Regenerasi adalah sebuah keniscayaan untuk setiap organisasi apapun jenisnya. Dan regenerasi tersebut hanya bisa diperoleh dengan adanya kaderisasi. Kaderisasi sendiri berfungsi untuk menyiapkan embrio yang siap melanjutkan tongkat estafet perjuangan kepemimpinan. Istilah “kader” dalam organisasi pun tidak main-main karena ada tanggung jawab penting yang mengiringi perannya tersebut. Kader adalah orang yang benar-benar terlatih dan siap dengan berbagai keterampilan dan disiplin ilmu, sehingga ia memiliki kemampuan di atas rata rata orang pada umumnya.
Bung Hatta pernah menyatakan, “Kaderisasi sama artinya dengan menanam bibit. Untuk menghasilkan pemimpin bangsa di masa depan, pemimpin pada masanya harus menanam.” Dari pernyataan tersebut dapat kita simpulkan bahwa kader adalah aset utama dan termahal dalam sebuah organisasi. Percuma saja organisasi tersebut maju tapi mengabaikan aspek kaderisasi untuk regenerasi kepemimpinannya. Jika sebuah organisasi tersebut abai terhadap satu masalah ini saja, maka kemajuan; kemegahan; dan kebesarannya tersebut tinggal menunggu waktu kehancuran.
***
Bagi generasi yang hidup di era 2000an tentu sudah tidak asing lagi dengan “Yahoo”. Perusahaan raksasa dan kaya raya yang menciptakan aplikasi obrolan pertama dengan versi lain dan sempat menguasai jagat maya global. Yah, saking berjayanya hampir semua orang yang berkutat dengan internet pasti memiliki akun yang satu ini. Tapi kejayaan Yahoo akhirnya berakhir dan resmi tutup mulai 17 Juli 2018 setelah sekitar 20 tahun beroprasi.
Apa yang menyebabkan perusahaan yang sudah terkenal di seluruh dunia itu akhirnya tumbang?. Sebagai sebuah perusahaan besar yang bergerak di bidang innovation technology, Yahoo terus berusaha meningkatkan performanya mengikuti perkembangan zaman. Namun fokus besarnya tersebut tidak diimbangi dengan manajemen sumber daya manusia yang tepat. Dilansir oleh detiknet, sejak 2006 silam beberapa teknisi yahoo hengkang dari perusahaan tersebut. Padahal mereka merupakan teknisi software yang sudah berpengalaman bertahun tahun di industri digital. Para mantan karyawan tersebut akhirnya pindah ke perusahaan lain yang lebih menghargai kemampuannya.
Kegagalan Yahoo tersebut harusnya menjadi cermin bagi setiap pimpinan bahwa kejayaan dan kekayaan tersebut akan sangat mudah hancur jika aspek kaderisasinya lemah. Baik organisasi profit maupun non profit pasti akan berkonsentrasi penuh agar aspek regenerasi bisa maksimal.
***
Dari segi perekrutan sendiri, ada banyak cara yang bisa sebuah organisasi lakukan. Misal di HMI ada LK (Latihan Kader), Hidayatullah dengan Marhalah, Muhammadiyah dengan Darul Arqam, dan lain sebagainya. Dalam proses perekrutan ini sendiri tentu butuh dana yang cukup besar serta materi-materi yang tidak mudah untuk disampaikan, agar para calon embrio ini bisa mudah menerima ideologi yang ingin disampaikan. Kini tantangan terbesar dalam organisasi setelah proses tersebut adalah tidak mudah menemukan kader yang loyal dan militan.
Dari sisi calon kader, tidak sedikit kita jumpai dalam realita kehidupan, pemuda yang aktif di beberapa organisasi berbeda, karena usia mereka merupakan usia-usia yang masih pada tahap pencarian jati diri. Maka, kadang banyak pemuda yang ikut masuk di banyak organisasi. Tapi endingnya mereka akan memilih salah satu yang paling sesuai dengan idealismenya, keyakinan dan semangat perjuangannya.
Ketika kader sudah memilih satu organisasi yang menjadi fokus perjuangannya, maka fokuslah! Militanlah! Besarkan nama dan kiprah organisasi itu, jangan dulu berpikir kepentingan pribadi, karena seiring besarnya nama organisasi nama kitapun akan ikut besar. Dan perjuangan itu tentu menuntut loyalitas dan komitmen.
Setelah proses rekruitmen kader terlaksana dan kader telah memutuskan untuk fokus pada organisasi pilihannya tersebut maka sekarang giliran organisasi yang harus menjamin keloyalan kader. Lakukan perekrutan, pembinaan, bila perlu masuklah pada tatanan pribadi privasi sang kader. Karena banyak kasus lemahnya loyalitas kader karena merasa hanya dimanfaatkan untuk mencapai tujuannya dan menyelesaikan program-programnya saja. Maka menjadi poin penting bagi sebuah organisasi untuk tidak hanya fokus pada kepentingan umum tanpa menyentuh area vital para kader.
***
Faktanya manusia akan benar benar merasakan suatu kebaikan pada saat ia terpuruk. Dan saat itulah lembaga/organisasi harus hadir jika menganggap dia adalah kader. Yakinlah jika kader sudah disentuh pada aspek tersebut pasti akan loyal. Dan beranggapan bahwa organisasi tidak hanya membutuhkan loyalitas tapi lebih dari itu. Tentu saja ini menjadi bahan renungan bersama pagi para pemimpin organisasi dan pengurus organisasi pada umumnya.
Demikian juga untuk para kader, sadarlah bahwa kita sedang dipersiapkan dan ditempa untuk menjadi ahli di bidangnya. Maka loyalitas dan komitmen kader sangatlah dibutuhkan untuk keberlangsungan sebuah organisasi. Jangan sampai organisasi menyesal, mengingat kader adalah aset terpenting dalam perjalanan roda organisasi.
Anggota Departemen Komunikasi Informasi PWNA Jawa Timur
