Site icon Inspirasi Muslimah

Memaknai Hidup Bahagia dengan Tidak Bersaing

bahagia

Kita sering lupa memaknai hakikat hidup. Hakikat hidup, sepintas terasa mudah untuk kita ucapkan, tetapi besar maknanya dan sering kali tidak dapat orang lain pahami.

Selama kita berhubungan dengan orang lain, biasanya pembicaraan tidak lepas dari seputar anak, keluarga, pekerjaan, kecantikan kesehatan kekayaan sampai dengan ghibah; yaitu seputar fisik dan dunia. Hal itu cukup manusiawi, tetapi bukan berarti dapat menjadi jamak lumrah untuk dibudayakan.

“Mbak kok ga pernah hadir kalau pertemuan silaturahmi sekolah?” Tanya seorang ibu pada lawan bicaranya. Jawab ibu satunya, “Ah enggak, saya malu saya begini saja keadaannya, sedangkan teman-teman sekolah saya rata-rata sudah punya rumah 2, mobil banyak” jawabnya.

Sari, demikian ibu yang menjawab pertanyaan yang juga teman saya, memang jarang sekali tampak dalam kegiatan alumni sekolahnya. Ternyata hal itu yang menyebabkan dia hampir selalu absen setiap kegiatan (Di situlah kadang perlu bersikap masa bodoh untuk kebaikan, Mark Manson).

Di lain waktu, saya pernah menjumpai teman saya yang lain lagi, telah dengan sengaja mengundang keluarga suaminya hanya untuk membuktikan keberhasilannya. Dia berusaha mengundang keluarga melalui penyelenggaraan sebuah acara yang mestinya cukup alakadarnya, tetapi acara bak ubahnya sebuah resepsi besar yang menghabiskan anggaran.

Saya tahu teman saya sudah sukses dalam berkarir. Entah apa yang melatarbelakangi dia seperti itu, mungkin ingin melampiaskan tekanan masa lalu, penghinaan yang sudah pernah diterima, atau lainnya hanya dia dan Tuhan yang tahu.

Fenomenanya, seseorang yang dulu inferior, selalu direndahkan, ingin menunjukkan di hadapan orang-orang yang pernah merendahkannya atau dulu di atasnya: siapa yang berhasil dan siapa yang lebih rendah dalam hidup. Kurang elok memang, tetapi itu manusiawi (demikian alih-alih pembelaan orang mencoba untuk dimengerti)

***

Pernah suatu kali saya mengikuti sebuah kuis yang dari seorang wanita pebisnis muda yang sukses. Dia menghadiahi e-book yang sangat berarti menurut saya. Inti e-book tersebut jangan pelit berbagi ilmu pengetahuan, jangan kawatir karena rejeki sudah dibagi.

Mengapa koki tidak khawatir berbagi resep masakan? Karena walaupun resepnya sama tetapi diolah dari tangan yang berbeda  pasti akan menghasilkan cita rasa yang berbeda pula. Lain koki lain masakan.

Bukankah ilmu akan menjadi jariyah buat kita? Setiap orang lain yang mengamalkan apa yang kita ajarkan, maka setiap kebaikannya kita pun akan mendapat kebaikan itu pula. Jangan takut untuk berbagi, berbagi maka akan bertambah, demikian quotes teman saya yang masih saya ingat sampai dengan sekarang.

Barangkali selama ini ketakutan orang untuk berbagi adalah jika berbagi maka orang lain akan menjadi pintar dan hal itu berarti akan menambah saingan bagi kita. Forget it,  bukan trik yang sportif untuk menonjol. Ingat pesan uri-uri orang Jawa: “Menang tanpo ngasorake”. Menang tanpa merendahkan atau menjegal orang lain, bukan secara nggak hebat. Jangan menutup kesempatan orang lain. Kalau sudah rezeki tidak lari kemana.

Kita lupa bahwa hidup bukanlah sebuah perlombaan, hidup bukan sedang bersaing. Sebenarnya kita sedang menjalani kehidupan kita pada rel masing-masing dan dengan ujian masing-masing, dengan atau tidak kita sadari. Kadang kita lupa apa makna kita hidup? Untuk mengabdi kepada Tuhan, mengabdi pada negara dan masyarakat, dan orang sekitar kita, serta dapat berbahagia.

