetaran, aku tak bisa berkata apapun dalam pikiranku bergejolak teringat kejadian tadi pagi ketika aku menjemur kasur. Kedua kucing ibu dan anak aku usir dengan ketus “eh ayo cing ojo nok kene (ayo cing jangan di sini),” begitu ucapku. Kemudian keduanya pindah ke samping kasur.
***
Semua kejadian tabrakan tadi begitu cepat sehingga hal tersebut sungguh tragis untuk seekor binatang menurutku. Dalam hatiku aku menyalahkan diri sendiri karena selalu menyia-nyiakan kucing. Aku melakukan hal tersebut bukan tanpa sebab. Di tempat kontrakan yang aku tinggali, pemilik kontrakan yang berada di sebelah rumah memelihara banyak kucing di kebun belakang. Makanan dan minuman kucing serta kotoran menjadi satu dengan tempat di mana aku menjemur pakaian
Suatu hari aku membuka pintu belakang ingin menjemur pakaian. Dapatkah kalian bayangkan ketika yang ada di depan mata tak lagi kucing lucu yang meong-meong tapi beberapa gundukan kotorannya terlihat dengan jelas, ingin rasanya aku menjerit karena itu sangat menjijikkan, tapi aku berusaha menahan reaksiku dengan cepat mengambil pisau dan mengambil tanah untuk menutupinya.
Aku sudah tidak tahan, tinggal satu gundukan tapi aku sudah tidak kuat lagi. Langsung aku masuk ke dalam rumah mau muntah. Ya Allah memang betul saat hati gelap lebih baik kita duduk, minum kemudian rebahan. Aku sempat berpikiran ingin membeli jemuran baju di dalam rumah. Hal itu dilarang suamiku. Ya sudahlah aku urungkan niatku. Alhamdulillah keesokan harinya udara panas jadi bau dari kotoran kucing itu sudah menipis tidak begitu pekat menyengat hidung.
Kembali ke cerita kucing tadi, si ibu kucing aku angkat dan kukatakan dengan pelan; “wes yo anakmu wes meh dikubur (sudah ya anakmu sudah mau dikubur);” karena pada saat itu penabraknya minta kardus, dan pada akhirnya membawa kucing kecil yang sudah mati tadi untuk dikuburkan. Aku pun ikut menangis melihat sekaratnya kucing kecil itu. Ditambah lagi kesedihan wajah si ibu kucing. Aku membayangkan seumpama itu manusia, terus apa aku kuat melihat kejadian tersebut. Ternyata tak hanya manusia yang bisa membangkitkan rasa kemanusiaan, binatang pun bisa, gumamku dalam hati.
***
By the way, sebenarnya aku bukannya tidak suka sama kucing, sebenarnya aku punya alergi rhinitis kronis yang baru kuketahui pada tahun 2007. Aku dulu juga punya kelinci dan ayam di rumah. Setelah aku dinyatakan punya alergi itu akhirnya dijual semua. Aku pun tak lagi bergaul dengan hewan tersebut.
Sebetulnya kucing-kucing yang ada di sekitar kita itu tidak mengganggu. Sama halnya dengan kejadian hari ini, beberapa hari aku terganggu dengan bau tak sedap dan mondar mandirnya hewan sejenis tikus yang dalam bahasa jawa dinamakan curut. Hewan ini memaksaku untuk memeriksa seluruh bagian rumah. Sweeping pun aku lakukan. Duh Gusti Allah, aromanya sungguh bisa membuat aku pingsan.
Lagi-lagi aku menepis bau tersebut dengan menutup hidung dengan masker, aku semprotkan obat nyamuk ke sela-sela rumah di mana ada lubang-lubang kecil di rumah. Akhirnya keberuntungan berada di diriku ini, curut tersebut tertangkap oleh kakakku, aku lega, meskipun aku sendiri tidak berani dengan binatang tersebut, jijik sekali.
Kembali aku mendapatkan pelajaran hidup yang sangat mengena di hatiku. Aku bertanya pada diriku sendiri. Mengapa Tuhan menciptakan hewan-hewan seperti kucing dan curut? Aku rasa kucing itu memberikan aku pelajaran tentang bagaimana menyayangi makhluk ciptaan-Nya. Meski tidak aku pungkiri bahwa hal yang menurutku itu adalah hal buruk yang didatangkannya (bulu berbau dan kotorannnya) itu benar-benar mengganggu indra penciumanku. Di samping itu binatang sejenis curut itu mengajarkanku untuk hidup bersih dan tidak menyimpan sampah di dalam rumah. Karena ternyata si curut itu suka sama tempat kotor.
***
Semoga hal-hal yang kita dapati sehari- hari utamanya tentang binatang yang mungkin mengganggu, kita bisa menyikapi dengan lebih santai dan senang hati, mengambil hal buruk sebagai pelajaran, karena yang dapat memberi kita pelajaran bukan hanya hal baik, melainkan sebaliknya juga.
Belajar dari Al-Quran surat Al-Baqarah ayat 216 bahwa; “Diwajibkan atas kamu berperang, padahal itu tidak menyenangkan bagimu. Tetapi boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui”. Yakinlah bahwa semua yang diciptakan Tuhan akan membawakan hikmah buat kehidupan kita.
Seorang guru yang tinggal di Kudus
