Di setiap pondok pesantren, karamah dan kealiman Kiai pengasuh akan jadi bahan pembicaraan para santri. Tak terkcuali, di pesantren tempat saya belajar, Ponpes As Salafi Al Fithrah, Kedinding, Surabaya. Kiai Asrori al Ishaqy, pendiri dan pengasuh Al Fithrah, selalu ada hal menarik tentangnya yang jadi bahan pembicaraan para santri.
Kiai Asrori, putra Kiai Utsman al Ishaqy (pendiri dan pengasuh Ponpes Raudhatul Muta’alimin, Jatipurwo, Surabaya) hanya mengenyam pendidikan sampai kelas 2 SD. Beberapa pesantren pernah disinggahinya, dengan durasi yang singkat. Sekedar ngalap berkah, kata santri-santri yang lebih lama mondok.
Walaupun demikian, setiap Kiai Utsman berhalangan mengajar, Kiai Asrori sering diminta untuk menggantikannya. Ia akan mengambil kitab yang diampu ayahnya, kemudian mengajar begitu saja, tanpa muthola’ah terlebih dulu. Ilmu yang Kiai dapat itu laduni, kata pencerita.
Keren. Begitu yang terlintas di kepala saya, pada sosok yang sudah sering saya ikuti pengajiannya sejak saya duduk di kelas 4 MI. Saya sendiri baru berkesempatan mondok di Al Fithrah selepas SMA. Setahun kemudian Kiai kapundut.
***
Setahun setelah Kiai kapundut saya naik dari kelas Isti’dad Jami’ah ke Ma’had ‘Aly. Di kelas itu, saya diajar oleh asatidz sepuh. Sebagian dari mereka adalah alumni pondok barat (sebutan santri Al Fithrah untuk pondok Raudhatul Muta’alimin) sebagian lagi masyhur kedekatannya dengan Kiai. Dari mereka saya tahu, Kiai Asrori ternyata pecandu baca.
Ust. Wahdi Alawi – alumi pondok barat – pernah bercerita bahwa di tahun 2007 ketika Kiai sakit, ia pernah ditimbali ke ndalem. Kiai sedang membaca kitab dengan telapak kaki direndam di baskom. Saya lupa kalimat pasti yang diterima Ust. Wahdi dari Kiai. Seingat saya Kiai menyayangkan orang-orang yang diberi nikmat sehat tapi malas membaca dan belajar.
Selama di pondok baratpun, ketika berada di kamarnya hanya dua aktifitas Kiai Asrori yang sering dijumpai oleh Ust. Zainul Arif, khadamnya. Kalau tidak sedang beribadah ya belajar.
Kebiasaan belajar Kiai Asrori ini juga diceritakan oleh adik dari Ust. Zainul Arif, Ust. Khoiruddin. Dalam sekali kesempatan membaca, Kiai Asrori akan membuka sedikitnya lima litab. Saking kuat hafalannya, ia bahkan tahu berapa lembar dari kitab itu yang tertiup angin dari halaman yang sedang ia baca.
Soal hafalan Kiai Asrori, saya teringat cerita Gus Reza di sebuah pengajian. Gus Reza adalah putra Kiai Imam Mahrus dan Nyai Zakia al Ishaqy, adik dari Kiai Asrori. Masa kecil Gus Reza sering bermain ke ndalem dan berdialog dengan Kiai.
***
Dalam suatu kesempatan Gus Reza menyingguh soal santri Al Fithrah yang durasi waktu ubudiyah dan wadhifahnya terkesan lebih panjang dari waktu belajarnya. Gus Reza kecil mengusulkan agar para santri juga diperhatikan masalah keilmuannya.
Menanggapi usul itu, Kiai Asrori menanyakan sebuah hal pada Gus Reza. Dasar keponakanya menyatukan klan Ishaqy dan Mahrus, ia menjawab pertanyaan itu dengan tidak hanya satu jawaban dan rujukan. Namun, jawaban-jawaban yang sudah dilandaskan pada rujukan yang agak banyak itu dinyatakan kurang tepat oleh Kiai.
Kiai lalu menyuruh Gus reza untuk mengambil sebuah kitab di perpustakaan pribadinya. Kiai menunjuk sebuah rak, saf, nama kitab, jilid, halaman dan baris. Sedetail itu beliau hafal kitab-kitab yang sudah dibaca dan tertata rapi di perpustakaan pribadinya.
Kebiasaan membaca Kiai juga pernah dikisahkah oleh putra Kiai Juwaini (Ponpes. Al Hidayah, Tertek, Kediri) pada tim penyusun biografi Kiai. Sewaktu mengaji kitab Ihya’ pada Kiai Juwaini, Kiai punya kebiasaan membawa bantal ketika ngaji.
Hanya saja, menurut putra Kiai Juwaini, Kiai Asrori jarang tidur malam. Selain beribadah, ia juga muthola’ah kitab Ihya’ yang sudah dan akan dikaji.
Kitab Ihya’ Kiai Asrori kini sedang diproses digitalisasi. Saya berkesempatan melihat Ihya’ Juz 1 milik Kiai yang sudah selesai. Selain makna, Kiai juga menuliskan keterangan di kitab itu dengan rapi, lengkap dengan tanggal kapan halaman itu sedang dikaji.
Saya berasumsi, dipagi hari selama di Kiai Juwaini, Kiai Asrori hanya memastikan apa yang ditulisnya telah sesuai dengan keterangan gurunya. Sekali lagi itu hanya asumsi saya.
***
Kiai Asrori juga menulis. Sebagai Musrsid Thariqah Qadiriyah wa Naqsabandiyah al Utsmaniyah, ia punya banyak karya. Al Muntakhobat fi Robithotil Qalbiyah wa Shillatir Ruhiyah, kitab yang ia selesaikan sebelum meninggal. Kitab tasawuf yang asalnya dua juz ini, kemudian ia jadikan 5 juz, dengan referensi yang banyak sekali.
Mengingat daya baca Kiai Asrori yang luar biasa, tentu bisa dibayangkan betapa melimpah ruahnya pengetahuan seputar tasawuf yang ia tulis dalam kitab ini.
Cerita tentang muthola’ah Kiai Asrori tak lantas menggugurkan keyakinan saya, bahwa Kiai juga mendapat ilmu laduni sebagaimana lumrahnya diyakini banyak santri Al Fithrah. Cerita itu malah menjadi motivasi tersendiri bagi saya, untuk tidak berhenti membaca, untuk tidak berhenti belajar.
Bagaimana tidak? Lah Kiai saya yang saya yakini dianugerahi laduni itu saja masih membaca dan belajar, lah saya yang mondok sering tidur di kelas kok ya megaya mau cul-culan.
Surabaya, 10 November 2020
Pengajar di MDT Al Fithrah Surabaya
