Kamis, 21 April 2022 yang lalu, saya sempat melihat-lihat status medsos kawan-kawan dunia maya. Jari jemari saya berhenti pada akun-akun yang memasang foto dan video anak-anak perempuan mereka dengan berbagai model baju kebaya.
Rerata pihak sekolah yang memang menginisiasi kewajiban mengenakan baju kebaya untuk para muridnya, bahkan melombakannya di tanggal istimewa tersebut. Mengapa istimewa? Tentu saja karena 21 April merupakan Hari Kartini–yang diperingati setiap tahunnya di Indonesia.
Sementara anak perempuan saya–saat ini duduk di kelas dua SDIT–tidak terlihat sibuk mematut-matut diri dengan baju kebayanya pada 21 April tersebut. Saya pun bertanya ke istri,” Kok, si Kakak nggak pakai baju kebaya, Mah?” Memangnya sekolahnya nggak mewajibkan?”
“Oh, gini, Pah. Kebetulan sekolahnya Kakak ada penutupan sanlat juga,” jawab istri saya. “Hmm, baiklah kalau begitu,” tutur saya. “Mungkin beda sekolah beda kebijakan,” sambung istri saya.
***
Rahmania, sepertinya sudah menjadi ritual tanggal 21 April setiap tahunnya–kecuali mungkin saat pandemi, rerata sekolah di Indonesia menyelenggarakan parade dan lomba-lomba model kebaya, terutama sekolah TK dan SD. Saya pikir mungkin merujuk foto Kartini yang memang memakai baju kebaya khas perempuan Jawa, jadinya muncul lomba berbaju kebaya ini. Seru-seru saja sih, namanya juga anak-anak pasti senang dan gembira.
Namun demikian, mari kita bertanya pada diri sendiri. Mengapa hanya Kartini yang diperingati dan diakui secara nasional dengan tanggal khusus 21 April? Padahal banyak pahlawan nasional wanita Indonesia seperti Laksamana Keumalahayati, Rangkayo Rasuna Said, Martha Christina Tiahahu, Cut Nyak Dien, Dewi Sartika, Nyi Ageng Serang, Cut Nyak Meutia, dan lain-lain.
Apa sesungguhnya yang menjadi kontribusi terbesar Kartini untuk negara dan bangsa Indonesia? Diskusi dan dialektika di atas sering muncul dan cukup hangat setiap tahunnya. Entah itu di grup-grup whatsapp atau di jagad medsos.
***
Sebagaimana kita ketahui, Kartini yang lahir pada 21 April 1879, adalah seorang anak yang sayang kepada bapaknya hingga patuh dan ikhlas menjadi istri Bupati Rembang Raden Adipati Joyodiningrat. Kartini juga dikenal adalah sosok ibu rumah tangga yang taat kepada sang suami.
Tanpa mengabaikan kodratnya tersebut, Kartini terus belajar dan mempunyai banyak kolega perempuan-perempuan Eropa. Paradigma berfikir perempuan Eropa telah mempengaruhi pola pikir Kartini. Ia pun mempunyai semangat memajukan perempuan Indonesia. Ia berjuang agar status sosial perempuan pribumi agar setara dengan kaum laki-laki kala itu.
Kartini menuliskan apa yang ia pikirkan berwujud surat-surat kepada kolega-koleganya. Kumpulan tulisan Kartini yang berwujud surat-surat kepada koleganya di Eropa, telah dibukukan pertama kali tahun 1911 oleh salah satu koleganya, JH Abendanon dengan judul ‘Door Duisternis Tot Licht’ atau kalau dalam bahasa Indonesinya adalah ‘Habis Gelap Terbitlah Terang.’
Nah, di sinilah saya pikir kunci mengapa Kartini istimewa. Kuncinya adalah Kartini menulis. Karena kata Pramoedya Ananta Toer, “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.”
***
Dalam buku Habis Gelap Terbitlah Terang terdapat 106 surat Kartini kepada para sahabatnya (Rachmania, 2022 dalam grid.id). Di antara surat-surat tersebut ditujukan untuk: Estelle H Zeehandelaar atau Stella (14 surat), Prof. dr. GK Anton di Jena dan istrinya (3 surat), Ny. Ovink-Soer (8 surat), Dr. N. Andriani (4 surat), Ir. HH van Kol (3 surat), Ny. HG de Booy-Boisevain (5 surat), Ny. N van Kol (3 surat), Mr. JH Abendanon (5 surat), Ny. RM. Abendanon-Mandiri (49 surat), dan EC Abendanon (6 surat).
Dalam salah satu suratnya kepada Nyonya Abendanon pada 21 Januari 1901, ia menyatakan betapa penting peran perempuan dalam memajukan peradaban dan moralitas manusia. Kartini menyatakan bahwa perempuan merupakan Soko Guru Peradaban, artinya melalui didikan perempuan, anak-anak menerima pendidikan pertama, belajar merasakan, belajar berpikir, dan belajar berkata-kata. (Yuwanto, 2014 dalam ubaya. ac. id).
Meski Kartini wafat di usia sangat muda, 25 tahun, pada 17 September 1904, namun berkat jejak rekamnya yang telah dibukukan tersebut, ia disebut sebagai pahlawan emansipasi wanita dan juga menjadi pahlawan kemerdekaan nasional melalui Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 108 Tahun 1964 yang dikeluarkan pada 2 Mei 1964. Meski Kartini telah tiada, namun namanya selalu abadi.
***
Maka menulislah Rahmania seperti Kartini atau Pramoedya agar nama kita abadi. Bahkan dalam Al-Qur’an nama perempuan menjadi nama surat. Tercatat surat An-Nisa yang bermakna perempuan, surat Maryam, surat Al-Mumtahanah, yakni perempuan yang teruji, dan surat Al-Mujadilah, yakni perempuan yang mengajukan gugatan.
Begitu pula Nabi Muhammad Saw. sangat memperhatikan dan menuliskan perempuan dalam hadits-hadisnya. Salah satunya adalah yang diriwayatkan Imam Muslim, “Barang siapa yang menanggung biaya tiga anak perempuan, mengajarkannya adab, menikahkannya dan berbuat baik kepada mereka maka baginya surga.”
Ayo Rahmania, guratlah jejak kalian di dunia, mewujud dalam tulisan yang bermanfaat agar namamu tercatat dalam artefak peradaban. Dibaca dan dikenang, menjadi amal jariyah berupa ilmu yang bermanfaat.
Seorang Pranata Humas & Penulis, tinggal di Cibinong
