Site icon Inspirasi Muslimah

Misi Sang Pemimpi (1) : Pelopor Perubahan

kita memilih

Oleh : Fathan Faris Saputro

Mimpi besar itu terangkum di dalamnya. Sudah lebih dari setengah abad semenjak pasukan Salib gabungan negeri-negeri Eropa menancapkan kuku jajahanya di bumi Palestina, kala itu abad 10 Masehi. Kekalutan mencuat, merebak di dunia Islam, mereka semua  menanti datangnya sang fajar yang kelak akan membawa kaum muslimin bangkit dan duduk kembali di singgasana kejayaanya, membebaskan bumi para nabi yang saat itu semerbak  harumnya ternodai.

Sang Sultan : Nuruddin Zanki

Nuruddin Zanki terhenyak, beliau seorang Sultan yang di hadapannya menjuntai rantai panjang kekuasaan kolonialis Eropa yang menjajah negeri-negeri muslim. Ia sadar betul bahwa kemunduran umat Islam disebabkan mereka telah menjauh dari jalan-jalan cahaya bernama jihad, telah sedemikian takut untuk sekedar berkata juang.

Namun, ia tak takut, ia bahkan tak gentar walau sedetik. Ayahnya, Imaduddin Zanki, telah mencontohkannya bahwa perjuangan takkan pernah mati. Sebelum ayahandanya wafat, Imaduddin telah membuka kota-kota Islam dan membebaskanya setelah berpuluh tahun menjadi markas koloni salib di Syam. Puncaknya adalah pembebasan kota Edessa. Imadud citra yang paling baik, orang yang pemberani, cerdas dan tegas. Ia ingin mengembalikan kepercayaan umat Islam bahwa harapan untuk membebaskan Masjid Al-Aqsa masihlah ada, bahkan makin membara.

Nuruddin berpikir, bagaimana menyatukan rakyat agar mau mendukung dirinya menuju jalan panjang membebaskan Masjid Al-Aqsa. Ia telah memperbanyak madrasah-madrasah; ia telah memberdayakan madrasah-madrasah; ia juga telah mengutus ribuan ulama untuk mendidik generasi muda islam agar jiwa mereka terpanggil membebaskan Baitul Maqdis.

Mimpinya membebaskan Al-Aqsa begitu menghunjam, ia pikirkan dalam sadarnya, terbawa dalam mimpinya, terucap dalam tidurnya, dan selalu tergiang dalam pidato-pidatonya. Misi besarnya untuk membebaskan Al-Aqsa menjadi langkah yang begitu bening.

Mimbar Terindah

Akhirnya, untuk mengkristalkan mimpi besarnya, Nuruddin membuat sebuah mimbar paling indah, dibuat dengan kayu paling baik: dirancang oleh arsitek paling berpengalaman. Mimbar yang ia buat untuk mengambarkan pada rakyatnya, bahwa tekadnya telah bulat, telah kokoh, begitu keras, takkan lagi tergeser oleh kepentingan apa pun. Seakan-akan ia berseru pada rakyatnya, “Aku mengajak kalian untuk mengantar mimbar  ini ke Al-Aqsa! Apakah kalian  mau menjadi bagian dari sejarah emas Islam?”

Mimbar itu beliau letakkan di tenggah kota agara seorang ibu mengisahkan tekad Sang Sultan pada anak-anaknya: para ulam menggegarkan semangat membebaskan Baitul Maqdis di setiap majelis-majelis pengajian: para ayah bekerja menyebar di muka bumi guna mempersiapkan jihad harta dan jiwa mereka hingga kemudian siap menyambut panggilan Sultan ke medan perang.

Sungguh, mimbar itu ia buat, lalu ia bentangkan di tempat umum, sebagai simbol tekadnya yang mengkristalkan, juga sebagai seruan untuk rakyatnya dalam berbangkit. Mimbar yang dipamerkan di muka umum ini seakan mengajak pada semua pasang mata melihatnya: “Bawa aku! Bawa aku ketika Al-Aqsha bebas! Kaulah yang akan jadi pembebasnya! Kaulah yang akan jadi pembebasnya!”

Namun, Allah telah menakdirkan, misinya yang besar tak bisa beliau laksanakan hingga terlaksana. Sebab, beliau menghadap Allah pada usia ke-59, tahun 1174 Masehi demikian, hal ini tak berhenti, malah makin mengkristal di jiwa umat Islam. Hanya perlu 13 tahun menunggu, mimbar yang mewakili tekad Nuruddin Zanki diantarkan dengan bersahaja menuju mimbar Al-Aqsha yang begitu berwibawa.

Tekad Nuruddin Zanki terbentang menjadi nyata dengan perantara penerusnya, Shalahuddin al-Ayyubi, tepattnya dalam kemengan 12.000 pasukan Muslim pimpinan Shalahuddin dalam pertempuran Hattin tahun 1187 Masehi pimpinan Shalahuddin dalam pertempuran Hattin tahun 1187 Masehi melawan 60.000 Pasukan Salib pimpinan Guy de Lusingnan. Dibawalah mimbar itu menuju Al-Aqsha di hari pembebasannya.

Misi Besar untuk Pelopor Perubahan

“Misi besar,” kata Maulana Wahiduddin Khan dalam bukunya The Moral Vision: Islamic Ethics for Succes in life menjelaskan, “Dapat melahirkan dorongan yang kuat pada seorang manusia untuk melakukan usaha superior yang pada puncaknya mengarahkan untuk meraih prestasi luar biasa.

Kawan, mari kita mengulang lagi kehidupan kita sebagai pelopor perubahan. Untuk reform, kiota harus siap perform dengan segala kemampuan yang ada.  Dengan mimpi besar yang tergantung tinggi di samping bintang-bintang, dan misi raksasa yang menggetarkan. Seperti Nuruddin Zanki dan mimpinya membebaskan Al-Aqsha, visi kita adalah visi yang bening. Tujuan dan misi kita telah jelas: mengembalikan kejayaan Islam di percaturan dunia, mengantarkan Indonesia menjadi guru peradaban yang bijaksana.

*) Penulis adalah pegiat literasi dan juga mahasiswa Semester IV Program Studi Ilmu pendidikan Agama Islam Muhammadiyah (STAIM) Paciran, Lamongan

Bagikan
Exit mobile version