Site icon Inspirasi Muslimah

Mana Lebih Penting, Raih Mimpi atau Ranking?

raih mimpi

“Bermimpi dan berdoalah karna Tuhan akan memeluk mimpi-mimpimu itu”- Andrea Hirata.

Sebuah quote indah dari buku karangan Andrea Hirata yang menjadi salah satu buku favorit saya, yaitu Laskar Pelangi. Buku yang bercerita tentang begitu pentingnya memiliki sebuah mimpi yang besar dan tinggi bagi seseorang. Mimpi dan cita-cita adalah sebuah hak mendasar bagi setiap orang. Masing-masing orang mempunyai hak untuk memiliki sebuah mimpi dan mewujudkannya dengan sepenuh hati. Kita pasti sudah sangat familiar juga dengan kata-kata bijak berikut ini. “Gantungkan cita-citamu setinggi langit” yang seringkali kita dengar sejak kecil dan hingga sekarang kita sampaikan juga kepada anak-anak kita.

Tapi tunggu, mimpi siapa dulu nih? Mimpi anak-anak kita atau mimpi kita sebagai orang tuanya? Karena ternyata, masih banyak lho, anak-anak yang tidak bisa mempunyai mimpi dan cita-citanya sendiri. Kok bisa? Jawabannya adalah karena kedua orang tua sudah menentukan mimpi bagi anak-anaknya; dengan dalih demi kebaikan dan masa depan si anak. Banyak sekali orang tua yang tidak menyadari hal tersebut, yang lebih menyedihkan lagi adalah orang tua lebih mementingkan prestise dirinya sendiri dalam menentukan mimpi dan cita-cita anaknya.

Mimpi Orang Tua vs Mimpi Anak

Bagi sebagian besar orang tua, mimpi atau cita-cita hanya melulu tentang sebuah profesi. Kita juga pasti sering mendengar kebanyakan orang tua yang berbicara kepada anak-anaknya “Sekolah yang pintar, kalau besar nanti jadi dokter”. Itulah faktanya, kebanyakan orang tua menganggap cita-cita adalah sebuah profesi atau pekerjaan; yang mana hanya profesi dan pekerjaan tertentu saja yang bisa menjanjikan masa depan yang cerah bagi anak-anak mereka.

Memang tidaklah salah, jika orang tua membantu mengarahkan si anak dalam merancang sebuah skema masa depan yang terbaik. Akan tetapi para orang tua juga harusnya mau berbesar hati mengakui bahwa yang orang tua kira baik belum tentu baik juga untuk si anak. Pernahkah para orang tua berpikir, apa sebenarnya yang menjadi impian si anak. Apa yang sesungguhnya ingin si anak lakukan nanti saat sudah dewasa; yang tentu saja sesuai dengan passion-nya. Mari kita tempatkan diri kita di posisi si anak, apakah kita bisa bahagia jika menjalani kehidupan dengan segala keterpaksaan? Tentu tidak nyaman bukan?

Para orang tua seakan berlomba-lomba agar anaknya mempunyai nilai rapor dengan angka-angka yang terbaik dan tentu saja, menjadi juara kelas alias ranking satu; yang mana akan menambah kebanggaan bagi orang tua. Orang tua memang seringkali lebih sibuk untuk memantau nilai-nilai akademis si anak, sibuk dengan kekhawatiran jika si anak tidak bisa meraih peringkat tertinggi di kelasnya. Namun, pernahkan orang tua sesekali memikirkan, apa sebenarnya yang menjadi minat utama dalam diri si anak?

Jangankan peduli dengan mimpi dan keinginan anak-anaknya, tanpa sadar justru seringkali orang tua yang akhirnya mengubur mimpi si anak. Contohnya, pada saat si anak berhasil mendapatkan nilai akademis yang bagus. Orang tua cenderung akan mengapresiasi, tetapi jarang sekali orang tua yang memberikan pujian saat si anak menunjukkan potensi dan bakatnya di bidang lain.

Orang Tua Menjadi Pendamping

Contoh lebih ekstrim, saat memasuki usia remaja; tak jarang orang tua meremehkan keinginan dan mimpi si anak jika hal itu tidak sesuai dengan keinginan dan harapan orang tua. Misalnya, seorang anak yang ingin serius meraih mimpi dalam bidang seni; kebanyakan hal tersebut dinilai hanya sekadar hobi saja, bukan sebuah mimpi untuk masa depan yang cerah dan menjanjikan. Padahal jika orang tua menghargai impian anak tersebut, mengarahkannya dengan baik, bahkan membantunya meraih mimpi tersebut, bisa saja hal tersebut menjadi jalan bagi si anak untuk meraih masa depan yang terbaik baginya.

Boleh dan sah-sah saja apabila sebagai orang tua, menginginkan anak-anaknya untuk mempunyai sebuah profesi tertentu saat mereka dewasa kelak, yang tentu saja tidak selalu buruk. Akan tetapi hal tersebut menjadi kurang bijaksana, jika pada akhirnya anak tersebut menjalani kehidupan yang sama sekali tidak mereka inginkan. Benarkah kita sebagai orang tuanya, bisa rela melihat anak kita tersebut menjalani kehidupan yang seperti itu, yakinkah mereka bisa bahagia dengan kehidupan yang seperti itu?

Peran orang tua dalam merancang masa depan si anak adalah sebagai pendamping, bukan penentu. Dengan bantuan guru di sekolah, sebaiknya orang tua mulai untuk menggali lebih dalam minat dan potensi terbesar dalam diri si anak. Nilai akademis memang penting, tapi potensi dalam diri seorang anak, tidak mutlak sekadar dari angka-angka rapor dan ranking saja.

Bayangkan jika kita sebagai orang tua yang menginginkan anak kita untuk menjadi seorang dokter, tetapi pada saat yang bersamaan kita juga memperhatikan minat, bakat dan potensi yang ada dalam diri anak kita tersebut. Jika misalnya ternyata si anak juga mempunyai minat dan potensi yang besar di bidang seni lukis misalnya, maka tidak ada salahnya jika kita tetap mengapresiasi hasil karya lukisnya, sambil tetap memberinya semangat untuk meraih prestasi akademis dan meraih cita-citanya sebagai seorang dokter. Siapa tahu kelak dia bisa menjadi seorang dokter yang pandai melukis, tidak ada salahnya bukan?

Jadi, sebagai orang tua sebaiknya kita tidak menentukan masa depan anak kita sendiri tanpa melibatkan mimpi dan potensi mereka. Kehidupan masa depan anak-anak kita nantinya yang akan menjalaninya adalah mereka sendiri, bukan kita. Pastikan mereka menjalaninya dengan sepenuh hati, meskipun kita sebagai orang tua pastinya menginginkan yang terbaik bagi mereka. 

Peran kita sebagai orang tua adalah membantu mereka untuk meraih mimpi mereka sendiri. Bukan memaksa mereka menjalani kehidupan yang kita rancang untuk mereka. Bagaimana, sudah siap menjadi orang tua yang lebih bijaksana dalam mendampingi putra dan putrinya meraih mimpi-mimpi dan masa depannya?

Editor : Wildan Assegaf

Bagikan
Exit mobile version