Site icon Inspirasi Muslimah

Lima Pesan Pengasuhan dari Drama Korea The World of Married

unfamiliar family

Oleh : Ria Oktorina

Drama Korea The World of Married atau juga berjudul Couple’s World menjadi pusat pembahasan banyak pihak di masa pandemi COVID-19 ini. Bagaimana tidak, selain dibuktikan oleh ratingnya yang sedemikian melesat sejak episode pertama tayang pada 28 Maret yang lalu, drama ini juga menjadi bahan pembicaraan terutama oleh banyak kaum perempuan dan menghiasi media sosial dengan segala jenis komentar netizen khususnya di Indonesia.

Sebagai penikmat drama korea yang memasuki dekade kedua tahun ini (saya menonton Drakor sejak tahun 2000), saya sudah menonton banyak drama korea dengan berbagai genre dan cerita yang beragam. Tema pernikahan dan perselingkuhan seperti yang disajikan  The World of Married bukanlah yang pertama. Namun ada banyak faktor yang menurut saya menjadikan drakor ini sedemikian ramai menjadi pembahasan.

Faktor utama barangkali karena bertepatan dengan masa pandemi COVID-19 yang menyebabkan lebih banyak orang berada di rumah, dan membutuhkan hiburan dan tontonan pengisi waktu. Maka banyak yang menjadikan drama ini direkomendasikan untuk ditonton, Sehingga tak ayal, mereka yang selama ini tidak menonton drama korea atau sudah lama tidak menikmatinya, menonton ini setelah menjadi perbincangan hangat, terutama kalangan perempuan dan ibu-ibu. Disamping itu, drama adaptasi dari serial Inggris berjudul Doctor Foster ini disajikan dengan gaya berbeda dalam frame budaya Asia (timur). Tentunya bersamaan dengan itu, adalah akting para pemerannya yang memang mumpuni dan dihiasi oleh selebriti papan atas di Korea Selatan.

Maka testimoni dari yang menyaksikan drama ini dengan emosionalnya, menunjukkan bahwa cerita yang yang diberikan sangat merasuki psikologis banyak penonton. Tak sedikit meme dan video parodi beredar di sosial media mengambarkan suasana dan kemarahan penonton di beberapa adegan penting sepanjang drama. Sungguh menarik untuk dibahas untuk sebuah ukuran drama  yang bahkan belum selesai ceritanya ditayangkan dan belum jelas ending-nya akan seperti apa.

Fakta bahwa drama ini bercerita tentang pernikahan dengan berbagai pelajaran yang bisa diambil di dalamnya, mungkin sudah dibahas oleh beberapa artikel. Namun, sebagai seorang ibu dan relawan di sebuah komunitas dukungan untuk orang tua, bagi saya sangat menarik untuk menelisik lebih jauh tentang pesan-pesan terkait pengasuhan yang disajikan drama ini, walaupun ini bukan drama yang banyak memperlihatkan intensitas hubungan anak dan orang tua seperti Drama Sky Castle. Namun, dengan  memahami bahwa ada nilai terkait pengasuhan  dan relasi dalam keluarga dengan keterlibatan anak di dalamnya, saya merasa sangat membantu untuk lebih minim emosi selama menonton drama ini. Berikut lima pesan yang bisa kita ambil terkait pengasuhan.

Pertama, pengasuhan masa lalu sangat mempengaruhi hubungan dalam keluarga. Saat menjadi orang tua, kita membawa banyak pengalaman sebagai anak. Kita jauh lebih lama merasakan menjadi anak dari pada menjadi orang tua. Apa yang kita lakukan saat ini dalam hubungan dengan pasangan dan anak adalah dampak dari pengasuhan di masa lalu. Di drama The World of Married  diceritakan di awal kalau  Ji Sun Woo adalah anak yatim piatu sejak muda dan menyaksikan sendiri orang tuanya kecelakaan. Belakang terkuak kalau ayahnya berselingkuh dan kemungkinan ibunya sengaja menyebabkan kecelakaan. Sedangkan sang suami, Lee Tae Oh, adalah seorang anak laki laki yang tumbuh tanpa ayah. Sebelum ibu Tae Oh meninggal, sebagai mertua dia sempat menyalahkan Sun Woo bahwa perselingkuhan anaknya terjadi karena sejak kecil dia kekurangan kasih sayang dan terjebak dalam pernikahan di mana istrinya Sun Woo terlalu perfeksionis. Kedua orang yang menjadi pasangan suami istri ini mebawa pengalaman masa lalu masing-masing saat mereka berkeluarga. Pengasuhan masa lalu ini mempengaruhi banyak hal relasi keluarga termasuk dalam pengasuhan untuk anak mereka, misalnya dalam penerapan pola disiplin dan pola komunikasi yang berbeda. Dalam hubungan keluarga, hal terpenting adalah menyadari bahwa setiap kita membawa pengalaman masa lalu yang berbeda sebagai anak, dan perlu membicarakan kesepakatan bersama dengan pola baru yang ada dengan diri kita hari ini saat memulai pernikahan dan saat menjadi orang tua.

