Cerita pahlawan super atau superhero tidak lepas dari kisah-kisah Batman, Spider-Man, Superman, Hulk, Captain America atau Wonder Woman. Apalagi karakter superhero di Marvel dan DC. Film-film superhero yang bersumber dari buku komik mereka sangat spektakuler bukan? Kebetulan adik saya penggemar genre film sci-fi dan fantasy action terutama dari Marvel. Banyak sekali koleksi merchandise atau sebut saja barang-barang lucu dari tokoh-tokoh yang saya sebut tadi. Namun, ada yang aneh dan baru saya sadari. Saya liat lagi karakter superhero favoritnya. Atau mungkin cuman perasaan saya saja ya? Kurang puas, saya pun search di internet biar rasa penasaran ini segera terjawab.
Coba kalian sebut siapa saja karakter superhero perempuan di Marvel atau DC? Kalian sadar tidak bahwa karakter superhero perempuan ternyata lebih sedikit dibandingkan dengan karakter superhero laki-laki. Zaman sekarang mungkin semua orang sudah tahu para karakter superhero terkenal dari Marvel dan DC, mulai dari penyihir sampai superhero di buku komik. Namun, rasanya kita lebih jarang melihat superhero perempuan dibanding laki-laki. Mengapa jumlah karakter superhero perempuan lebih sedikit dibanding karakter superhero laki-laki?
Sejak zaman dulu perempuan dan laki-laki mempunyai keseharian yang sangat berbeda, seolah-olah mereka hidup di dunia yang berbeda. Dulu laki-laki bisa jalan-jalan ke mana saja. Sedangkan perempuan hanya boleh di rumah dan tugas utamanya bersih-bersih, memasak, dan menjaga anak. Superhero digambarkan sebagai seorang laki-laki yang, sebab dianggap sebagai tokoh yang kuat melawan penjahat. Persepsi tersebut tidak selaras dengan citra wanita di zaman tersebut.
Selain itu, para pekerja di industri komik superhero ternyata masih didominasi laki-laki. Berdasarkan data dari zippia.com—Comic Book Writer Demographics and Statistics in the US— 39,4% penulis buku komik adalah perempuan dan 60,6% penulis buku komik adalah laki-laki. Sedangkan 30,2% seniman buku komik adalah perempuan dan 69,8% seniman buku komik adalah laki-laki. Oleh sebab itulah dari puluhan ribu pahlawan super cuman seperempat atau 25% saja yang berasal dari perempuan.
Marvel dan DC menjadi pusat industri buku komik di Amerika Serikat, bahkan karya-karyanya mendunia di berbagai belahan dunia. Saat ini, Marvel dan DC menghasilkan berbagai film yang terkenal, merchandise yang laris manis, serial TV yang penuh drama, dan video game online yang populer. Semakin sering kita melihat karakter-karakter tersebut muncul dalam budaya pop, semakin penting pula representasi superhero laki-laki. Oleh karena itu, superhero perempuan merupakan bagian yang sangat kecil dari keseluruhan buku komik.
Carolyn Cocca, akademisi dan penulis buku yang dinominasikan oleh Eisner, “Superwomen: Gender, Power, and Representation”, mengungkapkan dengan jelas kenapa hal itu bisa jadi perhatian penting. Ia menulis: “Jika cerita yang terus diulang-ulang adalah perempuan dan anak perempuan bukanlah pemimpin, tidak bekerja di lingkungan profesional, bukan agen dari kehidupan mereka sendiri, melainkan hanya sebagai pembantu orang lain, dan terkadang bahkan tidak ada sama sekali, maka hal ini dapat memperkuat atau mendorong masyarakat untuk meremehkan perempuan dan anak perempuan. Oleh karena jumlah karakter perempuan lebih sedikit, masing-masing dibebani untuk mewakili perempuan sebagai sebuah kelompok.”
Sejujurnya, masalah ini tidak hanya terjadi di industri komik saja. Media secara umum—termasuk literatur anak-anak, kartun, permainan komputer, dan bahkan buku mewarnai—punya sejarah representasi perempuan yang buruk dan ketidakseimbangan gender. Sering kali media merefleksikan dunia kita kembali kepada kita, meskipun hanya 27% dari karakter Marvel dan DC adalah perempuan.
Namun apa alasan tersebut masih tidak cukup? Sebenarnya ketika sudah menjadi superhero pun keahlian para perempuan tangguh ini sering kali tidak ditonjolkan. Sayangnya lebih fokus dengan fisik sampai penampilan mereka. Kekuatan mereka masih dikaitkan dengan persepsi umum masyarakat untuk para perempuan. Contohnya lebih berhubungan dengan mental dan paras, bukan ke kekuatan fisik yang identik dengan superhero.
Karakter perempuan di media populer bisa mendorong gerakan perubahan, seperti karakter Dana Scully di The Fox science-fiction, supernatural television series The X-Files pada tahun 1964.Sifat Dana sangat berbeda dari karakter perempuan lain pada masa itu, karena karakter Dana jadi semakin banyak perempuan tertarik terjun ke karir-karir yang didominasi oleh laki-laki. Berdasarkan data yang dikumpulkan J. Walter Thompson, ternyata kebanyakan perempuan yang menonton Dana Scully menjadi lebih terinspirasi. Mereka menyadari bahwa betapa pentingnya peran STEM (Science, Technology, Engineering and Math) di kehidupan dan ingin bekerja di bidang STEM. Beberapa juga menunjukkan bahwa mereka ingin anaknya kelak bekerja di bidang STEM. Bahkan saking spektakulernya fenomena ini sampai mempunyai nama sendiri, “The Scully Effect”.
Selain itu, penelitian yang berjudul “Super Powering Girls” oleh BBC America and Women’s Media Center mengatakan bahwa representasi karakter superhero perempuan di layar kaca dapat membantu menutup kesenjangan kepercayaan diri anak perempuan dan memungkinkan mereka untuk melihat diri mereka sendiri sebagai pemimpin dan pahlawan.
Jadi dengan lebih banyak karakter perempuan di media informasi ini, kebanyakan populasi perempuan di dunia bisa lebih percaya diri dengan kemampuan mereka sendiri. Lapangan kerja bisa menjadi lebih merata penyebarannya, contohnya di bidang penegakan hukum yang masih didominasi oleh laki-laki. Sebenarnya pekerjaan lain yang umum dikerjakan oleh laki-laki seperti politikus, polisi, CEO, dan insinyur masih sedikit perempuannya. Mather dan peneliti lainnya dari University of Southern California melakukan penelitian dan hasilnya perempuan lebih tenang dalam keadaan ekstrem/penuh tekanan dibandingkan laki-laki. Jadi, dapat dibuktikan bahwa perempuan itu mampu bekerja di lapangan kerja yang umumnya didominasi oleh laki-laki.
Itulah beberapa alasan mengapa karakter superhero kebanyakan didominasi oleh laki-laki. Dari pemaparan di atas juga dapat disimpulkan bahwa media mempunyai pengaruh yang besar pada persepsi gender sekarang ini, bahkan hingga hal sepele seperti karakter superhero. Baik laki-laki maupun perempuan berhak mendapatkan hak dan kebebasan yang setara. Para Srikandi Indonesia jangan lupa terus berkarya dan berinovasi!
Lahir pada 2 Oktober 2004, aku adalah peminat setia grunge music. Meski kerap dianggap sebagai seorang yang cerdas dan rangking 1 terus, sebenarnya, segala prestasi yang aku raih adalah hasil dari usaha keras yang tak pernah berhenti. Instagram : @najwanrwa Twitter : @JHenistuse.
