Pagi yang indah, bagaskara kembali menyapa semesta dengan kehangatannya. Di atas pohon tetangga, burung prenjak asyik bersiul dan bermain kejar-kejaran. Aku terhibur, menatap mereka dari jendela kamar. Seutas senyum kulempar, sambil mengusap layar handphone kesayangan.
Sebuah notifikasi masuk tanpa kuundang. “Sis, abaikan saja suaraku. Sumpah, aku sekarang di ruang isolasi. Covid-19 itu ada! Corona itu nyata. Dan, aku dipilih untuk berjuang. Jaga kesehatan, dan jangan lagi bertanya kenapa!”
Pesan kubaca berulang, lagi dan lagi. “Ayuk…” Suaraku melengking, menghebohkan seisi rumah. Suamiku mendekat dengan tergesa, disusul kedua bocahku sambil berlari kecil.
“Ayuk, positif Covid-19.” Kataku pada suami sambil menyerahkan handphoneku padanya. “Astagfirullah,” ucap suamiku lirih dilanjut untaian do’a keselamatan untuk Ayuk dan kami semua.
“Kemarin, pak RT meyakini Covid-19 ini dipolitisasi. Ayah, speachless. Memilih diam, ketimbang memicu keributan.” Kutatap wajah suamiku yang terlihat kecewa. “Hari ini, tetangga kita yang bekerja sebagai tenaga medis di puskesmas juga menunjukkan hasil swab positif.” Lanjutnya, sambil menyeruput lemon tea hangat.
Aku dan suami tinggal di sebuah tempat yang cukup padat penduduk. Kampung kami berbatas tipis dengan desa wisata yang selalu ramai oleh pengunjung. Para pegunjung gila tanah yang telah disulap menjadi gerabah.
*
Sebelum pandemi Covid-19 melanda, melihat sosok bule merupakan hal biasa. Termasuk wajah China, Korea, Jepang dan lainnya. Hanya saja, saat seperti ini turis luar sangat sepi, berganti turis domestik yang mendominasi.
Seolah tiada takut, mereka datang berbondong datang dan menawar barang. Bahkan ada yang sekedar iseng bertandang. Tanpa masker, berhimpitan, dan entah, apakah mereka juga cuci tangan. Nyata yang kulihat penampilan mereka mirip orang berpendidikan. Jadi, rasanya tidak mungkin mereka tidak tahu aturan protokol kesehatan di masa adaptasi kebiasaan baru.
Dan, ketika pagi menyapa, warung aneka jajanan pasar yang berada di tepi jalan desa wisata kami selalu ramai oleh pembeli. Lagi-lagi, mereka berhimpitan, sebagian memakai masker dengan benar, sebagian lagi tanpa masker, sisanya masker hanya digunakan sebagai pajangan.
Tangan-tangan pelanggan bergantian menyentuh makanan yang dijajakan, mereka memilih dan menimang. Jika tidak disuka, makanan itu akan kembali pada tempatnya semula. Secara kasat mata tidak ada yang berubah. Hingga makanan itu akan dijamah tangan polos pelanggan yang lain beberapa kali, hingga entah siapa yang kemudian meminangnya.
*
Rasanya belum muncul rasa legowo, kala mata menatap sebagian manusia ciptaan Tuhan yang apatis terhadap aturan new normal berkeliaran di pertokoan gerabah dan pusat jualan jajanan pasar, hatiku tambah nyesek dan kecewa. Pasalnya, mata ini sudah lagi melihat banyak kelompok gowes yang betebaran di mana-mana. Kelompok yang kembali bergairah ketika adaptasi kebiasaan baru diterapkan. Namun yang sangat disayangkan, lagi-lagi protap kesehatan tidak diterapkan.
Tidak jarang, kelompok ini ikut nimbrung menyesaki area jajanan pasar yang disajikan. Mereka memilih dengan tangan tanpa perantara jenis-jenis makanan yang diinginkan, persis seperti yang dilakukan oleh pembeli pada umumnya. Bagi mata dan hatiku, perilaku mereka terlihat ngeri-ngeri sedap.
Tidakkah terpikir oleh mereka soal sanitasi dan higienitas produk yang dijajakan? Tidakkah ada rasa kuatir di hati mereka, akan penularan Covid-19 yang angkanya terus bertambah setiap harinya?