Kedua, pentingnya manajemen waktu sebagai orang tua. Dalam keluarga, setiap pihak menjalanan peran yang beragam, tidak hanya sebagai orang tua baik ayah atau ibu, tetapi kita juga adalah anak, istri, suami, pekerja dan juga tetangga dan anggota masyarakat. Sebagai istri dan ibu, Ji Sun Woo juga menjalani peran sebagai pekerja dengan karir yang cukup gemilang menjadi Wakil Direktur Rumah Sakit di Kota Gosan. Untuk peran ini dia memang sangat bekerja keras sehingga sebagian besar waktunya dihabiskan untuk pekerjaan ini. Tidak ada yang salah dengan wanita pekerja yang memiliki karir gemilang, karena ibu yang tidak berkarir pun bisa jadi mengalami masalah juga dalam mengelola waktu. Hanya saja, kelemahan Sun Woo adalah dalam mengatur waktunya bersama anak. Itulah yang menyebabkan di beberapa episode pertengahan terlihat keberpihakan si anak Joon Young kepada Bapaknya padahal tahu bahwa si Bapak Lee Tae Oh sudah melakukan kesalahan. Karena dia merasa ibunya tidak pernah hadir dan memberikan perhatian dan waktu selama ini untuk dirinya tumbuh. Dari sini kita bisa mengambil pelajaran bahwa mengelola waktu dengan baik salah satu kunci menunjukan komitmen dalam hubungan keluarga. Faktor penting yang dapat membantu adalah dengan sensitif terhadap  kebutuhan anak, misalnya saat anak menunjukan komunikasi dan respon yang terasa berbeda, atau tiba tiba kita memikirkan anak di satu kesempatan yang tak biasa, sesungguhnya itu adalah  alarm dari anak yang harus segera kita respon agar bunyinya tidak mati tanpa ada aksi. Faktor lainnya adalah dengan sensitif pada kebutuhan diri kita sendiri sebagai orang tua, jika lelah mendera dan berpengaruh tidak hanya pada fisik juga emosi kita, pastikan kita membacanya bahwa itu pertanda harus istirahat. Atau saat butuh bantuan, tak ada salahnya kita mencari teman untuk sekedar bercerita, keberadaan support group sesama orang tua menjadi penting agar tidak merasa sendirian seperti Sun Woo.  Sehingga saat kita merespon anak dan pasangan dalam hubungan keluarga, jauh lebih mudah karena kebutuhan kita sendiri sudah terpenuhi, dan manajemen waktu akan lebih mudah dilakukan.

Ketiga, memahami kualitas dan kuantitas hubungan dalam keluarga. Salah satu adegan pasca perceraian Sun Woo dan Tae Oh, Sun Woo bersama anaknya Joon Young menghabiskan sore dengan minum teh. Namun sayangnya  sang anak sibuk dengan gawai dan Sun Woo juga sibuk sendiri memandang sekitar. Jadi, saat bersama anaknya, si Ibu tidak hadir sepenuh hati dan sepenuh tubuh, walaupun secara kuantitas waktu sudah dialokasikan. Penting memahami bahwa kualitas hubungan keluarga yang baik tidak akan terwujud tanpa ada kuantitas yang cukup yang diciptakan melalui interaksi dalam keluarga. Interaksi dimaksud bukan hanya sama-sama hadir secara fisik  di ruangan yang sama, tetapi ada interaksi dan bahkan mungkin humor yang perlu dibangun melalui kegiatan asyik main bersama.

