Seorang teman baik saat kuliah meninggal dunia karena diabetes. Pertama kali mengetahuinya saat saya membaca status wasap seorang teman yang kebetulan saya simpan nomor kontaknya. Setelah itu, beberapa teman juga kemudian berbaik hati secara pribadi mengirim pesan pemberitahuan tersebut. Kata mereka, detail info tersebut telah dishare di grup alumni angkatan, tetapi karena saya tidak ikut dalam grup, otomatis tidak mengetahui info tersebut.
Ya, saya tidak banyak memiliki grup entah itu di wasap ataupun telegram. Bukan tidak ingin bersosialisasi, hanya saja gawai yang saya miliki saat ini tidak bisa menampung banyak data karena kapastitas penyimpanan datanya tidak besar. Untuk menjaga agar ponsel stabil dan tidak lemot, akhirnya saya memutuskan untuk hanya menyimpan segala yang terkait dengan kegiatan harian, anak-anak, keluarga inti dan pekerjaan. Sebagai akibatnya, saya terpaksa mengesampingkan beberapa hal yang lain, termasuk tidak mengikuti grup-grup alumni sekolah.
Beberapa teman juga sering berkomentar tentang kudetnya saya akan beberapa info yang sedang menjadi topik hangat perbincangan. Lagi-lagi, saya memang hanya menyimpan aplikasi-aplikasi yang saya saya anggap penting, sehingga tidak semua aplikasi media social saya simpan. Ditambah lagi saya seringkali lalai melanjutkan hal-hal penting yang seharusnya segera dikerjakan hanya karena mampir sebentar ke facebook atau Instagram. Banyak waktu tersita hanya gara-gara asyik berhaha-hihi di social media.
Akhirnya saya memutuskan untuk mengurangi resiko terkontaminasi dengan cara mengurangi interaksi dengan dunia maya, seskipun pada akhirnya saya harus menerima akibatnya yaitu banyak berita serta hal-hal baru yang seringkali terlewat dan baru saya ketahui setelah menjadi berita basi. Ha ha.
***
Saya lebih suka menghindari hal-hal yang sekiranya nanti akan menjadi batu sandungan dalam langkah atau keputusan yang saja jalankan. Halah bu, mikirnya kejauhan. Kita memang tidak akan pernah tahu apa yang akan kita hadapi di masa depan, jadi mempersiapkan dan mengantisipasi segala kemungkinan, boleh dong. Kalau bisa mengurangi atau bahkan menghindari resiko, mengapa tidak?
Saya ingat sekali pernah ada seorang tentor yang mulai sering ‘menawar’ jadwal kelas yang saya sodorkan. Misalnya, jadwal yang saya berikan adalah mengajar kelas delapan pukul 15.30. “Maaf bu Dinul. Saya ada acara di jam segitu. Kalau diundur jam 5 bisa apa tidak”, balasnya di wasap. Sekali dua kali, mungkin memang ada acara. Tetapi kejadian ini mulai sering terjadi dalam beberapa bulan.
Pada awalnya saya memilih untuk berpikir positif. Mungkin dia memang ada hal yang sangat mendesak untuk dikerjakan. Tetapi kemudian karena kejadian ini berlangsung cukup lama, dan cukup mengganggu stabilitas penjadwalan di bimbel, saya memutuskan untuk memangkas berbagai macam kemungkinan, selain juga untuk menghindari kemungkinan rasa jengkel yang mungkin akan terus saya rasakan jika hal ini berlarut-larut. Takutnya, rasa jengkel yang berlarut-larut akan menyebabkan saya sakit hati.
“Kemungkinan besar saya akan memberikan penjadwalan penuh untuk kelas-kelasmu. Jadi kira-kira hari apa dan jam berapa saja pastinya kamu bisa mengajar?”, akhirnya saya memutuskan bertanya untuk memastikan.
“Saya kok belum pasti ya bu. Karena ada jadwal lain di luar bimbel yang sering tak pasti juga kegiatannya”. Saya biarkan dia bercerita panjang lebar sampai akhirnya terkuaklah penyebab seringnya dia mangkir jadwal mengajar. Tenyata jadwal kegiatan mahasiswa kampus yang diikutinya seringkali berubah, sehingga sering bertabrakan dengan jadwal mengajarnya.
***
Kemudian saya memintanya untuk mengambil keputusan. Tetap mengajar di bimbel saya dengan konsekuensi harus hadir sesuai jadwal yang saya berikan, atau menyelesaikan tanggung jawab di tempat lain tersebut dengan konsekuensi berhenti mengajar di bimbel saya ini.
Sebenarnya hak penuh untuk saya langsung memutuskan hubungan kerja. Akan tetapi saya memahami dilema yang dia alami. Saya mengajak dia untuk berpikir, bahwa mengerjakan dua hal sekaligus dalam waktu yang sama akan sangat berdampak pada kinerja dan hasil kerja. Jadi, akan selalu ada hal yang dikorbankan ketika memilih suatu hal.
Seringkali kita tidak memikirkan dampak dari apa yang kita lakukan. Beberapa dari kita bahkan berpendapat bahwa terlalu banyak berpikir akhirnya menimbulkan banyak pertimbangan, malah memperlambat kinerja. Beberapa komentar yang sering terlontar adalah, jalani aja dulu, ntar dipikir sambil jalan, ntar pasti ketemu caranya.
Tak ada salahnya bertindak secara spontan, tetapi akan lebih baik jika yang spontan tersebut juga diiringi dengan pertimbangan logika yang matang untuk meminimalkan risiko dan kerugian. Banyak dari kita yang mengambil keputusan sesaat, tanpa memikirkan hal-hal sulit yang mungkin akan dihadapi saat menjalankan keputusan tersebut, pada akhirnya harus kerja keras untuk mengatasi risiko dan akibat yang terkadang malah lebih parah dari yang diperkirakan.
Ibu rumah tangga dan pemilik Bimbel Pintar
