Site icon Inspirasi Muslimah

Paradoks Cinta

paradoks cinta

Akhir-akhir ini banyak sekali kasus yang membuat wanita merasa takut bahkan trauma untuk mencintai. Rasa takut tersebut dirasakan oleh banyak wanita walaupun ia belum pernah menjalin hubungan ataupun yang belum pernah mengalami toxic relationship. Tetapi karena ia melihat banyak sekali kasus membuat mereka takut dan ragu untuk mencintai.

Kasus yang membuat wanita takut untuk mencintai baru-baru ini–dan sudah sejak lama juga–adalah kasus perselingkuhan. Baru-baru ini media sosial dihebohkan oleh kasus Adam Levine  anggota Maroon 5, grup musik dari Amerika dan perselingkuhan Reza Arap Youtubers dan juga juri Indonesia’s Got Talent

Kasus Adam membuat banyak wanita overthinking pasalnya istri dari Adam Levine berparas cantik bahkan sedang mengandung anaknya bisa melakukan perselingkuhan. Ditambah lagi dengan kasus Wendy dan Reza Arap lelaki yang terlihat sangat saling mencintai dan menyayangi tetap saja bisa melakukan perselingkuhan.

Lantas banyak wanita yang berpikir apakah ketulusan bisa membuat semua itu tidak terjadi? Apakah dengan perasaanku yang tulus mencintainya aku tidak akan tersakiti?

Melihat pertanyaan tersebut kita kembali melihat kasus Laura Anna. Seorang selebgram yang meninggal karena penyakit yang disebabkan pasca kecelakaan bahwa wanita cantik dan tulus juga tidak cukup membuat lelaki bersyukur. Lantas apakah harus cantik, sabar, terkenal, dan kaya mampu membuat lelaki mencintai, bersyukur, dan tidak menyakiti?

Mungkin sebelum kasus KDRT yang dialami Lesti Kejora hal tersebut mungkin pernah terbesit di kepala kita. Namun setelah mencuat kasus tersebut, ternyata itu semua tidak menjamin bahwa kita tidak tersakiti. Sejujurnya ketika mendengar kasus perselingkuhan KDRT dan hal-hal semacam itu saya merasa kesal dan marah sama seperti yang lainnya. Namun bukan berarti saya memilih untuk tidak mencintai atau sama sekali tidak terlibat dengan cinta.

Pertanyaannya, apakah mencintai memang sesakit itu? Apakah lebih baik dicintai dari pada mencintai? Apa lebih baik untuk tidak dicintai ataupun mencintai agar tidak merasakan sakit dan menyakiti? Mungkin pertanyaan tersebut akan dijawab berbeda oleh setiap orang mengingat definisi cinta setiap orang berbeda.

Menurut saya jika Anda mencintai anda harus siap terluka karena ketika kita mencintai seseorang secara tidak sadar ataupun sadar kita menaruh harapan dan ekspetasi akan sesuatu terhadap orang yang kita cintai. Apakah mencintai itu sakit? Bisa jadi iya karena ketika harapan kita hancur dan ekspektasi kita tidak sesuai dengan realita. Cara pandang tentang suatu hal berbeda antara satu dengan yang lain dan ketika ada hal yang berjalan tidak sesuai rencana. Atau hal tersebut terasa mengecewakan maka kita akan merasakan sakit dan terluka.

Namun apakah lebih baik dicintai? Itu juga bukanlah hal yang dapat dipastikan. Karena perasaan dicintai bukan berarti kita dapat melakukan segala hal yang diinginkan. Segala hal tentu akan selalu indah ketika kita dicintai dan tidak merasa tersakiti. Terkadang perasaan ingin dicintai secara berlebihan atau haus akan cinta membuat kita tidak akan puas dan selalu merasa kurang. Atau mungkin ketika kita dicintai kita secara tidak sadar menyakiti orang dan membuat kita merasa bersalah dan terluka.

Lantas apakah lebih baik untuk tidak mencintai dan tidak dicintai? Tentu saja itu bukan pilihan yang tepat, jika kita tidak merasakan cinta maka hidup akan terasa kosong dan hampa. Karena dengan perasaan dicintai dan mencintai bisa dikatakan kita menjadi manusia yang sempurna. Kita dapat merasakan bahagia dan sedih, kita tidak akan menghargai kebahagiaan jika tidak ada kesedihan, kita tidak akan bahagia jika tidak tau apa itu sedih dan terluka.

Antara cinta dan luka menurut saya itu merupakan hal yang sulit untuk dipisahkan. Menurut saya tidak ada hubungan yang sempurna, love and hate pasti selalu berdampingan. Karena perasaan cinta itulah satu-satunya perasaan yang bisa membuat kita merasa benci dan cinta di saat yang bersamaan, misalnya ketika mengalami konflik di rumah ibu suka cerewet dan marah-marah di saat itu kita akan merasakan marah, kesal, benci namun cinta di saat bersamaan.

Memang banyak kasus yang membuat kita takut untuk mencintai, tetapi jika kita lihat lagi cinta membuat banyak hal di hidup kita berharga seperti rasa cinta terhadap diri sendiri atau self love lah yang secara tidak sadar membuat kita mampu membedakan yang baik dan yang buruk bagi diri kita. Rasa cinta akan diri sendiri lah yang membuat diri ini bermakna.

Perasaan dicintai dan mencintai orang tua, ketika kita lahir dan dibesarkan oleh orang tua itu sudah merupakan bentuk cinta dari mereka. Ketika kita merasa sedih dan khawatir akan kesehatan orang tua itu juga sudah merupakan bentuk cinta kemudian perasaan dicintai dan disayangi oleh teman. Perasaan dicintai oleh lawan jenis dan pasangan hidup, perasaan cinta akan hewan peliharaan tumbuhan peliharaan juga merupakan bentuk cinta. Tak jarang orang menangis karena hewan peliharaannya mati, dan ibu-ibu marah dan kesal ketika tanamannya dipetik dan dirusak oleh anaknya atau hewan liar. Semua itu juga merupakan bentuk cinta, karena cinta terjadi ketika adanya kelekatan dan perasaan memiliki.

Selama menjalani hubungan mungkin cinta tidak selalu terlihat dan selalu membahagiakan karena hubungan pernikahan yang harmonis pun akan diakhiri dengan perpisahan terakhir yaitu maut. Tetapi kita harus ingat bahwa kita pernah bahagia karena merasakan cinta dan jangan takut untuk mencintai walaupun akhirnya luka.

Saya mengutip kata kata dari seorang tokoh yaitu Mother Teresa, ia berkata I have found the paradox, that if you love until it hurts, there can be no more hurt, only more love, mungkin kata-kata tersebut terdengar naif tapi itulah yang terjadi.

Bagikan
Exit mobile version