Site icon Inspirasi Muslimah

Midnight Culture : Budaya Kekinian yang Perlu Dipertimbangkan

midnight culture

Tan Mike Pratiwi

Midnight culture atau budaya tengah malam merupakan budaya beraktivitas di tengah malam. Budaya ini ditandai dengan perilaku dan gaya hidup begadang atau bahkan tidak tidur hingga pagi hari. Sulit mengingkari bahwa midnight culture ini telah melekat di kalangan muda pada zaman modern ini. 

Midnight culture telah berkembang berabad-abad lalu, terutama dalam kehidupan masyarakat Barat. Gaya hidup kehidupan malam (night lives) mulai berkembang pesat di era industrial hingga post-modern dewasa dan mengalami perkembangan dari waktu ke waktu. Pada tahun 70-an dan 80-an, diskotek menjadi simbol kehidupan malam dan identitas anak muda gaul serta masyarakat berkelas. Budaya diskotek kemudian digantikan dengan klub malam, kafe dan karaoke, bahkan spa malam yang didominasi oleh stigma negatif terutama narkoba dan seks bebas. Baru pada dekade tahun 2000-an, kehidupan malam bergeser ke hal yang lebih aman. Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi melahirkan berbagai jaring-jaring sosial seperti Friendster dan Yahoo Messenger yang diusung media sosial lain seperti Facebook, twitter, Instagram, dll.

Namun, lahirnya jejaring sosial ini justru menambah durasi dari yang sebelumnya separuh malam menjadi sepanjang malam. Malam hari yang seharusnya digunakan untuk tidur dan beristirahat justru dijadikan waktu untuk menjelajah internet atau bermedia sosial. Perubahan gaya hidup ini tentunya diikuti oleh perkembangan fasilitas atau infrastrukturnya. Beberapa café, restoran cepat saji, dan swalayan mulai menyediakan layanan 24 jam. Beberapa pusat perbelanjaan juga tak mau kalah dan menyediakan layanan hingga larut malam serta menawarkan promosi seperti midnight sale dan late nite shopping. 

***

Seiring berjalannya waktu, muncul wacana baru mengenai workaholic ketika pekerja kantoran terobsesi kesuksesan hingga bekerja tanpa mengenal waktu. Para remaja dan mahasiswa juga tak lepas dari budaya ini. Saat ini dapat kita lihat banyak café di kota besar yang menjadi tempat tongkrongan bagi para pemuda. Ada yang berkumpul untuk bergurau dengan teman mereka, mengerjakan tugas, online chatting dan browsing, atau sekadar mendengarkan musik sambil minum kopi. Hal ini membuat kehidupan malam yang awalnya hanya bersifat konsumtif (hiburan) juga bersifat produktif. 

Meskipun pemicu utama midnight culture berasal dari perkembangan teknologi, budaya ini juga didorong oleh  faktor lain. Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Bambang Sukma Wijaya dalam artikelnya “Makna Gaya Hidup Tengah Malam Anak Muda Urban di Branded Convenience Store dan Café 24 Jam”  menunjukkan bahwa midnight culture dapat disebabkan oleh gaya hidup insomnia yang justru dianggap keren bagi pemuda saat ini. Selain itu, midnight culture juga menjadi media memenuhi hasrat untuk sukses dan mengkonstruksi identitas workaholic. Bahkan, budaya ini justru menjadi kesenangan (pleasure) sosial yang didapatkan ketika begadang di gerai bermerek (branded merchant); seperti McDonald dan Dunkin Donuts. 

***

Midnight culture yang semakin merebak ini dapat mempengaruhi durasi dan kualitas tidur remaja dan dewasa. Sebuah riset dan studi yang dilakukan oleh Zeep Health pada tahun 2021 menunjukkan bahwa rata-rata durasi tidur harian masyarakat dunia adalah 7 Jam 9 menit, menurun 2 menit dibandingkan tahun sebelumnya. Masyarakat Indonesia berada di posisi terendah dibandingkan beberapa negara di dunia, yaitu dengan durasi tidur 6 jam 36 menit setiap harinya. Ini masih berada di bawah jepang yang durasi tidur rata-rata masyarakatnya 6 jam 44 menit dan Malaysia yang mencapai 6 jam 46 menit. Data tersebut menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan masyarakat Indonesia mengenai manfaat tidur cukup masih kurang. Masyarakat belum memahami bahwa tidur cukup merupakan suatu kebutuhan. Apabila kebutuhan tidur tidak dipenuhi, kurang tidur dapat mengakibatkan berbagai dampak buruk bagi kesehatan. 

