Site icon Inspirasi Muslimah

Pasangan Juga Butuh Curhat!

curhat

Berbicara tentang pasangan, sepertinya sudah menjadi hukum alam bahwasannya kita semua menginginkan lahirnya keluarga sakinah. Paradigma tentang keluarga sakinah bukan berbicara tentang orang lain, melainkan tentang diri sendiri dalam setiap pasangan.

Dalam ajaran Islam, tujuan dari membangun keluarga adalah terbentuknya sakinah, mawaddah, warahmah. Karena pada dasarnya, pasangan adalah penyatuan sesuatu yang berbeda. Berangkat dari perbedaan itulah yang akan menjadikan saling melengkapi. Tinggal bagaimana para pasangan itu mengetahui cara mengelolanya.

Menjalankan sebuah amanah dalam ikatan keluarga, terutama pasangan suami dan istri perlu melanggengkan negosiasi. Pada sebuah referensi buku yang berjudul ‘Feminisme Muslim di Indonesia’, Alimatul Qibtiyah menyebutkan tentang konsep negosiasi. Negosiasi ini merupakan kunci dari keberhasilan menjalankan komunikasi dalam mewujudkan keluarga sakinah.

Empat Pilar Menjalin Hubungan

Ternyata komunikasi menempati posisi sangat strategis dalam sebuah pasangan. Bukan hanya ketika mewujudkan cita-cita hidup bersama, melainkan dapat merasakan kelegaan secara batiniah antar keduanya. Sekali lagi, kuncinya ada pada komunikasi!

Dilansir dari seorang konsultan keluarga, Khoiruddin Bashori; menuturkan bahwa kesuksesan dalam berkomunikasi merupakan salah satu pilar dalam menjalankan sebuah hubungan. Terdapat empat pilar yang menjadi landasan dalam menjalin hubungan, yakni komunikasi, kepuasan, menutup peluang aneh-aneh, dan komitmen kegamaan.

Pertama adalah komunikasi.Komunikasi merupakan kunci dari sebuah hubungan. Ada tiga tipe komunikasi, yakni terbuka (agresif), pendiam (pasif), dan aserif (lugas).

Dalam menjalin komunikasi, kuncinya adalah bil hikmah, yang berarti bahwa selalu mengambil sisi substansial dan dampak kebaikan.

Kedua yakni kepuasan, baik itu kepuasan dalam hal psikologis, sosial, ekonomi, seksual, dan lainnya.

Ketiga, menutup peluang aneh-aneh. Segera tutup peluang yang negatif, agar tidak menambahkan peluang yang tidak didinginkan dalam keluarga.

Keempat adalah kualitas keberagamaan.

Dalam kehidupan rumah tangga hendaknya mempunyai komitmen kegamaan bersama-sama, sehingga akan seimbang antar keduanya dalam menggapai surgaNya.

Ternyata bekal cinta saja tidak cukup. Cinta itu bukan seperti batu, yang tiba-tiba teronggok di suatu tempat, tetapi cinta itu ibaratkan membuat roti, yang harus selalu diperbaiki setiap waktu dan diperbaharui. Cinta itu bukan jatuh (fallin in love), tetapi cinta itu diciptakan.

Banyak hal yang akan terlahir dalam menjalankan pilar ini. Munculnya konflik sudah pasti menjadi bumbu paling utama. Konflik dalam setiap pasangan adalah hal yang wajar. Pandangan baru tentang konflik dalam sebuah pasangan harus mulai kita munculkan, bahwa konflik itu adalah hal bermanfaat. Adanya dinamika memberikan paradigma saling terbuka dan memahami.

Dengan adanya konflik akan mendorong perubahan dan mengembangkan diri. Jadilan pasangan sebagai pembelajar yang baik, sehingga mampu menghargai dinamika dan proses. Konflik itu bukan hal yang harus ditekan ataupun dihindari, tetapi harus dibicarakan dan diselesaikan.

Curhat Mengatasi Kesendirian

Hal sederhana dari komunikasi adalah dengan berusaha menjelaskan isi dan suasana hati dalam kadar se-sederhana mungkin. Istilah populernya adalah ‘curhat’ atau curahan hati.

Curhat bukan semata-mata harus kepada orang yang ahli dan mengeluarkan biaya yang besar. Manfatakan pasangan masing-masing untuk dijadikan wadah dalam mencurhakan isi hati. Cara ini akan menjadikan hubungan semakin harmonis.

Hal tersebut mendapai afirmasi dari seorang psikoterapis dari Los Angeles, yakni Lori Gottlieb. Ia merangkum perjalanan hidupnya menjadi seorang psikoterapis ke dalam sebuah buku yang berjudul ‘Maybe You Should Talk To Someone’ atau ‘Semua Orang Butuh Curhat’.