Di dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa sebaik-baik orang adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain. Orang yang paling berarti adalah orang yang bermanfaat bagi orang lain. Bukan terpaku karena banyak harta (Sugih tanpa Bandha – quotes Jawa).

***

Hal yang jelas di depan mata adalah korban pandemi Covid yang terdampak psikologinya. Ditinggal meninggal keluarga. Saya punya kerabat yang menjadi setress berat karena pasca Covid; dia takut jika meninggal anak-anaknya tidak ada yang merawat dan membesarkan.

Padahal jika kita percaya, setiap anak membawa rejeki dan semua adalah titipan Allah. Hanya kita sering lupa dan mengambil alih kepemilikan Tuhan tersebut; baik anak, rejeki maupun harta benda lainnya.  Ikhlas dan pasrah merupakan hal yang mudah diucapkan tetapi sulit untuk dilaksanakan.

Bahagia merupakan ukuran yang agak sulit diterapkan indikatornya. Padahal banyak yang dapat dilakukan dan seharusnya itu juga merupakan salah satu faktor penentu harga seseorang. Bahagia hanya kita yang dapat menentukan, bahagia itu sederhana atau mau memilih kaya tetapi tidak bahagia? Ini merupakan tantangan bagi orang jaman now, bagaimana memaknai hidup.

Sering kita iri dengan keberhasilan orang lain, iri yang baik, wajar tetapi bukan berarti menjadi pukulan bagi kita. Melihat orang lain sukses di usia yang relatif muda, memiliki pendidikan yang tinggi, memiliki harta, kedudukan serta komunitas elit yang dapat menerima keberadaannya itu adalah sesuatu.

Saya pernah berjumpa dengan seorang teman, dia berkata “sungguh salut padamu (berkata kepada teman saya yang lain), di usiamu yang masih sangat muda sudah dapat membangun klinik yang laris dengan mempekerjakan beberapa tenaga medis, paramedis dan petugas kesehatan yang lain.

Seharusnya seusiaku, aku sudah harus sepertimu mapan atau menjadi founder ini itu seperti kamu”,….Abaikan.. seperti ini sangatlah toxic bagi jiwa kita. Siapa yang mengharuskan? Siapa yang menilai siapa yang menguji. Hidup dan ujian tidak sama satu orang dengan orang yang lain. Sebenarnya kita tidak perlu heran tidak perlu minder, sepanjang kita dapat menikmati hidup berkah. Berkah bukan berarti mewah tetapi cukup.

***

Banyak yang bisa kita lakukan untuk bermanfaat bagi orang lain, berbagi ilmu, membantu donasi untuk yang ekstrim nya, atau kalau tidak mampu mengingatkan dalam kebaikan, kalau masih tidak berani mengajak senyum orang yang bertemu di jalan apalagi dengan teman atau saudara, berkata baik atau diam. Banyak sekali yang dapat kita lakukan tetapi kita lupa dan terhipnotis dengan aura duniawi yang digaungkan para sekuler di sekitar lingkungan.

Barangkali kita perlu sejenak berpikir dengan memaknai hidup, bersyukur masih bisa hidup lolos dari maut Covid -19 yang setiap saat dapat mencabut nyawa siapa saja, secara upredictable. Bahagia dengan  bersyukur menikmati kehidupan dengan cara kita masing-masing, tanpa harus menjadikan kehidupan sebagai ajang persaingan tetapi manusia untuk saling bermanfaat bagi sesama.

Kembali kepada fitrah kita sebagai manusia, tugas manusia sebagai khalifah Allah di muka bumi antara lain menyangkut tugas mewujudkan kemakmuran di muka bumi (Q.S. Hud : 61), serta mewujudkan keselamatan dan kebahagiaan hidup di muka bumi (Q.S. al-Maidah : 16), dengan cara beriman dan beramal saleh (Q.S. al-Ra’d : 29), bekerja­sama dalam menegakkan kebenaran dan bekerjasama dalam mene­gakkan kesabaran (Q.S. al-’Ashr : 1-3).

Bagikan
Exit mobile version