Site icon Inspirasi Muslimah

Memaknai Hari Pahlawan ala Perempuan Milenial

pahlawan perempuan milenial

Rahmania, kalau biasanya kita memaknai Hari Pahlawan dengan mendengarkan lagu-lagu kemerdekaan, membaca tokoh-tokoh perempuan inspiratif dengan beragam gagasan dan peranannya, menulis kontribusi dan kisah tokoh perempuan inspiratif masa kini, maka sekarang mari kita tingkatkan!

Tentu Rahmania menginginkan agar Rahmania bisa berperan seperti Nyi Ageng Serang, Vandana Shiva, Cut Nyak Dhien, Rasuna Said, Nyai Walidah dan banyak lagi. Namun perlu diketahui bahwa kita tidak bisa kita menyamakan aktivitas kehidupan perempuan di masa lalu ataupun sekarang dengan berbagai latar belakang kehidupan sosial yang berbeda. Sri Mulyani misalnya. Siapa sih yang tidak menginginkan dirinya berperan seperti Sri Mulyani yang mendunia? Dan kalau ada kesempatan, pasti kita sangat menginginkannya bukan?

Terlebih Rahmania mayoritas adalah generasi milenial yang secara kualitas dan kapabilitas sedang menuju kematangan diri. Maka mari kita maknai Hari Pahlawan ala perempuan milenial dengan cara baru yang bisa kita lakukan.

Pertama, bangun kesempatan bukan menunggu.

Kalau biasanya kita masih berangan-angan, maka saatnya sekarang kita bangun impian itu dengan merealisasikannya. Hal tersebut didukung oleh faktor manajemen diri dalam menyusun aktivitas kita sehari-hari. Tentukan tujuan, kemudian susun prioritas kegiatan yang sesuai dengan tujuan tersebut.

Perlu diketahui tidak ada seseorang yang kemudian menjadi tokoh, artis atau youtuber dengan pundi pundi yang didapatkannya dengan tanpa usaha. Sekalipun karena keturunan misalnya. Mereka tetap harus menjaga kesehatan, aktif mengupgrade bacaan, dan melakukan hal bermanfaat dan juga positif bagi masyarakat.

Misalnya kita ingin study aboard, maka kita harus membiasakan berkumpul dengan mereka yang sedang atau pernah menempuh studi ke luar negeri. Selain itu perlunya mempersiapkan kemampuan bahasa asing secara konsisten, minimal sejak dua tahun sebelum target tahun. Juga, memperkaya relasi pertemanan secara luas yang berjangka panjang, bukan berbasis keuntungan sementara.

Kedua, konsistensikan keinginan diri dengan kebutuhan zaman.

Ini yang disebut mampu membaca peluang kebutuhan perkembangan zaman. Misalnya saat ini di tengah maraknya informasi dan ancaman resesi global yang jangka panjang di berbagai negara. Kita bisa menyusun atau melakukan pembendaharaan keuangan keluarga dengan kemungkinan biaya hidup yang makin tinggi sewaktu-waktu, cermat dalam pemilihan pengeluaran yang tak sebanding pendapatan, juga memantaskan diri pada pekerjaan masa depan yang mudah kita dapatkan.

Dalam hal pekerjaan, kita mempersiapkan diri dengan menentukan pilihan pekerjaan yang dibutuhkan lima sampai dengan sepuluh tahun ke depan. Misalnya dengan menjadi spesialis artificial Intelegence, analis big data, digital content, digital marketing, dan lain-lain.

Kalau jurusan saya tidak mengarah kesitu bagaimana dong? Rahmania, perlu kita ketahui saat ini semua jurusan memiliki pengembangan keilmuan yang kompleks dan berbasis digital. Misalnya dalam konteks menajemen sumber daya manusia, beberapa penelitian membahas perihal gaya kerja modern untuk hybrid desk. Salah satunya dengan mekanisme pelayanan menggunakan pendekatan ‘newsboy’ misal. Atau secara harfiah mampu membangun pertanyaan kritis bagi pelanggan yang kemudian tetap solutif. Contoh ini boleh dilakukan oleh Customer Service pada pekerjaan digital marketing ya.

Ketiga, memiliki spirit dan optimisme yang konsisten.

Ini sangat sederhana, tetapi berkenaan dengan moral values dan pondasi beragama kita. Karena kesibukan yang tak terbendung misal, atau pengaruh dari toxic relationship di sekitar kita. Padahal kita bisa memilih untuk berteman dengan siapa, tidak sekedar bertahan dan berharap bisa mengubah lingkungan.

Kita bangun positive relationship yang saling mendorong juga perlu.  Tidak ada sifat atau karakter keterpaksaan. Perihal renungan “kok saya tidak menjadi diri sendiri sih?” itu hanya tentang habbit yang kita bangun. Kalau kita semangat, orang-orang yang berada di sekeliling kita juga semangat, sedangkan optimis membentuk pola berpikir yang positif. Sikap optimis inilah yang juga memunculkan banyak cara dalam memecahkan masalah dan membuat keputusan.

Keempat, berkarakter.

Dalam sebuah jurnal berjudul Human Nature, Organizational Politics, and Human Resource Development menyatakan bahwa sifat manusia itu terus berevolusi. Bagaimana kita menjadi tetap berkarakter di tengah keberubahan sifat manusia, yang kita juga berpotensi untuk berubah?

Maka tetaplah memilih untuk berkarakter positif dan baik dengan memperhatikan fokus diskursus kita. Misal kalau lokus studimu soal tafsir, maka buatlah kategori-kategori edukasi tafsir dengan penyampaian yang dekat dengan milenial, gunakan bahasa yang ringan agar dapat dipahami semua orang. Pun dalam merespon permasalahan dengan tidak membandingkan, tetapi memberikan analogi.

Kalau karakter milenial itu harus gimana sih? Milenial itu responsif, kekinian, berbahasa ringan tapi bersubstansi. Contohnya kalau kita biasanya fokus ke isu perempuan dan anak. Boleh nggak sih kita kontekstualisasikan ke isu politik? Tentu dong. Karena dengan begitu, kita turut mendorong konstalasi politik yang ramah perempuan dan anak.

Bagikan
Exit mobile version