Site icon Inspirasi Muslimah

MengenalNya Lalu Merelakanmu

merelakannya

Azan

Mendengar atau membaca kata rela, saya jadi teringat dengan anak saya yang masih berumur satu tahun lebih terkena penyakit yang sangat parah. Pada awal kelahirannya si bayi memang menunjukkan tanda-tanda yang kurang normal. Dari badannya yang membiru dan nafasnya tidak teratur. Membuat saya panik dan bundanya juga merasa sedih melihat kondisi si bayi yang kami harapkan sehat dan baik-baik saja.

Saya sempat menggendongnya sebentar setelah mengazani bayi tersebut, melihat wajah polosnya yang masih memerah dan badannya begitu mungil. Membuat saya bersyukur akan kehadirannya karena dia adalah bayi laki-laki yang kami nantikan dan dambakan kelahirannya. Sesaat dokter menghampiri saya, secara perlahan dia berkata bahwa anak saya jantungnya kurang normal atau ada yang bocor beberapa milimeter. Dan kondisi tersebut bisa sembuh dengan cara pengobatan rutin dan perlakuan khusus. Dia berpesan agar kabar ini jangan saya sampaikan terlebih dahulu kepada istri. Karena akan berdampak kepada kondisinya. Karena pada saat ini kondisinya masih belum stabil.

Setelah kondisi istri sudah mulai normal saya memberi kabar tentang kondisi anak yang sebenarnya. Dia kaget dan tidak percaya, begitu sedih sampai wajahnya dibanjiri oleh air mata tiada henti. Hari demi hari kami lalui dengan merawatnya secara khusus. Minggu demi minggu kami membawanya untuk berobat ke dokter spesialis jantung anak. Bulan demi bulan si anak mengalami perubahan menuju sehat dan badannya mulai berisi dan sering tertawa.

***

Setelah enam bulan kami rutin kontrol ke dokter. Dokter menyatakan bahwa anak saya sembuh dari jantung bocor. Saya dan istri saling bertatapan terlihat matanya berkaca-kaca menggambarkan hatinya yang terharu dan bahagia. 

Mendengar kabar baik itu kami sangat bahagia dan mulai merawatnya seperti anak-anak normal pada umumnya. Kami mempersiapkan asupan yang terbaik untuknya. Tetapi ada satu persitiwa yang membuat saya dan istri sempat heran dan bingung. Di umurnya yang ke delapan bulan, si anak demam tinggi sehingga membuat tubuhnya hampir kejang. Saya cepat melarikannya ke rumah sakit sebelum kejang, dan saat tiba di rumah sakit si anak langsung ditangani oleh dokter dan diberi obat penurun panas.

Ketika diperiksa oleh dokter, dia didiagnosa mengalami penyakit ISPA (Infeksi Saluran Pernafasan Akut). Sempat dirawat di rumah sakit selama satu minggu dan sudah tidak pernah demam lagi. Suhu tubuhnya sudah stabil dan kami diperbolehkan pulang. Berjalan satu minggu si anak tetap mengalami demam tinggi sampai temperaturnya empat puluh derajat lebih. Kami memberinya obat penurun panas dan panasnya turun.

Semenjak peristiwa demam tinggi tersebut. Si anak sering sekali mengalami panas tinggi tanpa sebab. Antisipasi kami adalah hanya obat penurun panas, apabila dia demam kami memberikan obat tersebut. Dan kami sama sekali tidak mengetahui apa penyakit si anak sebenarnya sampai dia sering sekali demam.

***

Saya pernah mendapat masukan dari saudara saya untuk berobat ke Pineng Malaysia. Menurutnya berobat di sana lebih akurat dan langsung terditeksi penyakit-penyakit yang sebenarnya. Tanpa pikir panjang saya langsung mempersiapkan diri untuk berangkat ke Pineng bersama anak dan istri saya. Dengan harapan penyakit anak saya bisa diketahui dan diobati sehingga bisa sembuh dan keadaan bisa pulih kembali. Sesampainya di sana, dokter memeriksa anak saya dengan peralatan-peralatan yang menurut saya canggih. Hanya dalam tempo satu hari penyakit anak saya telah terditeksi dan tahu apa penyebab anak saya sering demam.

Keesokan harinya saya dan istri dipanggil oleh dokter untuk diberi tahu penyakit yang diderita oleh si anak. Dokter memberi tahu bahwasanya penyakit yang anak derita saya adalah penyakit yang cukup berat dan serius. Dokter menyarankan kami untuk segera pulang dan mengobati anak secepat mungkin di Indonesia, supaya cepat tertangani. Ternyata anak kami mengalami penyakit leukimia versi akut atau kanker darah.

Mendengar penyakit itu istri saya mukanya langsung pucat, bola matanya bergetar menandakan jauh di lubuk hatinya hancur. Ibarat kaca besar yang dilempar kuat oleh batu, pecah berkeping-keping beserakan. Yang tadinya kaki mampu menopang badan, sekarang sempoyongan dan hampir tumbang. Saya topang sekuat tenaga, pundak saya dibasahi oleh air matanya sambil saya nasehati tentang kesabaran.

***

Saya sebagai suami sekaligus sebagai ayah merasa sangat berat menanggung beban ini. Sempat kecawa kepada Tuhan kenapa di antara milyaran manusia harus saya yang mengalaminya.  Saya terus berpikir apa yang salah dengan diri saya. Dan pada situasi yang membuat saya sangat-sangat tersudutkan dan terpojokkan, saya sadar bahwasanya peristiwa ini di luar kemampuan saya.

Saya mengucap istighfar karena telah berburuk sangka kepadaNya. Saya mulai perlahan untuk mendekatiNya dengan membaca kalam-kalam suci Al-Qur’an dan membaca sabda Rasululloh Saw. melalui hadisnya. Setelah saya menelaah, saya mendapatkan kesimpulan. Ternyata Sang Maha Kuasa memberikan saya sepucuk surat cinta melalui musibah-musibah yang ada tepat di depan mata saya. Supaya saya lebih kuat dan tabah dalam mengarungi kehidupan di dunia ini. Bahwa kehidupan itu bukan hanya sekadar tentang kebahagiaan dan kesenangan, tetapi ada juga kepiluan dan kesedihan yang memang harus kami lewati dengan kesungguhan hati.

Mungkin selama ini amal kebaikan saya masih kurang dan dosa saya masih banyak. Jadi melalui perantara musibah tersebutlah menjadi ladang pahala bagi saya sekaligus menggugurkan dosa – dosa saya selama ini. Ternyata Tuhan sangat baik dan begitu baik. Sehingga saya merelakan anak saya yang telah tiada di umurnya satu tahun lebih dengan penyakitnya dan perjuangan kami sebagai ayah bundanya. Dan dari sabda Nabi Muhammad Saw. saya merasa terhibur karena anak – anak sebelum baligh yang telah dipanggil oleh Allah Swt. akan menunggu orang tuanya di pintu surga kelak.

Bagikan
Exit mobile version