Keempat, perlunya pola komunikasi efektif dengan anak dan pasangan. Pada salah satu adegan, Joon Young memprotes ibunya yang selalu sibuk dengan karirnya dan tidak mengerti sedikitpun keinginannya. Sang ibu menjelaskan bahwa kesibukannya selama ini demi masa depan si anak, tetapi sayangnya sang anak tidak membaca niat baik si ibu. Begitulah, benar adanya anak mencontoh dan merekam dengan baik semua tindakan orang tua, namun mereka adalah interpreter yang buruk. Anak  tidak bisa menerjemahkan niat baik orang tua jika tidak dijelaskan. Misalnya sehari-hari banyak orang tua yang bilang bahwa mereka marah pada anak mereka karena sayang, padahal anak hanya akan mencontoh bahwa orang tuanya akan merespon dengan marah atau emosi negatif lain terhadap suatu hal yang anak lakukan, dia tidak akan bisa menerjemahkan itu menjadi rasa sayang lho. Jadi marah ke anak ga efektif sama sekali. Nah, di adegan lain di saat akhirnya Lee Tae Oh ketahuan berselingkuh, terjadi perdebatan hebat antara Ji Sun Woo dan sang suami, dan keduanya saling mengalahkan. Mereka menggunakan komunikasi You-Message yang meyalahkan penerima pesan/lawan bicara yang secara teori memang akan berakhir defensif, bahkan pertengkaran. Dalam hubungan keluarga, teknik komunikasi yang sebaiknya dipraktekkan adalah I-Message, yakni mengungkapkan kebutuhan diri tanpa saling menyerang. Dengan I-Message, respon seperti baper atau kesal akan kecil kemungkinan terjadi . Coba praktekan dengan pasangan dan anak, lebih efektif mana saat bilang “Kamu sih main hape nya kelamaan, makanya dibilangin dari tadi berhenti gak mau mau” (You Message), atau diganti jadi “aku merasa sedih deh kalau kamu megang hape terus, aku ingin kamu batasi waktunya supaya bisa fokus dan ga terlalu lelah dengan hape” (I-Message).

Kelima, penerapan disiplin positif dan kemandirian anak. Di episode 7 setelah 2 tahun perceraian kedua orang tuanya, Joon Young diundang sang ayah ke pesta kembalinya sang ayah dan keluarga barunya ke Kota Gosan. Awalnya Joon Yoong ragu untuk ikut, namun ayahnya mengiming-iminginya dengan peluang bertemu atlit baseball idolanya di pesta sang ayah. Joon Yoong pun akhirnya berangkat diam-diam tanpa sepengetahuan sang ibu. Pada adegan ini kita bisa belajar, bahwa sang ayah telah memberikan contoh buruk dengan memberikan hadiah/sogokan/iming-iming untuk anaknya agar patuh dan menuruti keianginan sang ayah. Hal ini adalah contoh upaya penerapan pola disiplin yang tidak baik, di mana anak dijanjikan sesuatu untuk mengontrol dan memanipulasi pilihannya. Hal ini tidak akan efektif untuk menumbuhkan kemandirian anak dalam jangka panjang. Sebaliknya, orang tua sebaiknya menerapkan disiplin positif dimana salah satunya adalah berupa dukungan yang menumbuhkan kesadaran dan motivasi internal, dan bukan karena ganjaran iming-iming sementara. Percaya gak sih, memberikan iming-iming dan sogokan pada anak ini justru berakibat buruk sampai di masa depannya. Gak heran kalau perilaku korupsi merajalela di Indonesia, bisa jadi berawal dari pola pengasuhan di rumah yang suka memberi hadiah dalam membuat anak patuh? Catat ya, tentu tidak ada yang salah memberikan barang pada anak, namun seharusnya dilakukan tidak untuk niat memanipulasi keadaan atau saat anak sukses saja semisal ketika menjadi juara. Sedianya  hadiah adalah dalam bentuk dukungan yang harusnya diberikan kapan saja bisa secara spontan sebagai ekspresi perasaan orang tua, dan diberikan di berbagai situasi termasuk saat anak dalam kesulitan.

Demikianlah, lima pesan pengasuhan yang dapat saya ambil dari sepanjang sepuluh episode drama korea The World of Married yang sudah tayang saat ini. Masih ada enam episode tersisa dan mungkin ada pesan-pesan lain yang tersurat ataupun tersirat yang bisa kita ambil sebagai orang tua. Dengan memandang drama ini dari perspektif pengasuhan, saya merasa lebih minim emosi dalam menontonnya dan menjadikan ini pengalaman dan pelajaran penting dalam hubungan keluarga.

.

*) Ria Oktorina adalah seorang ASN, Penikmat Drama Korea, Ibu 1 Anak dan Relawan Keluarga Kita (Rangkul) Padang.

Bagikan
Exit mobile version