Kebutuhan tidur setiap kelompok usia juga berbeda-beda. Menurut Hirshkowitz dalam jurnalnya mengenai sleep health, remaja usia 14-17 tahun membutuhkan waktu tidur selama 8-10 jam dan dewasa usia 18-64 membutuhkan waktu tidur selama 7-9 jam dalam sehari. Tidur cukup dapat mengistirahatkan kembali tubuh dalam waktu yang sesuai untuk mengembalikan kondisi tubuh setelah melakukan kegiatan sehari-hari. Kurang tidur dapat memicu penyakit jantung.

Selain itu, penderita insomnia juga berisiko lebih tinggi menderita diabetes, obesitas, stroke, kanker, hingga masalah kesehatan mental seperti gangguan suasana hati dan kecemasan. Penelitian lain juga menunjukkan bahwa kualitas tidur yang kurang berpengaruh terhadap fungsi kognitif, salah satunya penurunan daya ingat (memori). Penurunan daya ingat tersebut dapat mengakibatkan permasalahan pada pemusatan perhatian dan penurunan efektivitas dalam pekerjaan dan pembelajaran yang mempengaruhi performa pekerja dan prestasi siswa atau mahasiswa di sekolah. 

***

Manusia secara fitrahnya menghabiskan total sepertiga dari kehidupannya untuk tidur. Masyarakat harus mengetahui dan memahami bahwa tidur sehat yang cukup dan berkualitas merupakan kebutuhan manusia. Namun, pentingnya tidur sehat masih belum menjadi isu yang menarik bagi masyarakat Indonesia. Di tempat umum misalnya, kita lebih sering menemui infografis dan plang mengenai bahaya merokok daripada mengenai bahaya kurang tidur. Tak berbeda jauh di media sosial, kita lebih sering menemui informasi mengenai isu mental health daripada isu tidur sehat. Informasi mengenai pentingnya kualitas tidur masih kalah dengan isu kesehatan lain.

Oleh karena itulah, diperlukan peningkatan pengetahuan masyarakat mengenai pentingnya tidur cukup dan dampak yang dialami apabila kekurangan tidur. Langkah strategis untuk meningkatkan gaya hidup sehat melalui tidur cukup dapat berasal dari lingkungan terkecil, yaitu keluarga. Orang tua dapat menerapkan jam malam yang harus ditaati seluruh anggota keluarga. Jika sudah melewati jam tersebut, anggota keluarga tidak boleh melakukan aktivitas lain selain istirahat.

Bahkan, dalam sebuah buku yang berjudul “Master Time, Master Your Live”, penulis memasang generator otomatis yang akan mematikan lampu, wifi, dan alat elektronik tertentu pada jam 10 malam. Hal ini mengharuskan diri untuk beristirahat dan membentuk gaya hidup sehat bagi seluruh anggota keluarga. Namun, untuk mewujudkan hal itu, anggota keluarga harus memiliki kesadaran mengenai pentingnya tidur sehat. 

***

Pemerintah hendaknya membuat kebijakan yang mendorong masyarakat untuk menerapkan gaya hidup sehat. Pemerintah dapat menyediakan informasi yang cukup dan menarik melalui progam-progam yang mendorong masyarakat menerapkan tidur sehat. Program tersebut hendaknya menyentuh seluruh aspek kehidupan masyarakat, seperti pendidikan, kesehatan, ekonomi, maupun sosial. Di bidang pendidikan misalnya, pemerintah hendaknya menghimbau penyelenggara pendidikan untuk meminimalisir kegiatan belajar mengajar di malam hari; kecuali untuk program pendidikan tertentu yang memang memfasilitasi kelas malam. 

Namun, siapapun diri kamu, kamu bisa menjadi pelopor tidur sehat untuk meningkatkan gaya hidup sehat masyarakat. Kita harus mulai kritis dengan isu ini dan mulai ikut serta mengajak masyarakat untuk memahami bahwa tidur sehat sangat penting untuk kesehatan fisik dan mental tubuh kita.

Bagikan
Exit mobile version