Meskipun Lori Gottlieb seorang psikoterapis yang setiap harinya menerima curhatan pasien, ternyata hatinya pernah mengalami goncangan yang cukup serius. Sehingga ia pun memutuskan untuk mencari terapis untuk dirinya sendiri.

Setelah melakukan teratment, akhirnya ia mampu mengambil sudut pandang yang berbeda, yaitu sebagai terapis dan pasien.

Data menyatakan bahwa secara kuantitas perempuan lebih dominan dari pada laki-laki. Banyak faktor yang menyebabkan hal tersebut bisa terjadi. Mengutip pernyataan Alimatul Qibtiyah, salah satu faktor yang menyebabkan angka laki-laki lebih sedikit dari perempuan adalah karena laki-laki tidak diberikan kebebasan secara emosi.

Coba bayangkan, perempuan selama hidupnya mampu merasakan empat emosi sekaligus, yakni marah, senang, sedih, dan takut. Tapi sangat berbeda dengan laki-laki. Lingkungan masyarakat kita membentuk laki-laki terbatas untuk berekspresi.

Laki-laki cenderung hanya bisa merasakan senang dan marah saja, sehingga menjadikan terbatas dalam mengekspresikan sesuatu hal ketika merasa sedih atau takut. Secara psikologis, keadaan ini akan berdampak pada keberlangsungan hidup sehari-hari.

Terus Mengusahakan Kesalingan

Ketidaksempurnaan salah satu pihak dalam mengekspresikan emosi akan berdampak pada relasi dalam setiap lini kehidupan, termasuk pada pasangan. Dalam keadaan seperti ini, saling mendengarkan dan mencurahkan adalah kunci komunikasi yang sebenarnya.

Jika sesama pasangan tidak saling mendengarkan dan memahami satu sama lain, hal ini akan memicu terjadinya kesepian atau kesendirian. Petinggi Kesehatan di Amerika Serikat menyebutnya dengan istilah “epidemic of loneliness” yang akan meningkatkan resiko kematian dini.

Dilansir dari The Guardian.com, penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar populasi di Amerika Serikat dan Inggris tidak memiliki kemampuan interaksi sosial yang berarti, seperti halnya melakukan percakapan panjang dengan teman atau antara sesama pasangan.

Banyak di antaranya mengaku merasa terisolasi dan tersisih, bahkan saat bersama dengan orang lain. Langkah strategis dalam menanggulangi krisis kesepian ini adalah dengan saling terbuka mendengarkan keluh kesah dan melakukan negosiasi dalam berbagai kesempatan.

Faktanya, seni mendengarkan sangat perlu dalamkeadaan ini, keterampilan yang kelihatannya sudah banyak terabaikan atau mungkin tidak pernah mempelajari sebelumnya.

RBE (Rekening Bank Emosi)

Menurut Khoiruddin Bashori, membangun rasa saling percaya dalam sebuah hubungan adalah sebuah keharusan. Hal ini ada istilah RBE (Rekening Bank Emosi) yang bisa diterapkan. Perasaan jika didiamkan akan berkurang dan turun. Jika komunikasi tidak sempurna, maka akan menurun intensitasnya.

Agar hubungan berkualitas, maka setoran harus maksimal, yakni sebuah kebaikan yang harus disetorkan kepada pasangan. Misalnya pemenuhan kebutuhan, menepati janji, memenuhi harapan, mencurahkan isi hati secara jujur dan meminta maaf.

Tetapi apabila tarikannya adalah keburukan, maka akan menghilangkan setoran kebaikan. Sehingga, harus ada hubungan yang seimbang antara setoran dan harapan. Seni dalam mewadahi emosi yang telah tercurahkan menjadi perlu dalam kesempatan ini.

Bahkan ketika terjadi permasalahan dalam setiap pasangan, ada hal-hal yang harus kita selaraskan, yakni pahami masalahnya, analisis dan mendefiniskan masalah.

Tentukan goal nya, lalui tahapan tangga belajar. Jangan terlalu tinggi, tetapi bertahap dan berjenjang. Tentukan strategi pemecahan masalah, dan aiakhiri dengan implementasi.

Selanjutnya adalah melakukan evaluasi. Apabila tidak selesai, maka harus ditinjau kembali terkait proses yang telah dilalui sebelumnya. Pasangan akan berkembang menjadi lebih baik jika didasarkan pada pembelajaran dan keinginan berubah ke arah yang lebih baik.

Semua orang berhak untuk bahagia, asalkan mempunyai keinginan untuk memperjuangkan dan perlu untuk mencurahkan. Pada akhirnya, setiap pasangan butuh curhat!

Bagikan
Exit mobile version