Sejak itu, aku memilih menepi dan belum pernah kembali hingga saat ini. Pikiranku sudah terlalu jauh mendahului, menerka kemungkinan pajanan virus yang tidak mudah diamati. Bukan takut, tapi aku memilih berhati-hati.
*
Mungkin, kalimat ini seolah mendiskriditkan ahli gowes, para penjual gerabah dan jajanan pasar yang telah menjamur di mana-mana. Bahkan, jual beli yang telah dimulai jauh sebelum pandemi Covid-19 ini melanda. Namun, kekhawatiran kami tentu ada alasannya.
Pertama tentang gerabah. Benda antik yang terbuat dari tanah liat. Calon pembeli melihat, menjamah, lalu memilih, kemudian baru membeli. Sebagai raja, calon pembeli berhak memeriksa setiap barang yang diinginkan. Dengan tangan telanjang, dan masker yang terpasang asal. Sesekali tangan mereka menyetuh gerabah, lalu beralih mengusap wajah atau masker yang asal dikenakan. Disini, bisa menjadi pintu penularan.
Kedua, jajanan pasar. Tidak jauh berbeda dengan gerabah. Belum tentu pelanggan membayar apa yang sudah dipengang. Tidak sedikit pula yang akan menaruh kembali makanan yang sebelumnya sudah di tangan. Masih mending, makanan terbungkus plastik kemasan. Bagaimana dengan makanan yang disajikan dalam keadaan telanjang?
Pastinya, makanan yang telanjang itu bakal dijamah oleh tangan-tangan tak taat aturan. Pembeli tidak menggunakan masker dengan benar dan tidak juga mencuci tangan. Belum lagi, ketika pembeli mengatakan kata yang memungkinkan semburan ludahnya keluar. Secara tak sengaja ludah yang entah sudah terinfeksi Covid-19 atau tidak itu bakalan nempel rapat kayak perangko di setiap makanan yang dijual. Tentunya, keadaan ini memberikan jalan yang lebih mulus bagi virus untuk menginfeksi tubuh.
Ketiga, berkaitan dengan kelompok gowes. Tidak jauh berbeda dengan kedua alasan yang sudah saya jelaskan. Ketidakpatuhan mereka pada protokol kesehatan, bisa menjadi bumerang bagi banyak orang. Alih-alih olah raga ingin sehat, sikap mereka justru bisa menjadi perantara penyebaran Covid-19 lebih luar lagi.
*
“Kata pak RT enggak apa-apa kok. Ndak usah dipikirin, entar malah stres. Kalau stres, malah mudah ketularan. Wes, dilakoni biasa wae. Pokoknya gowes!” Jawab tetanggaku, saat kutanya kenapa tetap gowes di tengah pandemi.
Lha dalah. Ambyar kabeh ‘kan kalau gini?
Rakyat yang terlalu taat, atau pemimpin yang terlalu semangat?
Saya mengerti, tidak ada makhluk di muka bumi yang mau menjamin nafkah kami di tengah pandemi. Kami sadari, jual beli menjadi pilihan paling mungkin untuk terus memutar roda ekonomi. Kami pahami, diamnya kami di rumah saja tidak menjamin kesehatan jasmani dan ruhani.
Oleh sebab itu, kami butuh satu komando tanpa cacat makna? Setidaknya untuk aturan pandemi yang terus menggerus ketenangan warga. Apalagi di tengah isu konspirasi yang berhasil memecah belah pikiran rakyat jelata. Isu yang berhasil menghadirkan kegamangan, hingga lahirlah kaum ‘ngeyelan’.
Mengingat grafik pertumbuhan penderita Covid-19 terus meningkat di kabupaten tempat kami tinggal, dan sekarang orang dekat kami menjadi korban. Tentu kami geram, terlihat konyol dan menggemaskan. Tapi kami urungkan, bakal sampai kapan?
Bahkan, hingga hari ini. Wisatawan terus berdatangan, satu dua kali mata ini sudah mulai melihat lagi wajah-wajah asing non pribumi keluar masuk toko gerabah tanpa masker di wajah.
Pelaku jajanan pasar dan warung makan dipinggir jalan pun banyak yang mulai kembali digelar terang-terangan tanpa mengindahkan protokol kesehatan. Memang disediakan pencuci tangan, namun di sini masker tetap hanya menjadi pajangan. Begitu pula para pecinta gowes, semakin banyak yang mengayuh, semakin banyak yang jauh dari kata taat.
Apakah ini termasuk dalam aturan adaptasi kebiasaan baru? Kurasa, bukan!
