Site icon Inspirasi Muslimah

Kaluna dan Kehidupan Ekonomi Kelas Menengah

kaluna

Berbicara mengenai kehidupan, siapa yang tidak mendambakan hidup sejahtera dengan berbagai kebutuhan sandang, pangan dan papan yang sudah tercukupi? Pastinya menjadi impian bersama untuk menciptakan kehidupan yang layak. Syukur-syukur bisa membahagiakan kedua orang tuanya, memberikan apa yang pantas didapatkan di masa tua mereka.

Mungkin bagi segelintir orang, yang telah diwariskan berbagai kebutuhan yang cukup atau bahkan lebih, setidaknya tidak dipusingkan dengan pemenuhan kebutuhan sandang, pangan, dan papan karena mereka hanya tinggal mempertahankan atau meningkatkan standarisasi hidup mereka saja.

Berbeda cerita dengan Kaluna dalam Film Home Sweet Loan atau bahkan dengan kita yang hidup dalam ekonomi kelas menengah yang harus bersusah payah untuk meningkatkan taraf hidup layak. Seminimal mungkin sudah tidak kepoyongan perihal sandang, pangan dan papan lah. Meskipun digempur dengan harga kebutuhan pokok yang semakin meningkat setiap tahunnya.

Film garapan Visinema yang diangkat dari novel berjudul Home Sweet Loan karya Almari Bastani ini menggemparkan media sosial karena cerita yang diangkat sesuai dengan realitas masyarakat kelas menengah di Indonesia yang mendambakan rumah di tengah gempuran permasalahan internal dan eksternal yang ada pada dirinya, menjadikannya sebagai tulang punggung keluarga.

Kaluna dan Sandwich Generation

Dalam film Home Sweet Loan dengan Kaluna sebagai tokoh utama banyak menyisir realitas kehidupan kelas menengah sebagai Sandwich Generation yang mendambakan memiliki rumah impannya sendiri.

Berbagai cara dilakukan mulai dari meminimalisir pengeluaran pribadi hingga memperbanyak tabungan untuk merealisasikan impiannya. Namun siapa duga, hasil jerih payahnya bekerja keras dan menabung tak luput dari tanggugannya terhadap keluarga yang harus Ia penuhi. Seperti daging yang dihimpit oleh dua roti, olehnya menjadi penopang ekonomi keluarga dengan gaji yang alakadarnya.

Kerja paruh waktu ditengah jeda pekerjaan utamanya Ia tempuh untuk mencukupi kehidupan, persis beberapa orang yang memiliki ekonomi kelas menengah. Bermimpi pun perlu tahu diri acapkali menjadi afirmasi tentang bagaimana ngerinya Sandwich Generation menjalani kehidupan untuk orang-orang perkotaan. Namun sepertinya kisah ini tidak hanya relate pada orang-orang yang hidup dalam perkotaan. Lebih kepada orang-orang yang bukan penikmat harta benda orang tua.

Ya, Kaluna adalah kita, yang digempur dengan berbagai lonjakan harga berbagai sektor. Tak terkecuali rumah hunian, pangan dan sandang yang menjadi kebutuhan pokok manusia. Sayangnya lonjakan tersebut tidak diimbangi dengan naiknya angka pendapatan. Permasalahan eksternal seperti keluarga pun kerap membanjiri pikiran, menjadi salah satu sumber keuangan yang paling diandalkan adalah beban terbesar. Jika ditolaknya keadaan tersebut, acapkali kata “anak durhaka” akan didengarnya. 

Kelas Menengah Dambakan Rumah Hunian

Rumah, seringkali menjadi impian masyarakat diberbagai kalangan, karena rumah menjadi kebutuhan papan yang menjadi wajib terpenuhi. Namun, tidak sedikit mereka yang berada di ekonomi kelas menengah hanya dapat gigit jari. Jangankan membeli rumah, dapat membeli makanan untuk keberlangsungan hari esok saja sepertinya masih sangat kesulitan. Oleh karenanya tak jarang masyarakat kelas menengah hanya dapat menyewa rumah untuk dijadikan hunian. Meskipun apabila diakumulasikan harga sewa rumah setiap tahun yang meningkat, dapat dibelikan sebidang rumah, lantas nanti tinggal dimana ?

Teringat perkataan Eric Thohir yang menyalahkan gaya hidup generasi muda menjadi penyebab sulitnya mereka membeli rumah dan dimintanya untuk berhemat. “Apa lagi yang perlu dihemat dari hidup yang pas-pasan Pak? Gaji 1.5-2 juta untuk berbelanja kebutuhan pangan, belum pajak-pajak yang harus dibayarkan ke pemerintah, listrik, transportasi kerja, air, iuran sampah, kemananan lingkungan dan keluarga, Apa yang perlu Kita hemat lagi Pak ?” Mungkin perkataan seperti itu yang akan didengar Eric Thohir ke depan nanti. Lucu memang, fokus menyalahkan masyarakat hingga lupa bahwa sebetulnya mereka yang tengah duduk di kursi jabatan memiliki andil besar terciptanya fenomena tersebut.

Sejalan dengan itu, film Home Sweet Loan telah memberi banyak gambaran bagaimana realitas masyarakat kelas menengah yang dambakan rumah hunian. Acapkali pengehematan dilakukan hingga memforsir diri untuk bekerja sampai lupa waktu, menjadi manusia robot, hingga lupa bahwa dirinya manusia. Mungkin Eric Fromm akan tertawa melihat kita. Melihat bagaimana nasib hidup susah di negara yang bergelimang sumber daya dengan berbagai tekanan kehidupan, negara pun tak luput ikut menekan dengan kenaikan pajak dan berbagai regulasi kebijakan yang dibuatnya.

Meski demikian, dengan berbagai intrik Kaluna dalam film Home Sweet Loan dan realitas masyarakat kelas menengah dengan berbagai himpitan perekonomian yang ada. Film tersebut memberikan semangat baru untuk terus berjuang menggapai apa yang kita inginkan. Tak terkecuali bagi mereka yang berada di kelas menengah untuk terus memberikan afirmasi positif terhadap segala pencapaian yang telah dilakukan khususnya terhadap diri sendiri.

Karena kita berhak memperjuangkan hidup layak yang kita inginkan. Meski bukan seorang penikmat harta orang tua, alih-alih, Sandwich Generation, namun hidup bahagia harus tetap ada, karena negara tidak akan mampu menjamin penuh kehidupan yang tengah kita jalankan. Maka berbahagia ditengah berbagai permasalahan, tiada salahnya kan ?

Bagikan
Exit mobile version